CARA MENETAPKAN AWAL RAMADHAN

Assalamu’alaikum wr wb. Pak Kiyai, bagaimana cara menentukan awal atau tanggal satu Ramadhan sehingga umat Islam di seluruh dunia bisa memulai dan mengakhiri puasa secara bersama-sama?. Syukran
Farida, Palembang

Wassalamu’alaikum wr wb.

Ustadz Muhammad Ali Ash-Shabuni, seorang pengajar di Fakultas Syariah dan Studi Islam di Makkah menjelaskan masalah ini dalam kitab tafsirnya, Rawaiul Bayan Tafsiru Bi Ayatil Ahkam dalam Bab Kewajiban Puasa Atas Kaum Muslimin. Beliau menyatakan bahwa cara untuk menentukan tanggal satu Ramadhan atau awal puasa adalah pertama, dengan melihat hilal (ru’yatul hilal). Meskipun, kata As Shabuni, yang melihat hilal itu hanya satu orang yang adil. Kedua, dengan menyempurnakan bulan Sya’ban genap tiga puluh hari jika pandangan untuk melihat hilal terhalang oleh awan. Ustadz Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqh Sunnah juga berpendapat yang sama.

Hal ini didasarkan atas hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra:

“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya, kemudian jika kamu terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban tiga puluh hari”

Hadits tentang perintah ru’yat bersifat umum, dan khithab (seruannya) berlaku bagi seluruh kaum muslimin. Kata shûmû liru’yatihi adalah lafadz umum. Artinya, bila satu daerah telah melihat bulan, maka wilayah yang lain harus berpuasa karena hasil ru’yat daerah tersebut.

Imam asy-Syaukani menyatakan, “Sabda beliau ini tidaklah dikhususkan untuk penduduk satu daerah tertentu tanpa menyertakan daerah yang lain. Bahkan sabda beliau ini merupakan khitab (pembicaraan) yang tertuju kepada siapa saja di antara kaum muslimin yang khitab itu telah sampai kepadanya. ‘Apabila penduduk suatu negeri telah melihat hilal, maka (dianggap) seluruh kaum muslimin telah melihatnya. Ru’yat penduduk negeri itu berlaku pula bagi kaum muslimin lainnya’.”

Imam asy-Syaukani menyimpulkan, “Pendapat yang layak dijadikan pegangan adalah, apabila penduduk suatu negeri telah melihat bulan sabit (ru’yatul hilal), maka ru’yat ini berlaku pula untuk seluruh negeri-negeri yang lain.” Ini pula yang menjadi pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya, Fâth al-Bârî, Bab Shiyâm.

Oleh karena itu kapan saja penduduk suatu negeri melihat hilal, maka wajib atas seluruh negeri berpuasa karena sabda Rasulullah Saw, “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Ucapan ini umum mencakup seluruh ummat manusia. Jadi siapa saja dari mereka melihat hilal dimanapun tempatnya, maka ru’yat itu berlaku bagi mereka semuanya.

Imam ash-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam, jilid 2, hal. 310 berkata, “Makna dari ucapan ‘karena melihatnya’ yaitu apabila ru’yat didapati diantara kalian. Hal ini menunjukkan bahwa ru’yat pada suatu negeri adalah ru’yat bagi semua penduduk negeri dan hukumnya wajib.”

Lalu bagaimana dengan adanya perbedaan mathla’ (tempat munculnya hilal)?. Menurut jumhur imam madzhab (Golongan Hanafiah, Malikiyah dan Hanabilah), bahwa perbedaan matla’ tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perbedaan mengawali puasa. Maka apabila satu negeri telah melihat tanggal satu Ramadhan, seluruh negeri lainnya wajib juga berpuasa.

Mengenai hal ini, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa mengatakan:

“Orang-orang yang menyatakan bahwa ru’yat tidak digunakan bagi semuanya (negeri-negeri) seperti kebanyakan pengikut-pengikut madzhab Syafi’i, diantaranya mereka ada yang membatasi dengan jarak qashar shalat, ada yang membatasi dengan perbedaan mathla’ seperti Hijaz dengan Syam, Iraq dengan Khurasan, kedua-duanya lemah (dha’if) karena jarak qashar shalat tidak berkaitan dengan hilal…Apabila seseorang menyaksikan pada malam ke 30 bulan Sya’ban di suatu tempat, dekat maupun jauh, maka wajib puasa. Demikian juga kalau menyaksikan hilal pada waktu siang menjelang maghrib maka harus imsak (berpuasa) untuk waktu yang tersisa, sama saja baik satu iklim atau banyak iklim. ”WalLahul A’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s