“Pelet” Media AS Samarkan Citra Arab – Islam

Paul J. Balles menunjukkan betapa media-media AS betul-betul menerapkan ucapan Joseph Goebbel. Ucapan Goebbel berbunyi, “bahwa sebuah kebohongan, jika dilakukan dengan berani dan diulang berkali-kali, maka kebohongan tersebut akan merasuk ke dalam pikiran massa dan akan dipercaya.”

Dengan penerapan slogan Goebbel tersebut, media-media AS telah menghasilkan sebuah kebencian dan sikap anti-Arab yang berlebihan. Mulai dari orang-orang seperti Steve Emerson (wartawan, penulis anti-Islam), Alan Dershowitz (pengacara,

“Kendalikanlah radio, media, perfilman dan teater,” kata Joseph Goebbels, menteri propaganda Adolf Hitler. Dia menyempurnakan sebuah pengertian terhadap teknik propaganda ‘kebohongan besar’ yang didasarkan pada prinsip bahwa sebuah kebohongan, jika dilakukan dengan berani dan diulang berkali-kali, akan dipecaya oleh massa.

Sistem cuci otak ala Barat dilakukan melalui jalur media. Para pembaca, pendengar dan pemirsa harus bersikap waspada terhadap sumber-sumber propaganda. Mengenai media secara umum, Steven Salaita mengatakan:

“Kesembronoan media-media AS dalam menerapkan kata ‘terorisme’ terhadap populasi Arab telah memperkuat gagasan bahwa dunia Arab tidak memiliki sejarah dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan. Orang-orang Arab digambarkan sebagai orang-orang tanpa arah yang berada dalam sebuah budaya yang tidak rasional.”

Steve Emerson memiliki sebuah situs internet dan blog yang sarat dengan pesan-pesan anti-Arab. Profesor hukum Harvard, Alan Dershowitz menyatakan bahwa seluruh orang Arab adalah teroris dan oleh karena itu mereka layak dibantai. Yahudi berdara Amerika-Israel, Caroline Glick, deputi editor Jerusalem Post, menulis dua kolom dua mingguan yang menyebarkan propaganda garis keras Israel.

Dalam perkembangannya, Ruth Conniff mengesahkan sebuah ungkapan yang salah kaprah yang menyatakan bahwa kekerasan memang terjadi antara Arab dan Israel, namun terorisme adalah istilah khusus untuk Arab. Ketika orang Arab bertempur melawan Israel, maka mereka disebut bersalah karena melakukan “serangan teror”, namun ketika Israel berperang, tindakan mereka disebut “serangan militer balasan”.

Di radio-radio anti-Arab, akan banyak terdengar kata-kata seperti, “Orang-orang Arab mencintai Diktator,” dan “Obama adalah seorang Arab,” sehingga seolah-olah menjadi orang Arab adalah sebuah hal yang berada di luar kemanusiaan. Jika mereka tidak menyebut orang Arab sebagai “joki unta” atau “kepala kain”, maka mereka menyebut orang Arab sebagai kaum fasis-Islam. Bersama dengan penyiar-penyiar macam O’Reilly, Sean Hanity, Lou Dobbs dan Glenn Beck, Fox News tetap stabil sebagai media propaganda anti-Arab.

Film-film Hollywood telah memfitnah dunia Arab selama berpuluh-puluh tahun. Dalam sebuah tayangan televisi Arab, Jack Shaheen mengungkapkan bagaimana televisi telah memberikan stereotipe kepada orang Arab sebagai “miliarder, pengebom, dan penari perut.”

Bahkan ketika masih kecil, Shaheen merasa terganggu dengan stereotipe Arab yang ditampilkan dalam karakter kartun anak-anak.

Shaheen mengatakan bahwa pencitraan buruk terhadap orang Arab – dari bandit-bandit dan selir-selir sheikh antagonis, hingga “teroris” bersenjata – semuanya telah menghancurkan citra Arab sejak dimulainya industri perfilman dalam era film bisu.

Dalam buku terbarunya yang berjudul Guilty: Hollywood Verdict on Arabs after 9/11 (Bersalah: Putusan Hollywood kepada orang-orang Arab setelah 9/11), terungkap bahwa industri film membentuk pola pikir masyarakat Amerika terhadap dunia Arab.

Sarjana Muslim, Ziauddin Sardar memperjelas bahwa pencucian otak anti-Islam bukanlah sebuah hal yang baru. “Mulai dari jaman Voltaire hingga tahun 1980, berkat upaya dari para sarjana Pencerahan, Barat selalu membenarkan anggapan bahwa Islam tidak pernah menghasilkan hal-hal berharga dalam hal filosofi, ilmu pengetahuan dan pembelajaran.”

Segala bentuk propaganda telah mencapai massa, hal tersebut diperjelas dengan sejumlah cercaan yang beredar di dunia maya, misalnya saja kata-kata seperti: “Persetan kalian semua, NEGRO PADANG PASIR! Semoga kami berhasil meledakkan kalian semua dan merampas satu-satunya hal yang baik dari kalian, minyak!”

Seolah masih belum cukup untuk mencerca dunia Arab. Orang yang menuliskan kalimat tersebut harus menekankannya dengan penggunaan tanda seru, menulis pesannya dalam huruf kapital. Hal tersebut mengungkapkan betapa efektifnya propaganda anti-Arab di Amerika.

Siapapun yang mengendalikan media dapat mengendalikan sikap mental dari masyarakat. Orang-orang Amerika telah diprogram untuk membenci Arab dan Muslim dan mencintai Israel. Meski sulit diterima akal sehat, bagaimana mungkin warga Amerika berikap acuh terhadap pembantaian jutaan orang Arab di Irak, meski mereka tahu bahwa itu semua berdasarkan pada kebohongan semata. Jawabannya adalah propaganda dan pencucian otak selama berpuluh-puluh tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s