Puasa Zhohir Bergantung Kepada Puasa Batin

Baca-baca berita hari ini, banyak berita yang lucu. Menjelang Ramadan, semuanya pada “pengen” sholeh, kantor-kantor pada mau buka pengajian, artis-artis pada pakai jilbab serta berlomba-lomba main sinetron Islami dan hikmah. Para koruptor juga pada mau umrah. Tempat-tempat hiburan berdugem ria ditutup untuk sementara. Semoga ini jangan cuman jamur yang tumbuh di musim hujan saja!!!

Maaf, saya bukan sedang bersu’uzhon. Sebab kalau benar, bukan su’uzhon namanya. Ini adalah kenyataan yang terjadi setiap tahunnya dimana setiap memasuki bulan Ramadan, suasana islami akan begitu terasa di layar televisi keluarga atau di tempat-tempat bekerja anda.

Setelah Ramadan berlalu, dalam hitungan hari, jilbab-jilbab yang manis itu akan kembali ditanggalkan, kantor-kantor akan kembali kosong dari kehidupan ruhiah, sinteron-sinetron syhawatiah yang penuh aurat dan aib akan kembali menghiasi pandangan mata anak-anak remaja anda, tempat-tempat karaoke dan night club akan kembali bergoyang dan para pejabat akan kembali mencari lahan baru setelah merasa dirinya suci telah terhapus dengan mencium ka’bah dari dosa-dosa korupsinya.

Padahal dosa mencuri hanya akan terampuni jika barang curian itu dikembalikan kepada si pemiliknya, bukan dengan mencium ka’bah.

Saya juga yakin jika Saudara-saudaraku yang budiman sekalian, merasakan hal yang serupa. Anda merasakan diri anda sholeh hanya ketika Ramadan saja, begitu juga diri saya. Sungguh ini sebuah fenomena yang perlu kita kritisi. Sebab pasti ada yang salah dari ibadah puasa yang kita lakukan, jika pada akhirnya tujuan puasa itu tidak terealisasi.
لعلكم تتقون (البقرة:183)
“…agar kamu menjadi takwa.”

Saudara-saudaraku…anda jangan terbuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة و غلقت أبواب النار و صفدت الشياطين (رواه مسلم)
“Jika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan diikat.”

Ada dua penafsiran dari para ulama tentang hadits di atas. Mazhab pertama yaitu jumhur ulama menafsirkan secara tekstual dalam arti yang sebenarnya. Dan mazhab kedua menafsirkan secara kontekstual bahwa kaum muslimin di bulan Ramadan berpuasa menahan hawa nafsunya, sehingga syaitan-syaitan tidak mampu melakukan apa-apa untuk menggoda kaum muslimin dan akhirnya syaitan-syaitan menjadi pengangguran di bulan ramadan maka diibaratkan mereka itu seperti terikat. (Baca Syarah Shohih Muslim karya Imam Nawawi Bab Fadhail Ramadhan)
Saya lebih condong untuk mengikut kepada mazhab yang pertama sebab kita tidak memiliki qarinah atau alasan yang cukup kuat untuk memalingkan makna zhohir hadits itu kepada makna yang majazi.

Lalu kalau kita ambil pendapat mazhab jumhur itu dan kalaulah memang syaitan-syaitan itu diikat, lalu mengapa tetap saja banyak kaum muslimin yang melakukan kemasksiatan di bulan Ramadan?

Jawabannya sederhana saja. Syaitan itu bukan pemeran utama yang menyebabkan anda melakukan kemaksiatan. Pemeran utama yang sebenarnya adalah nafsu ( (النفسyang ada dalam diri anda. Ibarat petinju, syaitan itu hanya pelatih saja, dan nafsu adalah petinju yang sebenarnya. So, biar diikat sekuat apapun pelatihnya, si nafsu sang petinju akan tetap garang di atas ringnya (Aa Gym hafizhahullah). Makanya Nabi Yusuf as tidak menyalahkan syaitan, ketika Zulaikha mengajak Nabi Yusuf as untuk bermaksiat, padahal Nabi Yusuf as sangat mengetahui bahwa dibelakang Zulaikha ada banyak sekali syaitan yang membisik-bisikan telinga Zulaikha. Tapi Nabi Yusuf as adalah hamba Allah yang mengerti hakekat, beliau tidak serta merta menyalahkan syaitan seperti halnya kita yang cepat sekali melemparkan kesalahan kita kepada syaitan jika sudah terjatuh pada kubangan kemaksiatan, namun justru Nabi Yusuf as berkata:

إن النفس لأمارة بالسوء (يوسف:53)
“Sesungguhnya nafsulah yang menyuruh berbuat keburukan.”

