Hafidz Abdurrahman: Kita Butuh Jalan Baru!

Indonesia telah menyelenggarakan pilpres setelah sebelumnya pilleg. Akankah ada perubahan di Indonesia?

Perubahan mungkin saja terjadi, tetapi hanya pergantian orang atau aktornya saja, bukan sistem.

Mengapa tidak akan ada perubahan?

Karena, rel (jalan) yang dilalui tetap tidak pernah berubah, yaitu jalan Kapitalisme dan Sekulerisme. Apa indikasinya? Kapitalisme adalah ideologi yang meyakini pemisahan agama dari kehidupan, baik bermasyarakat maupun bernegara. Inilah yang disebut dengan Sekulerisme. Jadi, Kapitalisme dan Sekulerisme ini tidak bisa dipisahkan. Paham Sekulerisme ini membolehkan agama hidup, tetapi tidak boleh mengatur kehidupan. Pendek kata, Sekulerisme ini menolak formalisasi agama. Karena, agama dianggap urusan private (pribadi).  Padahal, ketika agama tidak boleh mengatur urusan kehidupan, baik bermasyarakat maupun bernegara, maka urusan tersebut pasti diatur dengan aturan lain. Pasti, aturan itu bukan dari agama, melainkan dari otak dan hawa nafsu manusia. Memang, tidak semua agama mempunyai aturan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan sebagainya, tetapi tidak dengan Islam.

Karena itulah, kami menawarkan Islam sebagai sistem untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, menggantikan Kapitalisme-Sekulerisme. Sebab, sistem inilah yang kompatibel (sesuai-red) dengan keyakinan mayoritas rakyat di negeri ini. Jika sistem ini diambil dan diterapkan, maka dalam waktu singkat, rakyat dan negeri Muslim terbesar ini akan bangkit dan menjadi adidaya baru dunia.

Apakah tiadanya perubahan ini disengaja?

Benar. Ini bisa kita buktikan, setidaknya dari aspek: pertama, para pelaku politik dan pengambil kebijakan itu sudah tahu, bahwa ada sistem lain yang lebih baik, yaitu sistem Islam, dan sistem ini kompatibel dengan keyakinan mayoritas rakyat di negeri ini, tetapi tetap saja mereka tidak mau mengambil dan menerapkannya. Kedua, keinginan rakyat agar sistem ini diterapkan semakin meningkat, terbukti dari berbagai survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga dengan lintas agama dan ideologi, semuanya menunjukkan hasil yang hampir sama. Tidak kurang dari 80 persen rakyat Indonesia mendukung diterapkannya syariah. Tapi, mengapa para pelaku politik dan pengambil kebijakan itu tetap tidak hirau dengan aspirasi mayoritas rakyat?

Dari dua aspek ini, sebenarnya sudah jelas, bahwa tiadanya perubahan itu karena disengaja. Namun, supaya tidak tampak, kesengajaan itu pun dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai dalih: pertama, fakta perolehan suara partai Islam yang kalah dibanding dengan partai Sekuler, yang kemudian diklaim, seolah-olah partai Islam dengan jualan syariahnya tidak laku. Kedua, gerakan yang dilakukan oleh kelompok Sekuler, melalui berbagai LSM yang dibayar oleh asing, untuk menyuarakan penolakan pada syariah, baik secara langsung maupun dibungkus dengan hasil penelitian, dan sebagainya. Ketiga, rezim media yang menguasai opini, memang sengaja diarahkan dan dibentuk untuk melanggengkan sistem Kapitalisme-Sekulerisme itu.

Siapa yang berkepentingan terhadap status quo ini?

