Hati-hati Menggunakan Kata ‘Bagi’

“Good morning!” said Bilbo, and he meant it.  The sun was shining, and the grass was very green.  But Gandalf looked at him from under long bushy eyebrows that stuck out further than the brim of his shady hat.  “What do you mean?” be said.  “Do you wish me a good morning, or mean that it is a good morning whether I want it or not; or that you feel good this morning; or that it is morning to be good on?”

(Dikutip dari The Hobbit, novel karya J.R.R. Tolkien)

Pilihan kata melambangkan sebuah konsep; sebuah cara berpikir yang dilambangkan dalam bentuk tulisan atau ucapan, agar orang lain dapat memahami apa yang kita ungkapkan.  Rasulullah saw. dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak berkata-kata, namun ketika angkat bicara, beliau akan memilih kata-katanya dengan sangat seksama.  Agama Islam mengajarkan satu kaidah lain yang lebih berat lagi : berkata baik, atau diam.  Jadi, kata-kata yang terlontar dari lisan kita tidak hanya mesti kita pahami maknanya, tapi juga harus dipahami betul-betul konsekuensinya.

Kini kita jumpai umat yang seringkali tidak tahu mesti berkata apa, bahkan ketika berkata-kata pun entah apa yang dimaksudnya.  Ucapan-ucapan seperti “Good morning!” atau “Selamat pagi!” pun sudah kehilangan makna, karena tak ada lagi yang memikirkan maksudnya.  Basa-basi, kata orang.  Tapi, apakah basa-basi itu sebenarnya?  Sekedar ucapan yang nyaris dianggap sebagai sebuah kewajiban, dan tak diucapkan selain karena kelaziman semata?  Jika hubungan antarmanusia memang dibangun dengan ucapan-ucapan kosong tak bermakna, maka yang dihasilkan pun tak lebih dari hubungan tanpa makna.  Mungkin itulah sebabnya generasi masa kini gandrung dengan ‘hubungan tanpa status’.  Entah apa artinya!

Belakangan ini, kerap kali kita lihat penggunaan kata “bagi” yang tidak mempertimbangkan makna dan konsekuensinya.  Beberapa kalimat yang menggunakan kata tersebut sudah taken for granted, sehingga tak banyak yang menyadari seperti apa pemikiran yang ada di belakangnya.

  • “Bagi saya, akhlaq harus didahulukan daripada fiqih.”
  • “Bagi saya, surga Tuhan itu luas; orang Islam masuk dari pintu Islam, yang Budha masuk dari pintu Budha, yang Yahudi pun punya pintunya sendiri.”
  • “Bagi saya, semua agama itu sama baiknya.”

Seperti dapat dengan mudah ditebak dari contoh-contoh di atas, kata “bagi” benar-benar telah dieksploitasi secara maksimal oleh kalangan liberalis-pluralis.  Kata “bagi” yang sebenarnya mencerminkan preference atau kecenderungan pribadi berdasarkan selera semata malah digunakan untuk membicarakan hal-hal di mana selera tak ada kuasa di dalamnya, seperti agama.  Agama diperlakukan sesuai selera.  Herannya, kita tak pernah melihat orang-orang pluralis-liberalis menggunakan kata “bagi” dalam kalimat semisal, “Bagi saya, lampu merah itu artinya jalan terus!”, atau “Bagi saya, sekolah itu percuma!”

