Ekstrimis Kristen LRA Masih Memperbudak Anak-Anak

Banyak anak-anak tidak sempat melarikan diri dari para ekstrimis Kristen LRA yang menyebarkan teror di Sudah selatan.

Juba, Sudan – Anak itu sedang memancing ketika tiba-tiba para pemberontak tersebut menangkap, menyeret dan menculik bocah tersebut untuk dijadikan budak bagi kelompok pemberontak yang paling terkenal dengan kekejamannya tersebut.

“Kukira mereka akan membunuhku”, kata bocah berusia 16 tahun bernama Genekpio Kumboya. Ia diculik Desember lalu dari desa Faraj, baratlaut Republik Demokratik Kongo. “Saya sangat ketakutan, saya tak dapat bicara”.

Kumbayo diculik oleh ekstrimis Kristen Uganda bernama Lord’s Resistance Army (LRA), kelompok pemberontak Uganda, yang sudah dua dekade melakukan pemberontakan, kekacauan luas di beberapa wilayah.

“Selama lima bulan mereka memaksaku membawakan semua peralatan perang mereka”, kata Kumbayo pelan.

“Saya tidak punya pilihan lain, mereka menjadikan saya sebagai budak – mereka terus memaksa kami berjalan di hutan, selalu keras saat kami bekerja”.

Tidak seperti bocah lainnya, Kumbayo termasuk mujur.

Ia berhasil melarikan diri ke Sudan selatan bulan April lalu saat tentara Uganda menggempur para ekstrimis tersebut, tapi pada saat bocah itu melarikan diri ia terkena tembakan di kakinya.

Tentara Uganda memulai operasi militer bulan Desember lalu di basis-basis ekstrimis tersebut yang berada di wilayah-wilayah terpencil di Republik Kongo setelah usaha pembicaraan damai gagal – operasi tentara Uganda ini memicu balas dendam ekstrimis yang lebih luas.

Lebih dari 230,000 orang mengungsi dari tempat tinggal mereka di Sudan selatan sejak 2008 akibat kelakuan ekstrimis Kristen LRA di wilayah tersebut, menurut estimasi dari PBB.

Malahan, lebih dari 25,000 pengungsi dari Kongo dan Republik Afrika Tengah berdatangan lagi untuk mencari tempat tinggal.

Namun serangan masih berlanjut.

Sejak akhir Juli, lebih dari 180 orang tewas oleh serangan anggota radikal LRA di Sudan selatan dan angka pengungsi pun mulai meningkat, kata Lise Grande, pejabat tinggi PBB di Sudan selatan.

“Ekstrimis LRA terus melanjutkan kekacauan” kata pejabat wanita tersebut.

“Pemandangannya terlihat sangat tidak baik. Kekerasan terus meningkat di Republik Kongo dan Republik Afrika Tengah, meningkatkan kekhawatiran banyaknya para pengungsi di masa depan”, tambahnya.

Sukarelawan dan staf PBB bahkan terpaksa diungsikan menggunakan helikopter dari Ezo pada Agustus awal kemarin. Ezo adalah daerah yang berbatasan dengan Republik Kongo, mereka terpaksa mengungsi secapatnya setelah ekstrimis LRA sudah sampai ke beberapa wilayah terpencil dekat Ezo.

Para ekstrimis tersebut menyerang saat penduduk sedang berkumpul di gereja, mereka merampas barang-barang dan menculik 17 orang , termasuk beberapa anak-anak.

Ketakukan meningkat lagi setelah selama bebeapa periode situasi cukup tenang, para ekstrimis tersebut mulai menyusun kembali kekuatan, melakukan serangan-serangan untuk mencari anggota-anggota baru dan mereka juga sedang mencari perbekalan untuk dibawa ke basis-basis mereka.

UNHCR telah mewanti-wanti akan serangan tak terkira dari para ekstrimis tersebut, dimana gelombang serangan diperkirakan akan meningkat di Kongo, setelah pada bulan Juli saja terjadi 55 kali serangan di wilayah baratlaut propinsi Orientale.

“Orang-orang bahkan takut untuk sekedar menyuruh anak-anak mereka berangkat sekolah, akibat serangan dari ekstrimis LRA tersebut”.

“Ini adalah situasi yang rapuh, penduduk harus ke kota dimana disana terdapat klinik kesehatan, pendidikan dan makanan”.

Kepala LRA Josehp Kony, yang memulai peperangannya sekitar 20 tahun lalu, mengatakan ia memberi nama salah satu anaknya dengan nama “George Bush”, pada 2006.

Kelompok pemberontak ini bertujuan untuk menegakkan pemerintahan teokratik di Uganda, berdasarkan Injil Kristen dan 10 Perintah Tuhan.

Kekejaman mereka mulai dari mengiris mulut atau memotongi anggota tubuh korban-korbannya. Kelompok ini juga dituduh memaksa para anak-anak menjadi tentara dan budak sex, mereka juga menyembelih  para remaja.

“Mereka terus mengancam penduduk kami”, kata Kolonel Joseph
Ngere Paciko, deputi pemerintah di wilayah Khatulistiwa Barat. Tempat tersebut berbatasan dengan Kongo dan merupakan wilayah dengan kekerasan paling tinggi yang dilakukan anggota radikal LRA.

One response to “Ekstrimis Kristen LRA Masih Memperbudak Anak-Anak

  1. Ping-balik: Wapres: Ini Perampokan | Update Blog Terbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s