Perang Media, Adakah?

Banyak hal yang selalu membuat kita penasaran. Rasa ingin tahu yang dalam, dan ketidakjelasan peristiwa yang kita saksikan hanya akan menyisakan sebuah perasaan yang tidak jelas. Benar atau salah menjadi ngambang.

Kasus terorisme ini misalnya. Antara yang jelas dengan yang tidak jelas, ternyata lebih banyak yang tidak jelasnya. Informasi hanya sepihak saja dari satu pihak. Sementara dari para pelaku tidak ada keterangan yang bisa diverifikasi kebenarannya. Nah, rasa penasaran itu terkadang muncul bertubi-tubi karena banyaknya kejanggalan yang tidak segera menemukan jawabnya.

Siapa pelaku dan dalang dari pengeboman memang serba tidak jelas. Mungkin kinerja polisi sudah sangat brilian bisa menemukan beberapa orang yang dituduh melakukan itu. Tetapi sayangnya, mereka semua mati sehingga tidak bisa diverifikasi tentang keterlibatannya. Kita pun juga akhirnya hanya menjadi penikmat berita yang terbengong-bengong karena tidak juga tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini.

Terlalu banyak hal yang janggal. Tetapi karena kita rakyat kecil yang awam dan tidak tahu apa-apa, akhirnya harus menjadi penonton setia media teve yang sangat bangga bisa menyiarkan pertama kali dibanding teve lainnya. Awalnya mungkin kita akan terkesima, tapi lambat laun rasa bosanlah yang justru akan menghampiri kita.

Sederhananya, seolah media menyajikan sebuah pertempuran antara good guy melawan bad guy. Good guy dalam hal ini tentu saja aparat keamanan yang sedang menjalankan tugas mengamankan Negara. Sementara bad guy di sini tentu saja diwakili oleh para ‘siluman’ yang dicap sebagai teroris. Ikonnya pun segera cepat tersimpulkan, Noordin M Top. Sayangnya, bad guy ini memang tidak pernah punya cara untuk menjelaskan maksudnya. Kalaupun ada, itu pun hanya via surat pernyataan yang sama sekali tidak bisa diverifikasi kebenarannya. Selain karena mungkin takut terlacak, peluang untuk ketidakabsahan pernyataan itu pun juga sangat besar. Akhirnya medialah yang berwenang memberi label dan tuduhan. Betapa banyak nama yang disebut, tanpa mereka tahu keterlibatan mereka pada aspek apa.

Sementara, Good Guy dalam hal ini sangat leluasa untuk memberi pernyataan. Menjelaskan persoalan dan mengemukakan alasan dan bukti-bukti yang ditemukan. Sedangkan bad guy hanya akan sempat nongol di televisi dengan nama alias, dan muncul dengan panutup kepala dan tangan terborgol. Maka, kalimat “apakah Anda benar terlibat’ pun akhirnya tidak terjawab. Ia tidak bisa membela, ia pun tak kuasa untuk berbicara atas nama haknya.

Nah, hasilnya bisa ditebak. Apa yang terjadi di hadapan kita semuanya menjadi tidak jelas. Yang paling jelas hanyalah bahwa terror berupa pemboman memang sudah terjadi, jelas korbannya, dan jelas kerusakannya. Ibarat bola, ekses peledakanpun menjadi sangat liar, menggelinding kemana-mana. Pencitraan keluarga pelaku, umat islam, pesantren, masjid, aktivis masjid dan seabrek stigma dengan sangat mudah terbentuk dengan sendirinya. Sementara kejelasan pelaku mungkin hanya sebatas nama dan orang yang melakukan. Sementara apakah motivnya, kenapa dia melakukannya, untuk apa, dia siapa, dan siapa yang menyetirnya, kepentingan apa yang dia bawa, semuanya kabur. Media pun akhirnya mencari kejelasan kepada para pengamat, peneliti dan akademisi, yang seringkali justru membuat kekaburan ini menjadi semakin berkabut. Akhirnya, kita sebagai publik penikmati berita, hanya bisa kembali bengong dan bertanya, apakah ini semua sandiwara?

Hum, mungkin terlalu sederhana dan polos kalau kita menyebutnya sebagai sebuah sandiwara. Apalagi nampaknya polisi sudah berjibaku dan melakukan kerja keras dan dana luar biasa untuk memberantas terorisme.Hanya saja, seringkali rasa penasaran membuat orang berpikir terbalik-balik. Bahkan seringkali memunculkan analisis yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Maka sah-sah saja kalau ternyata ada sebuah dugaan, bahwa ketidakjelasan-ketidakjelasan itu sengaja diciptakan, hanya untuk menggelindingkan ekses bola liar yang bisa menerjang siapa saja. Sekali gelinding, beberapa target perburukan citra pun akan segera tersemat. Kalau benar ini yang terjadi, maka tidak ada salahnya kalau kita semua harus selalu waspada akan adanya perang lewat media. Sudah siapkah Anda menyambutnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s