Ada dua: pertama, orang Indonesia yang diuntungkan dengan status quo tersebut. Mereka inilah yang selama ini menikmati segala fasilitas dan jaminan hidup dengan status quo-nya. Mereka ini terdiri dari penguasa, organisasi massa, LSM, media dan sebagainya. Kedua, orang asing, tepatnya penjajah yang ingin tetap mempertahankan cengkramannya di negeri ini. Dulu Belanda, tetapi setelah perang kemerdekaan, posisi itu digantikan oleh AS. Posisi AS sejak dekade 50-an sampai sekarang tidak berubah. Artinya, AS masih tetap mencengkeram Indonesia. Meski, dalam hal ini, AS tidak sendiri. Di sana juga ada Inggris, Uni Eropa dan lain-lain. Melalui siapa? Ya, melalui kelompok pertama tadi. Buktinya apa? Munculnya UU Migas, UU SDA, UU PM sampai privatisasi BUMN, tambang gas, minyak, batubara, privatisasi pendidikan, dan penolakan UU Pornografi-Pornoaksi. Jadi kedua kelompok inilah yang sebenarnya berkepentingan mempertahankan status quo negeri ini.

Hanya saja, untuk menutupi belang mereka, mereka selalu menyerang orang dan kelompok lain sebagai orang atau kelompok yang membahayakan Indonesia. Padahal, yang sudah terbukti dan jelas-jelas membahayakan, bahkan merusak dan menghancurkan Indonesia ya mereka itu.

Artinya Indonesia ini belum mandiri atau dengan kata lain belum merdeka?

Iya. Meski, secara fisik tampak sudah, tetapi secara non-fisik belum. Buktinya, intervensi politik oleh negara-negara penjajah sangat besar, sebagaimana dalam kasus Ahmadiyah. Belum lagi intervensi ekonomi, seperti proyek-proyek pembangunan yang dibiayai oleh Bank Dunia, IMF atau ADB. Termasuk perpanjangan kontrak karya yang sangat merugikan Indonesia, seperti dalam kasus Blok Cepu dan Natuna.

Bisakah kita melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada sekarang?

Bisa. Dalam politik tidak ada yang tidak bisa. Karena politik adalah fann al-mumkinat, seni kemungkinan. Semuanya serba mungkin.

Bagaimana syarat sebuah perubahan?

Perubahan itu selalu membutuhkan dua hal, yaitu gagasan dan aktor. Gagasan dalam konteks perubahan itu, dalam bahasa Hizbut Tahrir, ada dua, yaitu fikrah dan thariqah, atau ide dan metode operasional. Di dalam ide itu ada akidah. Misalnya, apakah akidahnya boleh akidah mazhab, seperti Ahlussunnah, Muktazilah, Jabariyah, Syiah, atau cukup akidah Islam saja? Ini sudah dirumuskan, dan tentu kembali kepada visi dan misinya, yaitu ingin mewujudkan tatanan masyarakat seperti apa? Apakah masyarakat Islam, titik, sehingga keberadaan mazhab ditolelir, atau masyarakat ala mazhab tertentu, sehingga posisi mazhab lain bisa terancam? Demikian juga sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, peradilan, politik dalam dan luar negerinya juga menjadi bagian dari ide ini. Tetapi, itu saja belum cukup, karena ide-ide tersebut belum bisa diterapkan, disebarkan dan dipertahankan, jika tidak ada metode operasionalnya. Maka, adanya metode operasional, atau thariqah tersebut mutlak diperlukan.

Dalam bahasa saya, perubahan itu membutuhkan master plan, atau rancangan induk tentang sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, peradilan, politik dalam dan luar negeri. Agar jelas arah dan langkah perubahan yang hendak dibangun dan diwujudkan. Tapi ini belum cukup. Karenanya harus ada road map (peta jalan), yang menggariskan langkah-langkah ke sana. Dengan kata lain, perubahan itu membutuhkan master plan dan road map. Namun, master plan dan road map itu tidak bisa jalan sendiri, kalau tidak ada aktor. Maka, adanya aktor  juga menjadi faktor penentu perubahan. Aktor bisa pribadi, yang kemudian membentuk kelompok atau organisasi, dan secara simultan dan konsisten pribadi dan organisasi tersebut berjuang mewujudkan master plan, melalui road map yang sudah digariskan.

Baru-baru ini HTI mengeluarkan Manifesto. Adakah ini terkait dengan proses perubahan?