Dalam kajian agama di Barat, kata “agama” (“religion itu sendiri memang sudah membuat para pemikir menjadi putus asa untuk mendefinisikannya.  Jika yang ini disebut agama, yang itu pun ingin disebut agama, bukan sekedar kepercayaan.  Lalu apakah yang ini disebut agama, atau hanya sebuah sekte?  Yang ini aliran menyimpang, agama baru, atau harus diakui sebagai perbedaan madzhab semata?  Itulah sebabnya Wilfred Cantwell Smith, salah seorang pemikir utama di kalangan pluralis, beranggapan bahwa istilah agama itu sendiri selayaknya ditinggalkan saja selamanya dan tak perlu dipakai-pakai lagi, karena terlalu sulit mendefinisikannya.  Lebih lanjut, oknum yang sama mengusulkan dibentuknya sebuah ‘teologi dunia’ atau ‘teologi global’ (world theology atau global theology) sebagai ganti dari agama-agama yang telah ada.  Menurut sebagian madzhab pluralisme, agama-agama yang ada sekarang ini memang memiliki ‘corak lokal’, dan mendapatkan karakteristik khasnya karena di masa lalu telah terisolasi dari kultur lain.  Sekarang, di era globalisasi ini, masalah isolasi sudah teratasi, sehingga agama-agama dianggap layak untuk dirombak lagi dengan mengambil nilai-nilai dari berbagai kultur budaya di muka bumi.

Sebagai ganti dari istilah “religion”, banyak pemikir di Barat menggunakan istilah “religious experience” (pengalaman religius).  Pergantian istilah ini juga ada sebabnya.  Menurut kalangan pluralis, agama adalah respon manusia terhadap Tuhan yang Maha Esa.  Jadi meskipun Tuhannya satu, karena manusianya macam-macam, maka agamanya pun macam-macam.  Ada yang mendapatkan pengalaman religius dengan shalat, ada juga yang merasa tenteram dengan menyembah pohon.  Ada yang membuat keputusan yang pelik dengan shalat istikharah, ada yang menunggu keputusan dukun, ada juga yang mencari wangsit ke kuburan.  Ada yang mencari ketenangan dengan bermunajat kepada Allah, ada juga yang menari-nari sampai pusing dan muntah-muntah, atau menjalankan ritual seks beramai-ramai.  Semuanya sah-sah saja, karena ajaran yang satu mungkin cocok untuk seseorang, namun tidak untuk yang lain.

Annie Besant, salah seorang penghulu pluralisme dan aliran Teosofi, berpendapat bahwa agama memang diturunkan sejalan dengan tingkat evolusi manusia.  Yang tingkat evolusinya rendah mendapatkan agama yang berbeda dengan manusia yang evolusinya sudah mencapai tahap lanjut.  Orang-orang bodoh memang agamanya sengaja dibikin beda dengan mereka yang pintar-pintar; itulah kebijaksanaan Tuhan.  Senada dengan cara pandang itu, sebuah majalah sekuler pernah mengatakan bahwa dzikir itu hanya cocok untuk mereka yang belum matang imannya, sehingga mesti melantunkan bacaan-bacaan tertentu agar pikirannya terkoneksi dengan Tuhan.  Arogan memang, tapi apa yang bisa kita harapkan dari orang-orang yang menilai agamanya dengan selera pribadi?

Dengan dasar semua pemikiran itulah, maka kata “bagi” digunakan dengan semena-mena dalam pembicaraan soal agama.  Seolah-olah manusialah yang mengatur agama.  Agama terserah dirinya, mau shalat atau tidak, yang penting ingat Allah.  Mau shaum atau tidak, yang penting mawas diri.  Mau membayangkan Tuhan seperti apa terserah, yang penting terbayang.  Mau Tuhan yang beranak atau yang tidak, bertanduk atau tidak, berekor atau bercula, berkepala tiga atau bersenjatakan tombak, yang jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan, yang secara aktif terus memelihara alam semesta atau yang duduk kelelahan setelah menciptakan dunia, yang menciptakan surga dan neraka atau yang menciptakan surga saja, yang menciptakan segala sesuatunya tanpa kesia-siaan atau yang sekedar bermain dadu; semuanya bisa dipilih!  Yang mana saja yang membuat hati manusia senang, maka anutlah agama itu!

Maka agama pun sudah tak ada lagi batas tegasnya dengan hawa nafsu, karena segalanya diukur dengan kesenangan manusia.  Pada saat itulah, teologi menjadi antropologi, agama menjadi budak manusia, sedangkan manusia entah menghamba kepada siapa.

Jadi, berhati-hatilah menggunakan kata “bagi”!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s