Merajut Da’wah Di Bulan Ramadhan

Adalah hal yang lumrah terjadi ketika musim pasaran tiba, maka para pedagang akan memanfaatkan momentum tersebut dengan semaksimal mungkin, dibandingkan musim-musim lainnya. Tidaklah mengherankan apabila mereka (pedagang) menjadikan musim tersebut sebagai salah satu pilar perdagangan, yaitu untuk mengeruk keuntungan dengan sebanyak-banyaknya.

Oleh karena itu, banyak pula dari para pedagang muslim yang menangguk keuntungan berlipat pada bulan-bulan haji dan Ramadhan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka Imam al-Bukhariy dalam Shahīh-nya menulis sebuah bab dengan judul: “Perniagaan di musim pasaran dan jual-beli di pasar-pasar Jahiliyyah”.

Apabila demikian keadaanya, bahwa para pedagang akan lebih banyak berkorban (waktu, tenaga, dan modal) manakala musim pasaran tiba, maka sudah barang tentu para da’i-lah yang lebih layak untuk bersemangat menyambut momen-momen tersebut, bahkan harus mengoptimalkannya dengan semaksimal mungkin, yaitu untuk menyebar luaskan seruan da’wahnya.

Begitulah keadaan pionir da’wah pertama, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, utamanya saat beliau memanfaatkan benar datangnya musim haji untuk mengepakkan sayap da’wah, karena merupakan momen terbesar berkumpulnya banyak orang. Saat itu beliau menawarkan dirinya kepada khalayak seraya berkata:

(( أَلاَ رَجُلٌ يَحْمِلُنٍيْ إِلَى قَوْمِهِ، فَإِنَّ قُرَيْشًا مَنَعُوْنِيْ أَنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبَِي ))

“Adakah seseorang yang menuntunku menemui kaumnya, karena Quraisy mengha-langiku untuk menyampaikan firman Allah” [HR. at-Tirmidziy No. 2925, Ibnu Mājah No. 201 dan Abu Dāwud No. 4734]

Beliau bahkan rela thawaf berkeliling kampung di Mina dari rumah ke rumah sebelum hijrah dengan menyerukan:

(( يَاأَيَُهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلاَ تُشْرٍكُوْ بِهِ شَيْئًا ))

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk beribadah hanya kepada-Nya dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun” [HR. Ahmad No. 15594]

Ternyata ada seorang penguntit yang senantiasa mengikuti beliau sambil berkata:

“Orang ini memerintahkan kalian untuk meninggalkan agama nenek moyang kalian”

Sang penguntit dan penghambat da’wah itu tiada lain adalah Abu Lahab.

Dalam bulan Ramadhan banyak sekali tersedia aspek positif dan lahan da’wah yang terbuka lebar bagi para da’i untuk mengepakkan sayap da’wahnya, dimana pada bulan-bulan lainnya tidak akan didapatkan.

  • Pada bulan Ramadhan hati kaum muslimin (bahkan manusia secara umum) sangatlah lunak dan ingin selalu dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sehingga tidaklah mengherankan apabila kita melihat seorang fasik yang hobi mengerjakan dosa-dosa besar, ternyata pada bulan Ramadhan keadaannya justru berubah, dia menjadi lebih lembut, lebih santun dan bahkan lebih alim.

  • Pada bulan Ramadhan “pengunjung” masjid semakin bertambah banyak.
  • Pada bulan Ramadhan banyak orang yang “lebih siap” dan “lebih mau” untuk menerima nasehat.
  • Pada bulan Ramadhan kaum muslimin yang pergi ‘umrah bertambah melimpah, sehingga hal ini menjadi moment da’wah yang sangat berharga bagi para da’i, baik yang berdomisili di ‘Arab Saudi maupun di tempat lainnya.
  • Pada bulan Ramadhan kaum muslimin sangat berkeinginan keras untuk mengeluarkan zakat dan shadaqah, sehingga hal ini menjadi moment berharga bagi para da’i untuk memotivasi khalayak agar mereka membelanjakan dan memberdayakan hartanya untuk sesuatu yang bermanfaat.
  • Pada bulan Ramadhan dapat diadakan acara “buka puasa bersama”, sehingga hal ini menjadi moment untuk saling berbagi kasih dan berbagi kebaikan, dan sangat memungkinkan bagi para da’i untuk mengiringi acara tersebut dengan program da’wah terpadu (kultum, nasehat singkat atau hal lainnya).
  • Pada bulan Ramadhan kaum wanita yang mengunjungi masjid semakin bertambah, sehingga hal ini menjadi momen berharga bagi para da’i untuk membina mereka sebagai pilar ummat (para ibu atau calon ibu).

Moment ini sangat susah didapatkan karena banyak dari kaum wanita datang ke masjid hanya untuk menunaikan shalat tarawih.

  • Pada bulan Ramadhan kaum muslimin sangat memperhatikan ibadah shiyām (puasa), bahkan tidak ingin melalaikannya, meskipun sering tidak ikut mendirikan shalat.

Berbagai keistimewaan dan karakteristik tersebut di atas, bukankah hal ini merupakan momentum berharga bagi para da’i untuk menyadarkan kaum muslimin (ataupun non muslim) untuk memperbaiki keadaan diri mereka dan untuk meluruskan penyimpangan nyata yang melanda mereka?

Satu hal yang pasti, bahwa momentum ini harus dimanfaatkan oleh para da’i untuk mengepakkan sayap da’wah dan meragamkan materi-materi da’wahnya. Sehingga seruan da’wah pada bulan Ramadhan tidak hanya terbatas pada masalah bagaimana memanfaatkan Ramadhan, membaca al-Qur’an dan shalat tarawih saja.

Meskipun hal tersebut adalah hal penting yang harus ditekankan, namun masih banyak hal lain yang penting atau bahkan wajib dilaksanakan dalam kehidupan kaum muslimin, seperti taubat, membersihkan hati, menjauhi hal-hal yang membinasakan, menunaikan kewajiban Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hal-hal lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s