Efek Domino Peledakan BOM

Efek domino peledakan bom nampaknya tidak bisa dibilang sedikit. Setelah adanya beberapa masukan dan usulan untuk dihidupkan kembali UU Subversif, pengamatan terhadap umat Islam mulai gencar dilakukan. Beberapa pekan lalu, Markas Besar Kepolisian Indonesia memerintahkan kepolisian daerah untuk meningkatkan upaya pencegahan tindak pidana terorisme dengan mengawasi ceramah dan dakwah. Jika dalam dakwah tersebut ditemukan adanya ajakan yang bersifat provokasi dan melanggar hukum, maka aparat akan mengambil tindakan tegas.

Sudah terbayang di benak kita, akan seperti apa nanti jadinya. Masjid-masjid pasti akan menjadi ajang tempat nguping dan mencari-cari data bagi aparat. Sang mubaligh, siapapun itu tentu saja merasa diawasi dan dicurigai. Tidak ada lagi kebebasan dalam berpendapat dan berargumentasi. Karena nampaknya diakui atau tidak, sering kali istilah “provokasi” bisa bermakna sangat luas. Mungkin akan ada banyak ayat yang dinilai provokatif, padahal ayat itu adalah ayat yang memberi semangat kepada umat untuk lebih bersemangat beramal shalih.

Hal ini juga menunjukkan bahwa Polisi sudah tidak lagi menaruh kepercayaan kepada alim ulama sebagai penjaga moral umat ini sehingga harus diawasi dan diteliti setiap khotbahnya. Padahal merekalah yang akan menjadi peredam gejolak masyarakat, mereka pulalah yang akan menjadi sosok-sosok penting dalam pembangungan masyarakat ke depan. Mereka bukan sosok kriminal yang harus diawasi tindak tanduknya dan dicari-cari kesalahannya. Karena mereka adalah orang-orang berilmu yang harus mendapat kehormatan di tengah-tengah manusia.

Polisi telah menempatkan mereka bukan sebagai kawan yang bisa dirangkul untuk melakukan antisipasi teror, melainkan memberi stigma dan mencurigai isi khutbah dan ceramah yang mungkin sangat asing di telinga mereka. Ini adalah sebuah langkah mundur yang sangat disesalkan. Seolah upaya kerja sama para alim ulama dan tokoh masyarakat menjadi terbuang percuma dengan aksi polisi mengawasi para penceramah dan dai.

Provokasi, Sejauh Apa?
Jelas langkah ini akan menjadi sebuah pisau bermata dua. Sangat rentang untuk disalahpahami, bahkan untuk level pelaku-pelaku di lapangan. Jamaah masjid juga pasti akan merespons dengan negatif upaya-upaya ini. Karena tentu saja hal ini akan berdampak pada pencitraan masjid sebagai tempat untuk memprovokasi warga. Polisi agaknya lupa, bahwa masyarakat kita sudah sangat cerdas membaca fenomena. Mereka juga sangat bisa untuk membedakan sang penceramah sedang memprovokasi atau tidak.

Polisi juga telah mengambil kewenangan lebih dari otoritasnya menjaga keamanan. Dakwah yang seharusnya bisa berjalan dengan baik, menjadi tercederai karena keinginan polisi untuk menilai setiap ceramah apakah masuk kategori provokasi atau tidak. Bila pengetahuan agama sang intel tidak cukup bagus, maka otoritas ini hanya akan menimbulkan masalah baru.

Terorisme memang menjadi bagian dari masalah bangsa ini.  Seharusnya umat Islam, ulama dan tokohnya dirangkul sebagai bagian dari bangsa yang juga merasakan permasalahan yang sama. Bukan malah dijadikan rival, diselidiki, diawasi, seolah merekalah ancaman itu. Seolah merekalah yang selama ini menjadi inspirasi bagi pelaku teror. Padahal bisa jadi anggapan ini sama sekali salah dan menimbulkan fitnah-fitnah baru.

Umat Islam harus bersatu. Bukan saatnya lagi kita memikirkan golongan dan taasub yang berlebihan. Saatnya umat ini terpanggil untuk membela agama Allah. Hum, jangan-jangan tulisan saya ini dianggap juga sebagai provokasi? Humm….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s