Antara Militan dan Teroris

Televisi pada tanggal 7-8 Agustus 2009 udah menayangkan ‘reality show’ paling heboh, yakni perburuan teroris di Temanggung. Meski banyak pihak yang meragukan apakah korban tewas adalah orang yang selama ini dicari, yakni Noordin M Top. Susah juga mengklarifikasi dan memverifikasi berita seperti itu. Karena nampaknya banyak wartawan yang akhirnya hanya percaya pada satu sumber, yakni pihak kepolisian. Padahal, selama ini pertanyaan lain juga masih banyak yang belum terjawab soal terorisme ini. Ah, makin kentara deh skenario opini yang tengah dibangun saat ini, yakni menggiring masyarakat bahwa terorisme ada bubungannya dengan Islam, dengan ustad, dengan pesantren, dan sejenisnya. Kacau banget tuh!

Bro en Sis, kita mungkin nggak terlalu peduli apakah yang jadi korban adalah beneran orang yang selama ini cari, dan dituduh sebagai teroris, atau orang yang lain. Susah juga konfirmasinya, wong korbannya udah jadi mayat. Tapi yang harus kita perhatikan adalah banyaknya opini yang menyebutkan bahwa para teroris itu adalah orang-orang dari Islam garis keras. Lha, kirain minuman doang yang pake embel-embel keras, ternyata ada juga ya orang yang bilang Islam garis keras. Menurut mereka, pemahaman Islam yang radikal-fundamentalis-militan inilah yang membuat banyak keonaran. Halah, mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Amerika dan Israel adalah contoh nyata terorisme yang dilakukan oleh negara. Jelas, kedua negara ini sudah mempertontonkan kebiadaban. Jadi, sebenarnya yang layak disebut teoris adalah Amerika, Israel dan para begundalnya yang mendukung aksi kedua negara tersebut. Bukan Islam dan kaum muslimin. Iya nggak sih?

Militan itu…

Kalo kamu mau rajin baca-baca buku or surfing di internet nyari istilah tentang militan, insya Allah bisa kamu dapatkan datanya. Enak kan bisa tambah wawasan? Selain itu, kamu jadi lebih bijak memandang persoalan, utamanya dalam menyikapi istilah militan ini. Istilah militan dipahami oleh sebagian orang sebagai sikap yang selalu berhubungan dengan kekerasan, selalu berhubungan dengan kengototan, dan berkaitan dengan sikap selalu pengen menang sendiri. Tambahannya, orang yang militan nyaris selalu identik dengan kesan garang. Halah, padahal tak selamanya cap itu benar, Bro. Sebab, dalam kondisi tertentu, ternyata kita kudu punya semangat dan memiliki gairah dalam belajar dan bekerja. Itu juga bisa disebut militan. Nah, lho.

Oke deh, jika kamu baca Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakalan menemukan definisi militan. Di situ disebutkan bahwa militan adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras.

Kalo pengen lebih mantep, ada definisi dari kamus lainnya. Misalnya dalam MiriamWebster Dictionary tertulis, bahwa istilah ini termasuk kata sifat dan kosakata ini dimasukkan ke dalam kamus pertama kali pada abad ke-15. Dalam kamus ini, militan didefinisikan sebagai, “engaged in warfare or combat” (disibukkan dalam peperangan atau pertempuran). Dalam kamus ini juga disebutkan militan adalah menunjukkan sikap yang agresif dan aktif banget.

Hal serupa dijelaskan pula dalam Cambrige International Dictionary, istilah militan sebagai kata sifat didefinisikan sebagai, “active, determined and often willing to use force” (aktif, tekun, dan acapkali sudi untuk menggunakan kekuatannya).

Militan sebagai kata sifat juga didefinisikan dengan berjuang atau berperang. Arti lainnya, memiliki karakter bertempur, agresif, khususnya dalam menghadapi (suatu) perkara. Militan sebagai kata benda, didefinisikan sebagai perjuangan, pertempuran, atau agresivitas; baik individu ataupun partai (The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition. Published by Houghton Mifflin Company.)

Dan, militan juga didefinisikan sebagai “self-assertive” (ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di mana-mana. (WordNet ® 1.6, © 1997 Princeton University)

Dari semua definisi yang disebutkan tadi tentunya kamu udah mulai paham. Seterusnya, tentu bisa membedakan, mana yang pantas dan tidak pantas dalam hidup ini. Mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, istilah militan ini bisa diterapkan dalam kasus yang baik-baik. Sebab, militan lebih identik dengan individu atau kelompok yang selalu bergairah, tekun, gigih, punya semangat tinggi, pantang menyerah, tidak mudah untuk putus asa meski banyak rintangan dan hambatan. Bahkan acapkali, rintangan yang ada di hadapannya dianggap sebagai tantangan. Untuk sikap-sikap seperti itu, tentunya juga berlaku umum alias untuk siapa saja dan dari kalangan mana pun; bisa seorang pekerja, seorang pendidik, seorang tentara, pelajar, atau profesi lainnya.

