Obyek Khithab asy Syari’

Khithab asy Syari’ (seruan Allah SWT – syariat Islam), memberikan beban hukum kepada manusia yang terbagi ke dalam tiga kelompok.

1.      Individu.

Setiap individu Muslim yang sudah akil baligh, berakal dan mampu secara otomatis mendapat beban hukum dari Allah SWT. Setiap ucapan dan perbuatannya memiliki konsekuensi hukum, tidak ada satu pun yang terlewatkan. Syariat Islam yang mengatur kehidupan individu ini meliputi, antara lain : akidah, ibadah mahdoh (ritual) seperti sholat, puasa, haji, zakat, baca al qur’an, doa, dll, kepribadian yaitu pola pikir dan pola sikap (akhlak), pakaian dan makanan.

2.      Kelompok/Jama’ah

Hukum yang dibebankan kepada kelompok/jama’ah adalah amar ma’ruf nahi munkar atau dakwah. Allah SWT berfirman :

dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada al khoir (Islam), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS. al Maidah : 104)

3.      Negara

Hukum-hukum yang dibebankan kepada negara meliputi, antara lain : hudud, jinayat, ‘uqubat, ta’zir, hukum-hukum yang berkaitan dengan ekonomi (iqtishadi), pemerintahan (hukmi), hubungan luar negeri, militer, perang, peradilan, pendidikan, dll.

dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (TQS. Al Maidah : 44)

dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim.” (TQS. Al Maidah : 45)

dan siapa saja yang tidak berhukum berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (TQS. Al Maidah : 47)

Kata: yahkum (berhukum) di sini meliputi semua orang yang mempunyai otoritas dan kekuasaan untuk menjalankan urusan dan menerapkannya, baik kepala negara, menteri, maupun pembantu keduanya. Juga firman Allah:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (TQS. al Maidah : 49)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. al-Maidah : 50)

Pelaksanaan khithab asy Syari’ ini baik untuk individu, jama’ah maupun negara harus secara menyeluruh, tidak boleh hanya melaksanakan sebagiannya saja (tadarruj). Allah SWT berfirman :

“Apakah kamu beriman pada sebagian Al-Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (TQS. Al Baqara :85)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Sesunggunya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (TQS. al Baqara : 208)

Pada obyek hukum pertama dan kedua, khithab asy Syari’ berlaku hanya kepada ummat Islam dalam kondisi apapun, kapan dan dimanapun mereka berada, kecuali dalam beberapa hal ada keringanan yang diberikan oleh Allah SWT.

Pada obyek ketiga yaitu negara, seruan Allah SWT tersebut hanya boleh dijalankan oleh negara, tidak boleh oleh individu atau kelompok. Seruan ini berlaku juga bagi ummat non Islam yang menjadi warga negara atau warga yang dilindungi oleh negara, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, seperti ibadah, makanan, pernikahan, dll.

Jika terdapat kondisi dimana negara tidak menjalankan khithab asy Syari’ tersebut, maka setiap individu muslim wajib mengusahakan terbentuknya negara yang akan menjalankan atau melaksanakan khithab asy Syari’ tersebut. Rasulullah Saw bersabda :

Barang siapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at (kepada khalifah-kepala negara Islam) maka matinya mati jahiliyah.” (HSR. Muslim)

Berkaitan dengan kondisi saat ini, dimana sebagian kaum muslimin berharap pada sesosok pemimpin yang shalih secara individu akan menerapkan syariat Islam walaupun hanya sebagian dalam sistem non Islam, maka hal ini bertentangan dengan khithab asy Syari’.

Wallahu a’lam

One response to “Obyek Khithab asy Syari’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s