Inilah Negeri Penuh Maksiyat Diazab Gempa, Tetapi Banyak yang Tidak Mau Sadar

Syabab.Com – Gempa kembali mengguncang, setelah beberapa waktu lalu, di bulan Ramadhan, menggoyang Jawa Barat, kini gempa melanda Sumatera Barat, Rabu, 01/10/09. Berbagai bencana yang melanda negeri ini mulai dari tsunami, kebakaran, banjir, hingga gempa sudah semestinya menjadikan pelajaran bagi umat manusia untuk segera bertobat dan kembali kepada pangkuan perintah Allah Swt., Rabb Penguasa Jagat Raya. Bisa jadi, gempa ini ujian bagi orang beriman atau azab bagi mereka yang kafir.

Azab Allah Swt. memang layak bagi sebuah negeri yang membangkang dan berpaling dari-Nya. Namun, tak sedikit diantara mereka yang tidak mau mengambil pelajaran. Para ahli dengan congkaknya hanya mengatakan, “ini hanya tragedi alam”. Para selebritis dan artis tidak mau menghentikan kemaksiyatannya. Para politisi busuk tetap berpangku pada aturan kufur. Inilah negeri yang penuh dengan kemaksiyatan. Memang sangat ironis, di negeri yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, kemaksiyatan merajalela. Mulai dari perzinahan, pembunuhan, tindakan kriminal hingga pencampakkan aturan Al-Quran, serta penginjak-injakan perintah Tuhan.

Baru-baru ini saja, selepas Ramadhan kemarin, kemaksiyatan terjadi di mana-mana. Di Lamongan, atas nama merayakan lebaran, digelar konser dangdut full maksiyat di salah satu tempat wisata. Para wanita lacur berlenggak-lenggok mengumbar aurat, sementara para penonton campur baur laki-laki perempuan, hingga terjadilah tawuran antar penonton. Demikian pula di beberapa kota lainnya, konser penuh maksiyat digelar, baik yang terekspos oleh media atau pun yang tidak. Inilah negeri yang penuh maksiyat.

Hari Raya Idul Fitri yang semestinya menjadi titik awal kembali kepada fitrah untuk menggapai ketaqwaan selepas Ramadhan, tetapi tidak bagi sebagian umat manusia di negeri ini. Hari Raya telah berubah menjadi ajang maksiyat dengan menggelar pesta rusak di beberapa tempat. Di bulan suci Ramadhan sekalipun, kemaksiyatan telah difasilitasi oleh media yang disponsori para kapitalis yang diteruskan ke rumah-rumah. Acara-acara tak mendidik hanya untuk kepentingan para kapitalist tersebut masuk ke rumah-rumah. Para wanitanya mengumbar aurat. Ditambah juga fitnah terhadap Islam melalui isu terorisme yang digelorakan.

Dalam tatanan sosial, perzinahan merebak di negeri ini. Hal-hal yang mendekatkan kepada perzinahan terus digembar-gemborkan melalui media termasuk di dunia maya. Berbagai situs porno dan perzinahan baik melalui situs tersendiri maupun yang diselipkan ke dalam situs media nasional merebak. Bahkan dengan congkaknya para pelaku yang ingin generasi negeri ini hancur, semakin berani untuk menyebarkan hal-hal yang bertentangan syari’i tersebut. Penguasa yang semestinya menjaga akidah umatnya malah membiarkan perusakkan generasi melalui dunia maya tersebut. Tak ada satu pun tindakan tegas aparat untuk menutup atau memblokir situs-situs maksiyat yang bebas di negeri ini. Berbeda halnya ketika aparat menanggapi isu “terorisme” yang pesanan asing yang terus memfitnah Islam tersebut, pihak aparat sangat gesit. Tetapi mengapa mereka diam terhadap para penjahat yang nyata-nyata telah merusak generasi di negeri ini.

Dalam tatanan ekonomi, praktek-praktek ribawi mendominasi perekomian di negeri ini. Padahal riba telah nyata dilarang oleh Allah Swt. Demikian pula dalam tataran pendidikan, kurikulum pendidikan sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan telah dipaksakan. Porsi pelajaran agama hanya dua jam, sementara materi-materi yang bukan berasal dari Islam diberikan. Hasilnya, muncullah generasi-generasi sekular.

Dalam tatanan politik, bermunculan para politis busuk yang tidak mau menerapkan aturan dari Pencipta-Nya. Para politisi tersebut tanpa rasa malu membuat undang-undang buatan manusia yang lemah dan terbatas itu. Bahkan tak sedikit diantara mereka, baik para politisi maupun aktivis LSM dan para komprador yang telah dibayar asing, meneruskan pesanan asing yang menyengsarakan rakyatnya. Mereka berpaling dari perintah Allah untuk menerapkan aturan syariat yang berasal dari-Nya. Demokrasi dan kebebasan telah menjadi kebanggan, sementara perintah Allah Swt. disingkirkan. Sekali lagi inilah negeri yang penuh dengan maksiyat.

Semua ini berpangkal dari pandangan sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan yang telah dipaksakan di negeri ini. Akidah sekularisme telah menjadikan kaum Muslim memandang Islam sebatas ritual, sementara aspek kehidupan sosial kemasyarakatan dan negara harus terpisah dari agama. Akibatnya Islam yang berasalahl dari Sang Pencipta manusia, dicampakkan dan diinjak-injak. Bahkan, para komprador seolah tidak akan mati, terus menerus mencampakkan aturan Al-Quran dan memberikan solusi-solusi rusak pesanan asing. Padahal, semua manusia akan mati. Setelah mati, urusan manusia belum selesai. Ada masanya di akhirat kelak, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya di dunia apakah sesuai dengan perintah Allah Swt., atau malah sebaliknya. Tempat pulang manusia hanya dua, kalau tidak ke surga ya neraka.

