Mengapa Tidak Berhukum Dengan Al Qur’an dan Sunnah Merupakan Kafir Akbar?

Telah menjadi ijma’ ulama bahwa menetapkan undang-undang selain hukum Allah dan berhukum kepada undang-undang tersebut merupakan kafir akbar yang mengeluarkan dari milah (agama Islam). Ibnu Katsir berkata setelah menukil perkataan imam Al Juwaini tentang Ilyasiq yang  menjadi undang-undang bangsa Tatar :

“Barang siapa meninggalkan syari’at yang telah muhkam yang diturunkan kepada  Muhammad bin Abdullah penutup seluruh nabi dan berhukum kepada syari’at-syari’at  lainnya yang telah mansukh (dihapus oleh Islam), maka ia telah kafir. Lantas bagaimana  dengan orang yang berhukum kepada Alyasiq dan mendahulukannya atas syariat Allah?  Siapa melakukan hal itu berarti telah kafir menurut ijma’ kaum muslimin.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sudah menjadi pengetahuan bersama dari  dien kaum muslimin dan menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwa orang yang  memperbolehkan mengikuti selain dinul Islam atau mengikuti syari’at (perundang -undangan) selain syari’at nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam maka ia telah kafir  seperti kafirnya orang yang beriman dengan sebagian Al Kitab dan mengkafiri sebagian  lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,  “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dengan  Allah dan para Rasul-Nya dan bermaskud membeda-bedakan antara (keimanan) kepada
Allah dan para rasul-Nya …” {QS. An Nisa’ :150}.

Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa,” Manusia kapan saja  menghalalkan hal  yang telah disepakati keharamannya atau mengharamkan hal yang telah disepakati  kehalalannya atau merubah syari’at Allah yang telah disepakati maka ia kafir murtad  berdasar kesepakatan ulama.”

Berapa banyak para penguasa kita menghalalkan hal yang keharamannya telah disepakati?  Berapa banyak mereka mengharamkan hal yang kehalalannya telah disepakati? Orang  yang melihat kondisi mereka akan mengerti betul akan hal ini. Insya Allah.

Syaikh Syanqithi dalam Adhwaul Bayan dalam menafsirkan firman Allah, “Jika kalian  mentaati mereka maka kalian telah berbuat syirik.” Ini adalah sumpah Allah Ta’ala, Ia  bersumpah bahwa setiap orang yang mengikuti setan dalam menghalalkan bangkai, dirinya  telah musyrik dengan kesyirirkan yang mengeluarkan dirinya dari milah menurut ijma’  kaum muslimin.”
Abdul Qadir Audah mengatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama ujtahidin, baik secara perkataan maupun keyakinan, bahwa tidak ada ketaatan atas akhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta dan bahwasanya menghalalkan hal yang eharamannya telah disepakati seperti zina, minuman keras, membolehkan meniadakan ukum hudud, meniadakan hukum-hukum Islam dan menetapkan undang-undang yang idak diizinkan Allah berarti telah kafir dan murtad, dan hukum keluar dari penguasa uslim yang murtad adalah wajib atas diri kaum muslimin.”

Demikianlah…nash-nash Al Qur’an yang tegas ini disertai ijma’ yang telah disebutkan enjelaskan dengan penjelasan yang paling gamblang bahwa menetapkan undang-undang elain hukum Allah dan berhukum kepada selain syari’at Allah adalah kafir akbar yang engeluarkan dari milah. Kapan hal itu terjadi maka uraian Ibnu Abbas bahwa berhukum engan selain hukum Allah adalah kafir duna kafir (kafir asghar) tidak berlaku atas asalah ini.

Penjelasan Ibnu Abbas berlaku untuk masalah al qadha’ (menetapkan vonis atas sebuah asus), jadi kafir asghar terjadi pada menyelewengnya sebagian penguasa dan hakim dan ikap mereka mengikuti hawa nafsu dalam keputusan hukum yang mereka jatuhkan dengan etap mengakui kesalahan mereka tersebut dan tidak mengutamakan selain hukum Allah atas syari’at Allah dan tidak ada hukum yang berlaku atas mereka selain syari’at Islam.

Fatwa para ulama kontemporer

1.Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam risalah beliau Tahkimul Qawanin, “Sesungguhnya termasuk kafir akbar yang sudah nyata adalah memposisikan
undang-undang positif yang terlaknat kepada posisi apa yang dibawa oleh ruhul amien (Jibril) kepada hati Muhammad supaya menjadi peringatan dengan
bahasa arab yang jelas dalam memutuskan perkara di antara manusia dan mengembalikan perselisihan kepadanya, karena telah menentang firman Allah :

“…Maka jika kalian berselisih dalam suatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir…” [Risalatu Tahkimil Qawanin hal. 5].