Maka mungkin di dunia yang fana ini, anda bisa melontarkan kesalahan anda kepada syaitan tetapi di akhirat kelak, jika anda sudah berhadapan dengan pengadilan Allah yang maha tahu, anda tidak akan bisa lempar batu sembunyi tangan, menyalah-nyalahkan syaitan yang telah menggoda anda sebab sesungguhnya syaitan itu tidak berperan apapun kecuali hanya sedikit. Sesungguhnya godaan dan tipu daya syaitan itu sangat lemah.

إن كيد الشيطان كان ضعيفا (النساء:76)
“…sesungguhnya tipu daya syaitan itu sangat lemah.”

Dan syaitan akan “nyengir” tertawa melihat anda yang berlagak pilon merasa tak bersalah dengan kesalahan sendiri, dengan berkata:

إني برئ منك إني أخاف الله رب العالمين (الحشر: 16)
“Sesungguhnya aku “cuci tangan” dari (perbuatan) kalian, bahkan sebenarnya aku ajapun takut kepada Allah Tuhan semesta Alam.”

Itulah dia nafsu yang ada dalam diri anda sendiri. Biang kerok yang menyebabkan diri anda jatuh ke dalam kubangan kemaksiatan. Nafsu itulah yang ditiup-tiup (dilatih) syaitan agar anda menyalahi perintah Allah dan melakukan larangan-Nya, ngga peduli mau di luar bulan Ramadan atau di dalam bulan Ramadan.

Maka Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah puasa, tak lain tujuannya adalah untuk menundukkan hawa nafsu yang ada dalam rongga jasad kita ini, barulah kita bisa bertakwa.
Di dalam kitab-kitab tasawuf, para ulama tasawuf merangkum nafsu itu ada empat saja: nafsu makan, nafsu tidur, nafsu kalam dan nafsu bergaul (kumpul-kumpul dengan makhluk).

Adapun nafsu-nafsu yang lain akan bersumber kepada yang empat ini juga. Jika anda kebanyakan makan, tidur, berbicara dan bergaul maka sudah dipastikan nafsu anda begitu subur. Jika nafsu sudah subur, akan sulit untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Maka para ulama kita juga sudah merangkum empat buah solusi. Untuk menundukkan nafsu itu, yaitu dengan menyedikitkan makan (ini ditempuh dengan memperbanyak lapar atau berpuasa), menyedikitkan tidur (ini ditempuh dengan memperbanyak jaga untuk ibadah di malam hari), menyedikitkan berbicara (ditempuh dengan memperbanyak diam) dan menyedikitkan bergaul (ditempuh dengan memperbanyak uzlah/menyendiri kepada Allah).

Maka Imam Al Haddad rahimahullah telah merangkum empat cara menundukkan nafsu di atas dalam sya’irnya:

و النفس رضها باعتزال و الصمت مع سهر الدجى و تجوع
Nafsu itu keseimbangannya dengan uzlah
Diam, lapar dan jaga di waktu gelap

(Coba baca kitab karya Ustadz kami Ustadzul Fadhil Rohimuddin An Nawawi hafizhahullah yang berjudul Tasawwuf Amali)

Kalau kita lihat ibadah puasa di bulan Ramadan ini sangat cocok dan tepat untuk menundukkan hawa nafsu. Karena dalam ibadah puasa Ramadan terdapat ke-empat unsur di atas. Di sana ada puasa untuk memperbanyak lapar. Di sana ada dzikir dan tilawah Alquran bahkan disunnahkan untuk membiarkan mulut yang bau akibat puasa. Ini akan sangat memperkecil ruang lisan untuk berbicara karena takut bau mulut keciuman orang lain. Ini akan menghindari kita dari nafsu kalam seperti ghibah, namimah, jidal (debat) dan membicarakan hal-hal yang tiada manfaat. Di sana juga kita diperintahkan untuk menghidupi malam-malam Ramadan dengan berbagai aktivitas amal ibadat.