Iya. Sebagaimana yang saya pernah sampaikan, bahwa manifesto ini didedikasikan oleh Hizbut Tahrir untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Kapitalisme-Sekulerisme. Untuk bangkit dan merdeka dari segala bentuk penjajahan, sehingga Indonesia dengan syariah dan Khilafah akan menjadi adidaya baru dunia, menggantikan AS, Inggris, Uni Eropa, Rusia dan Cina. Dengannya, Indonesia bukan saja maju secara fisik, tetapi juga mendapatkan ridha Allah, serta keberkatan dari langit dan bumi.

Apa saja isi Manifesto tersebut?

Manifesto ini merupakan pernyataan sikap Hizbut Tahrir yang terkait dengan sejumlah topik, mulai dari pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sistem peradilan, politik dalam dan luar negeri. Semuanya merupakan hukum-hukum Islam yang digali dari Alquran, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas, yang diadopsi di dalam buku-buku pembinaan Hizbut Tahrir.

Apakah manifesto ini aplikatif atau sekadar wacana?

Lazimnya hukum Islam, tidak ada hukum Islam yang tidak aplikatif. Karena hukum Islam ini diturunkan oleh Allah untuk mengatur seluruh problem kehidupan manusia. Tetapi, apakah ini sekadar wacana atau tidak? Kembali kepada, apakah diterapkan atau tidak. Kalau hanya menjadi bahan diskusi, ya masih wacana, tetapi kalau sudah diterapkan, tentu bukan wacana lagi.

Bagaimana Manifesto itu bisa dilaksanakan?

Lazimnya gagasan atau tawaran gagasan, bisa dan tidaknya dilaksanakan tergantung pada dukungan politik terhadap gagasan tersebut. Sebab, bisa dan tidaknya dilaksanakan, tergantung apakah ada political will atau tidak untuk melaksanakannya. Dari siapa? Pertama, Hizbut Tahrir sendiri jelas, mempunyai political will yang kuat untuk terlaksananya manifesto tersebut. Kedua, rakyat. Sebenarnya, political will rakyat ke arah sana juga cukup kuat. Ini dibuktikan dari hasil sejumlah survei tentang syariah. Namun, sayangnya aspirasi mereka ini tidak tertampung dan tersalurkan, karena tidak ada satu partai politik peserta pemilu yang menyuarakan itu. Ketiga, aktor politik dan pengambil kebijakan. Secara umum, belum ada political will ke arah sana. Pada titik inilah, justru political will tersebut sangat lemah, karena mereka cenderung pragmatis. Karena itu, Hizbut Tahrir tidak henti-hentinya terus berdakwah, menawarkan gagasannya kepada mereka.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap orang-orang Islam yang mencibir jalan baru tersebut?

Karena jalan baru yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir ini jelas merupakan ajaran Islam, bukan yang lain, maka mencibir gagasan ini sebenarnya sama dengan mencibir Islam. Ini tidak boleh. Hanya saja, tetap harus dilihat, apakah mereka mencibir karena tidak paham, salah paham atau pahamnya yang salah? Bagi yang tidak paham, harus dijelaskan. Yang salah paham harus diluruskan. Adapun yang pahamnya salah harus dibetulkan.

Apa yang harus dilakukan umat sekarang agar Islam itu tegak?

Berjuang sungguh-sungguh dan terukur. Sebab, kalau sungguh-sungguh tidak terukur, sudah banyak, tetapi kan tidak pernah berhasil. Misalnya, apakah mereka sudah tahu seperti apa master plan perjuangan yang hendak mereka wujudkan? Kalau belum tahu, harus segera mencari tahu, dan setelah tahu harus diperjuangkan. Setelah itu, bagaimana road map-nya? Dari sini, satu per satu proses tersebut harus dilakukan dengan sungguh-sungguh hingga master plan tersebut benar-benar terwujud. Termasuk, apakah mereka berjuang sendiri-sendiri, atau bersama organisasi? Kalau harus  bersama organisasi, maka organisasinya seperti apa? Pendek kata, yang harus dilakukan oleh umat saat ini adalah bergabung dengan orang-orang ikhlas yang berjuang dengan sungguh-sungguh, jujur dan konsisten untuk tujuan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s