Beliau juga mengatakan dalam risalah yang sama, “Pengadilan-pengadilan tandingan ini ekarang ini banyak sekali terdapat di negara-negara Islam, terbuka dan bebas untuk siapa aja. Masyarakat bergantian saling berhukum kepadanya. Para hakim memutuskan perkara ereka dengan hukum yang menyelisihi hukum Al-Qur’an dan As-Sunah, dengan erpegangan kepada undang-undang positif tersebut. Bahkan para hakim ini mewajibkan an mengharuskan masyarakat (untuk menyelesaikan segala kasus dengan undang-undang ersebut) serta mereka mengakui keabsahan undang-undang tersebut. Adakah kekufuran ang lebih besar dari hal ini? Penentangan mana lagi terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah ang lebih berat dari penentangan  mereka seperti ini dan pembatal syahadat “Muhammad dalah utusan Allah” mana lagi yang lebih besar dari hal ini?”

2.Syaikh Ahmad Syakir mengomentari perkataan Ibnu Katsir tentang IlYasiq yang menjadi hukum bangsa Tartar sebagaimana telah dinukil di depan, “Apakah kalian tidak melihat pensifatan yang uat dari Al Hafidz Ibnu Katsir pada abad kedelapan hijriyah terhadap undang-undang postif yang itetapkan oleh musuh Islam Jengish Khan? Bukankah kalian melihatnya mensifati kondisi umat slam pada abad empat belas hijriyah? Kecuali satu perbedaan saja yang kami nyatakan tadi ; hukum lyasiq hanya terjadi pada sebuah generasi penguasa yang menyelusup dalam umat Islam dan segera ilang pengaruhnya. Namun kondisi kaum  muslimin saat ini lebih buruk dan lebih dzalim dari mereka arena kebanyakan umat Islam hari ini telah masuk dalam hukum yang menyelisihi syariah Islam ini, ebuah hukum yang paling menyerupai Ilyasiq yang ditetapkan oleh seorang laki-laki kafir yang telah elas kekafirannya….Sesungguhnya urusan hukum positif ini telah jelas layaknya matahari di siang bolong, aitu kufur yang nyata tak ada yang tersembunyi di dalamnya dan tak ada yang membingungkan. Tidak da udzur bagi siapa pun yang mengaku dirinya muslim dalam berbuat dengannya, atau tunduk kepadanya
atau mengakuinya. Maka berhati-hatilah, setiap individu menjadi pengawas atas dirinya sendiri.”

Beliau juga mengatakan :

“ UUD yang ditetapkan musuh-musuh Islam dan mereka wajibkan atas kaum muslimin..ada hakekatnya tak lain adalah agama baru, mereka membuatnya  sebagai ganti dari gama kaum muslimin yang bersih dan mulia, karena mereka telah mewajibkan kaum uslimin mentaati UUD tersebut, mereka menanamkan dalam hati kaum muslimin rasa cinta kepada UU tersebut, mensakralkannya dan fanatisme dengannya sampai akhirnya erbiasa dikatakan melalui lisan dan tulisan  kalimat-kalimat ” Pensakralan UUD”,  Kewibawaan lembaga peradilan ” dan kalimat-kalimat semisal. Lalu mereka menyebut UD dan aturan-aturan ini dengan kata  “fiqih dan faqih” “tasyri’ dan musyari’ ” dan alimat-kalimat semisal yang dipakai ulama Islam untuk syariah Islam dan para ulama
syariah.”

3.Syaikh Muhammad Amien Asy Syinqithi dalam tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah, Dan tidak mengambil seorangpun sebagai sekutu Allah dalam menetapkan keputusan.” QS. Al Kahfi :26] dan setelah menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwa menetapkan ndang-undang bagi selain Allah adalah kekafiran, beliau berkata, “Dengan nash-nash samawi ang kami sebutkan ini sangat jelas bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum positif yang itetapkan oleh setan melalui lisan wali-wali-Nya, menyelisihi apa yang Allah syari’atkan melalui isan Rasul-Nya. Tak ada seorangpun yang meragukan kekafiran dan kesyirikannya,ecuali orang-orang yang telah Allah hapuskan bashirahnya dan Allah padamkan cahaya wahyu atas diri mereka.”

Syaikh Al Syinqithi juga berkata :

” Berbuat syirik kepada Allah dalam masalah hukum dan berbuat syirik dalam masalah beribadah itu maknanya sama, sama sekali tak ada perbedaan antara keduanya. Orang ang mengikuti UU selain UU Allah dan tasyri’ selain tasyri’ Allah adalah seperti orang ang menyembah berhala dan sujud kepada berhala, antara keduanya sama sekali tidak da perbedaan dari satu sisi sekalipun,. Keduanya satu (sama saja) dan keduanya usyrik kepada Allah.”