Ini tak lain adalah agar kita sedikit tidur dan banyak jaga hingga kita melawan nafsu tidur kita. Di sana juga kita diperintahkan untuk memperbanyak i’tikaf (menyendiri dengan Allah) terutama sekali sepuluh hari di akhir-akhir bulan Ramadan. Ini sangat efektif menundukkan nafsu “pengen” bergaul kita dengan makhluk.

Jika aspek-aspek di atas tidak kita perhatikan dengan seksama. Atau berjalan hanya setengah-setengah tanpa memperhatikan keseimbangan antara aspek zhohir dan aspek batin, maka percuma saja kita melakukan ibadah puasa. Itulah yang menjadi penyebab kenapa ibadah puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh itu tidak pernah mampu merubah kita menjadi orang yang bertakwa.

Di siang hari kita puasa dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi hati kita tidak pernah puasa dari nafsu terhadap pahala dan surga. Perut kita puasa dari makanan dan minuman, tetapi lisan kita tidak pernah puasa dari dusta, jidal dan membicarakan keburukan orang lain.

Di bulan Ramadan lisan kita tidak pernah libur membaca Alquran tetapi kalau berbicara, lisan kita juga tidak pernah libur dari menyakiti perasaan saudara-saudara kita. Ibadah-ibadah malam kita begitu sering kita lakukan sampai kaki menjadi bengkak dan jidat menjadi hitam, tetapi hati kita tidak pernah puasa dari rasa ujub (bangga), ingin dipuji, takabbur dan riya’. Maka tak salah jika Rasul junjungan Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع و كم من قائم ليس له من قيامه إلا السهر(رواه أحمد)

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali hanya lapar saja dan berapa banyak orang yang sholat malam tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari sholat malamnya itu kecuali cuman sekedar bergadang saja.”

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…
Kelihatan seperti khutbah jum’at saja risalah saya yang kecil ini. Tetapi sebenarnya di sini saya tidak berniat sama sekali untuk menggurui Saudara-saudaraku sekalian. Di sini saya hanya mengingatkan kepada Saudara-saudaraku seiman, bahwa puasa itu bukan hanya puasa zhohir (fisik) semata, tetapi juga di sana ada puasa batin (hati) dan kedua-duanya harus kita lakukan. Jika anda puasa zhohir saja tanpa puasa batin, maka anda adalah orang-orang ahli zhohir yang kosong dari hakekat dan makna. Jika demikian maka puasa anda tak akan menghasilkan apa-apa seperti yang saya ceritakan di atas. Walaupun fisik kita berpuasa, tetapi hati kita tidak pernah berpuasa maka itu tak obahnya seperti mayat yang tak bernyawa.

Sebaliknya jika anda hanya puasa batin saja tanpa puasa zhohir maka anda adalah orang-orang zindiq yang tidak mau beramal zhohir karena mengaku sudah sampai kepada Allah dan mendapatkan hakekat batin, persis seperti roh gentayangan yang tak mempunyai jasad.
Ibadah puasa yang sempurna adalah ibadah puasa yang menggabungkan antara puasa zhohir dengan puasa batin secara benar. Tubuhnya yang berpuasa tetapi hatinya yang berniat. Perutnya yang menahan lapar, tetapi hatinya yang bersabar. Jasadnya yang beramal ibadah tetapi hatinya yang ikhlas hanya mengharap Allah. Itulah puasa yang sesungguhnya, penuh dengan kesempurnaan. Jika salah satu rusak maka yang lainpun akan rusak.

Di sini saya mempunyai sebuah dalil di antara sekian banyak dalil yang menunjukkan bahwa memang amal itu ada dua, yaitu amal zhohir dan amal batin. Yaitu sebuah hadits yang hampir setiap hari kita dengar dimana dalam hadits itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkaitkan amalan zhohir kepada amalan batin:

إنما الأعمال باالنيات (متفق عليه)
“Sesungguhnya amal itu hanya bergantung kepada niat.”

Seolah-olah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya kesuksesan amal itu sangat bergantung kepada niat dan niat itu sendiri adalah sebahagian dari amal hati.

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat dan saya mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s