Gara-gara Jenggot

Hari-hari ini jenggot menjadi bahan kriteria razia baru. Meski belum pernah kena razia namun nampaknya boleh saja kita jaga-jaga. Siapa tahu jenggot yang cuma seukuran jagung ini bikin masalah dengan diri kita.

Pasca peledakan bom dua hotel mewah itu memang masyarakat menjadi sangat parno. Mereka ketakutan kalau di lingkungannya terdapat para tersangka teroris. Maka mereka pun mulai aktif melakukan banyak hal, di antara saling pasang mata dan pasang telinga. Para pendatang baru target penyelidikan, akankah mereka memiliki ciri-ciri seperti yang dibilang polisi selama ini. Berpeci, berjubah, berjenggot, berjilbab dan bercadar. Dalam rilisnya, sebuah LSM bahkan menyebutkan bahwa bisnis herbal thibbun nabawi, penerbitan buku islam, dan pesantren juga termasuk yang harus diawasi. Karena mereka bisa jadi menjadi soko guru terorisme nasional.

Tidak cukup itu, seorang pengamat terorisme yang konon juga dosen dalam sekolah intelijen menyebutkan, yayasan islam, baitul mal, lembaga zakat juga patut diwaspadai sebagai wahana pengumpul duit umat untuk membiayai aksi peledakan. Wow! Luar biasa sekali efeknya, sampai kemana-mana.

Seorang teman penyiar radio, sedang mencoba bisnis baru. Di rumah istrinya, ia termasuk warga yang baru. Bisnis barunya ini membutuhkan wahana persemaian berupa drum bekas bensin. Karena dia ke mana-mana memakai peci dan berjanggut, maka dia menjadi orang yang tertuduh di kampungnya. Masyarakat tiba-tiba menjadi pintar menghubung-hubungkan seolah wartawan media massa televisi yang asal hubung itu. Unsur-unsur penguat dikumpulkan kemudian dihubung-hubungkan sekenanya. Pertama, dia aktif ke mesjid. Seperti diketahui pelaku pemboman, konon kata media massa adalah remaja masjid. Kedua, dia suka memakai peci dan berjanggut. Unsur kedua ini juga sama dengan para buronan yang katanya anak buahnya Noor Din M Top. Ketiga, dia orang baru, kata para aparat orang baru harus diawasi. Yang kelima yang paling dahsyat, dia membeli drum gede. Tidaklah wajar seseorang memberi drum gede di kampung itu. Lengkap sudah data-data yang dikumpulkan dan akhirnya masyarakat melaporkan ke polisi. Begitulah yang terjadi, padahal dia sama sekali tak ada kaitannya dengan terorisme. Dia hanya ingin berbudi daya jamur, dan tong besar itu sebagai wahana persemaiannya.

Di belahan bumi lainnya, ada sebuah cerita yang lebih unik. Seorang suami dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki sebuah mall. Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak pengunjung yang menaruh curiga. Berpuluh-puluh pasang mata melihatnya. Seolah tersangka baru yang sedang melenggang di catwalk. Tapi mereka cuek cuek saja, toh mereka hanya ingin melihat pameran komputer saja.

Seorang suami dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki sebuah mall. Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak pengunjung yang menaruh curiga.

Di bandara, seorang teman juga diperlakukan berbeda. Semua penumpang melenggang kangkung tanpa ada pemeriksaan berlebihan. Sementara temen saya ini harus diperiksa berlapis-lapis. Tubuhnya diraba-raba. Hanya karena jenggotnya terlalu panjang hingga ke dada.

Fenomena ini jelas membuat kita tertawa. Kenapa menjadi sedemikian massivenya. Kenapa atribut luar menjadi sedemikian mudah tervonis. Apakah jubah, jenggot dan segala asesorisnya selalu identik dengan pelaku peledakan? Logika awam saja bisa menjawab, kalau cctv yang ada di dua hotel itu tidak pernah menunjukkan bahwa pelaku berpakaian ala timur tengah.

Apakah ini ada nuansa anti timur tengah? Menolak segala yang berbau budaya arab. Menolak pakaian ala mereka dan memberi stigma seolah yang berasal dari Arab adalah kumuh dan terkait dengan terorisme. Sebaliknya, masyarakat dihasung untuk lebih suka memakai pakaian mini dan seksi sebagai ikon budaya barat yang disanjung dan dipuji.

Kalau memang orang ingin melakukan peledakan, tidak mungkin mereka akan mengenakan cadar dan jubah panjang. Persis seperti seorang intel polisi yang sedang bertugas. Ia tidak akan mungkin mengenakan baju seragam kebesarannya. Tetapi kenapa logika ini justru malah tidak terpakai?

Inilah fenomena yang membuat kita mengelus dada. Apa yang sedang terjadi sekarang justru tidak menambah kita yakin terorisme bisa tertumpas. Malah melebar menjadi perang budaya yang tidak ada manfaatnya. Memakai jubah, cadar dan berjenggot bukanlah kesalahan sebagaimana orang membawa bom atau senjata tajam. Tapi itu merupakan identitas seseorang saja, yang ingin lebih dekat dengan sunah rasulnya. Sebagaimana para pemuja barat yang mengenakan baju terbuka auratnya, sebagai tanda ingin dekat dengan artis yang mereka puja. So, jangan berlebihan melihat masalah, umat islam ini ingin sebuah ketenangan, bukan malah teror dalam wujud yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s