4.Syaikh Shalih bin Ibrahim Al Bulaihi dalam hasyiyah beliau atas Zadul Mustaqni’, ang terkenal dengan nama Al Salsabil fi Ma’rifati Dalil, mengatakan, “…Berhukum engan hukum-hukum positif yang menyelisihi syari’at Islam adalah sebuah enyelewengan, kekafiran, kerusakan dan kedzaliman bagi para hamba. Tak akan ada eamanan dan hak-hak yang terlindungi, kecuali dengan dipraktekkanmya syariah Islam ecara keseluruhannya ; aqidahnya, ibadahnya, hukum-hukumnya, akhlaknya dan aturan-aturannya.
Berhukum dengan selain hukum Allah berarti berhukum dengan hukum buatan manusia untuk manusia epertinya, berarti berhukum dengan hukum-hukum thaghut…tak ada bedanya antara ahwal sakhsiah masalah nikah,cerai, ruju’–pent) dengan hukum-hukum bagi individu dan bersama… barang siapa membeda-bedakan hukum antara ketiga hal ini, berarti ia seorang atheis, zindiq dan kafir kepada Allah Yang Maha Agung.”

5.Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam risalah beliau “Naqdu Al Qaumiyah Al ‘Arabiyah ” Kritik atas nasionalisme Arab) mengatakan, “Alasan keempat yang menegaskan batilnya seruan asionalisme arab : seruan kepada nasionalisme arab dan bergabung di sekitar bendera nasionalisme arab asti akan mengakibatkan masyarakat menolak hukum Al Qur’an. Sebabnya karena  rang-orang nasionalis non muslim idak akan pernah ridha bila Al Qur’an dijadikan undang-undang. Hal ini memaksa para pemimpin nasionalisme untuk enetapkan hukum-hukum positif yang menyelisihi hukum Al Qur’an . Hukum positif tersebut menyamakan kedudukan eluruh anggota masyarakat nasionalis di hadapan hukum. Hal ini telah sering ditegaskan oleh mereka. ni adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata dan jelas-jelas murtad.”

6.Syaikh Abdullah bin Humaid mengatakan, “Siapa menetapkan undang-undang umum yang iwajibkan atas rakyat, yang bertentangan dengan hukum Allah ; berarti telah keluar dari milah dan kafir.”

7.Syaikh Muhammad Hamid Al Faqi dalam komentar beliau atas Fathul Majid mengatakan, “Kesimpulan ang diambil dari perkataan ulama salaf bahwa thaghut adalah setiap hal yang memalingkan hamba dan enghalanginya dari beribadah kepada Allah, memurnikan dien dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya…
Tidak diragukan lagi, termasuk dalam kategori thaghut adalah berhukum dengan hukum-hukum asing di luar yari’at Islam, dan hukum-hukum positif lainnya yang dtetapkan oleh manusia untuk mengatur masalah darah, emaluan dan harta, untuk menihilkan syari’at Allah berupa penegakan hudud, pengharaman riba, zina, inuman keras dan lain sebagainya. Hukum-hukum positif ini menghalalkannya dan mempergunakan kekuatannya ntuk mempraktekkannya. Hukum dan undang-undang positif ini sendiri adalah thaghut, sebagaimana orang-orang ang menetapkan dan melariskannya juga merupakan thaghut…”

Beliau juga menyatakan dalam Fathul Majid saat mengomentari perkataan Ibnu katsir entang Ilyasiq, “Yang seperti ini dan bahkan lebih buruk lagi adalah orang yang enjadikan hukum Perancis sebagai hukum yang mengatur darah, kemaluan dan harta anusia, mendahulukannya atas kitabullah dan sunah Rasulullah. Tak diragukan lagi, rang ini telah kafir dan murtad jika terus berbuat seperti itu dan tidak kembali kepada ukum yang diturunkan Allah. Nama apapun yang ia sandang dan amalan lahir apapun ang ia kerjakan baik itu sholat, shiyam dan sebagainya, sama sekali tak bermanfaat ba-ginya…”.

8.Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Barang siapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah karena menganggap hukum Allah itu sepele, atau  eremehkannya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah lebih baik dan bermanfaat bagi manusia, maka ia telah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari milah. Termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang menetapkan untuk rakyatnya perundang-undangan yang menyelisihi syari’at Islam, supaya menjadi sistem perundang-undangan negara. Mereka tidak menetapkan perundang-unda-ngan yang menyelisihi syari’at Islam kecuali
karena mereka meyakini bahwa perundang-undangan tersebut lebih baik dan bermanfaat bagi rakyat. Sudah menjadi askioma akal dan pembawaan fitrah, manusia tak akan berpaling dari sebuah sistem kepada sistem lain kecuali karena ia meyakini kelebihan sistem yang ia anut dan kelemahan sistem yang ia tinggalkan.”

9.Syaikh Abu Shuhaib Abdul Aziz bin Shuhaib Al Maliki sendiri telah mengumpulkan fatwa lebih dari 200 ulama salaf dan kontemporer yang menyatakan murtadnya pemerintahan yang menetapkan  ndang-undang positif sebagai pengganti dari syariah Islam, dalam buku beliau Aqwaalu Aimmah wa Du’at fi Bayaani Riddati Man Baddala Syariah Ninal Hukkam Ath Thughat.

Sumber : Indonesiaku Sayang, Indonesiaku Malang, Buku 1, Usyaqul Huur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s