Pantas bila negeri ini terus menerus dilanda bencana, ketika masyarakatnya sudah angkuh dan congkak terhadap perintah Tuhannya. Beberapa tahun lalu, tsunami yang melanda Aceh telah menewaskan ratusan ribu orang. Hanya sayang, sesudahnya malah kemaksiyatan semakin merajalela di negeri ini, terorganisir bahkan dilegalkan.

Sudah selayaknya kita mengambil pelajaran atas segala bencana yang menimpa negeri ini. Allah Swt. telah memberikan peringatan kepada umat manusia agar mereka menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sudah saatnya kaum Muslim melaksanakan syariat Islam secara kaffah atau menyeluruh baik dalam tananan individu ataupun sosial kemasyarakatan, termasuk negara. Syariat Islam tersebut hanya dapat diterapkan secara sempurna di bawah naungan Khilafah Rasyidah.

Beberapa kaum terdahulu telah diberikan azab oleh Allah Swt. berupa gempa karena mereka mengingkari nabi dan berlaku angkuh terhadap perintah Allah Swt. Semestinya ini dijadikan pelajaran bagi manusia. Apakah kita ingin termasuk kaum yang diazab-Nya?

“Maka mereka mendustakan Syu`aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.” (TQS. Al-Ankabut: 37)

“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (TQS. Al-Araf: 77-78)

Bagi mereka yang beriman, tentu saja gempa ini merupakan musibah untuk menguji keimanan. Semoga Allah Swt. memberikan kesabaran dan ketabahan kepada kaum mukminin yang terkena musibah gempa tersebut, amin ya robbal’alamin.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. (TQS. Al-Baqarah: 155-156) [opini/m.hassan/syabab.com]

4 responses to “Inilah Negeri Penuh Maksiyat Diazab Gempa, Tetapi Banyak yang Tidak Mau Sadar

  1. Jakarta lebih maksiat dari Padang, kenapa bukan Jakarta,Las Vegas,Macao dll yg jauh lebih maksiat yang dirobohkan ?…….kenapa ?.
    Belum saatnya kali …………..
    Mudah mudahan tidak terjadi, amiiiiin.

    • Seorang mukmin harus menyakini, bahwa seluruh musibah yang menimpa dirinya berasal dari Allah SWT. Sebab, tidak ada satupun musibah yang terjadi di muka bumi ini, kecuali atas Kehendak dan Ijin Allah SWT. Akan tetapi, seorang mukmin juga wajib mengimani adanya musibah-musibah yang disebabkan karena kemaksiyatan yang dilakukan oleh manusia.
      Sesungguhnya, musibah maupun ‘adzab yang ditimpakan Allah SWT kepada manusia ditujukan agar mereka kembali mentauhidkan Allah SWT, dan menjalankan seluruh syariatNya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sayangnya, banyak orang memandang musibah sebagai peristiwa dan fenomena alam biasa, bukan sebagai peringatan dan pelajaran dari Allah SWT. Akibatnya, mereka tetap tidak mau berbenah dan memperbaiki diri. Mereka tetap melakukan kemaksiyatan dan menyia-nyiakan syariat Allah SWT. Mereka lebih percaya kepada kekuatan ilmu dan teknologi bikinan manusia untuk menangkal bencana dan musibah, dari pada Kekuatan dan Kekuasaan Allah SWT. Adanya musibah tidak justru menjadikan mereka rendah diri dan bersandar kepada Allah, namun justru menyeret mereka untuk semakin ingkar kepada Allah SWT.
      Benar, salah satu bentuk pembenahan diri adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menangkal bencana dan musibah dengan berbagai sarana dan prasarana; misalnya; merancang master planning yang komprehensif, membangun sistem drainase yang baik, mendirikan tembok dan bendungan beton yang kokoh, dan lain sebagainya. Namun, pembenahan harusnya tidak hanya berhenti pada aspek-aspek fisik seperti ini saja, akan tetapi harus mencakup pula pembenahan spritual yang mampu mengantarkan kepada ketaqwaan yang hakiki; yakni mentauhidkan Allah SWT dan menjalankan seluruh syariatNya. Sebab, penyebab utama datangnya ‘adzab adalah kemaksiyatan, bukan semata-mata karena lemah maupun kurangnya sarana dan prasarana fisik. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

  2. Musibah harus disikapi secara bijaksana saya tidak setuju kalau negeri kita Indonesia tercinta ini penuh maksiat masih banyak orang yangt baik dan taqwa, ada 3 hal untuk menilai suatu musibah, pertama sebagai azab, kedua sebagai peringatan dan ketiga sebagai ujian bagi orang -orang yang beriman. tinggal individunya yang harus mengoreksi diri, saya diazab, diperingatkan atau diuji, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung. Amin.

  3. coba kita renungkan :
    gempa padang terjadi jam 17.16 baca surah 17 ayat 16, gempa susulan jam 17.38 lihat surah 17 ayat 38 skala gempa 7,6 SR lihat surah 7 ayat 6..
    gempa jambi jam 8.52 lihat surah 8 ayat 52

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s