Hanya saja, saat ini istilah militan makin menyempit. Terbukti, saat ini istilah militan ‘cuma’ ditujukan dan selalu identik dengan orang atau kelompok yang kadang diberi label ‘garis keras’. Ini yang kemudian menempatakan istilah ini tidak pada tempat yang semestinya. Bahkan cenderung dibumbui sinisme kepada individu atau kelompok tertentu.

Ambil contoh kasus penyerangan WTC 8 tahun lalu (11 September 2001), Bush langsung menguber kelompok al-Qaida—apa yang disebutnya sebagai militan garis keras, yang dituduhnya sebagai dalang teror terhadap menara kembar itu. Di Indonesia, kasus Bom Bali I (Oktober 2000) hingga Bom di JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli  2009 juga dihubungkan dengan aktivitas kelompok Islam garis keras, kelompok Islam militan, yang didalangi Noordin M Top. Wah, wah, wah benar-benar trial by press alias penghakiman oleh media massa tertentu terhadap Islam.

Akibatnya, opini yang terbangun menjadi tidak berimbang, alias njomplang. Walhasil, masyarakat jadi alergi dengan istilah militan. Ya, lain di kamus lain pula dalam pandangan masyarakat. Celakanya, istilah militan dalam pandangan masyarakat yang nampaknya lebih mendominasi pengertian istilah ini. Gawat memang!

Meluruskan pemahaman masyarakat

Kadang masyarakat memang kejam. Meski tidak memiliki aturan secara tertulis, tapi tajamnya kecaman bisa berdampak buruk. Remaja militan, dalam kondisi masyarakat yang seperti sekarang ini, seperti sebuah kanker ganas yang harus segera disingkirkan.

Sebuah pengalaman pernah saya alami. Waktu itu pernah ikut membina teman-teman remaja dalam mengelola organisasi remaja masjid. Saat organisasi itu tumbuh dan semarak dengan berbagai kegiatan; seminar, pengajian, baca al-Quran dan lainnya, anehnya banyak tanggapan miring yang dialamatkan kepada teman-teman remaja masjid. Padahal, sejak maraknya masjid oleh berbagai kegiatan keislaman, banyak remaja berkumpul di masjid. Masjid menjadi lebih berarti. Hanya saja, gara-gara bentuk kegiatan dan pemahaman yang menurut pihak DKM sedikit berbeda dengan yang dipahami selama ini oleh mereka, akhirnya teman-teman remaja langsung dicurigai.

Ini memang aneh, padahal jika ‘perbedaan’ yang menjadi masalah, kan bisa ditempuh dengan jalur dialog. Tul nggak? Nah, yang terjadi justru sebaliknya. Main berangus aja. Secara sepihak lagi. Waduh. Alasannya, aktivitas itu katanya menganggu ketentraman warga. Glodaks! Apa nggak salah? Justru banyak juga warga masyarakat yang seneng dengan maraknya kegiatan tersebut, lho. Pertanyaannya, apakah karena sedikit perbedaan lalu mengambil jalur keras; diancam dan diberangus? Mbok ya kalo berbeda, misalnya, kan bisa ditegur, bisa diajak dialog. Dan teman remaja diminta untuk menjelaskan tentang pendapatnya itu. Insya Allah bisa dicari titik temu. Sayang, ‘penyakit’ status quo seringkali mengalahkan akal sehat. Akibatnya, bukan saja tamat riwayat organisasi remaja itu,  tapi sekaligus memadamkan semangat dan kreativitas remaja masjidnya. Kasihan.

Pandangan masyarakat seperti ini jelas merugikan perjuangan Islam. Bahkan memadamkan semangat yang mulai menyala dalam dada setiap remaja Islam. Padahal, gampang-gampang susah menumbuhkan rasa cinta kepada Islam di kalangan remaja. Eh, yang baru tumbuh malah dibabat. Apa nggak kejam tuh? Anehnya lagi, dalam waktu yang bersamaan, masyarakat seringkali menutup mata, atau tepatnya cuek dengan maraknya remaja yang gaul bebas, seks bebas, pacaran, mengumbar aurat, kejerat narkoba, bahkan yang doyan berantem antar temannya. Untuk semua itu, nggak ada kampanye dalam rangka menyadarkan mereka. Sebaliknya, ya itu tadi, dibiarkan. Pokoknya, dipandang sebelah mata deh. Ah, masak beraninya kepada yang benar? Masak kepada yang nakal takut? Tapi inilah faktanya, sobat. Aneh bin ajaib memang.

Pertanyaannya, kenapa masyarakat bisa seperti itu? Nah, ini yang kudu kamu tahu, sobat. Sebab, nggak mungkin dong orang ujug-ujug benci kalo nggak ada alasan yang menurut mereka ‘wajib’ dibenci. Orang yang cinta saja kudu ada alasannya, kenapa ia mencintai. Tul nggak?

Nah, kalo ditelusuri ternyata masyarakat kita mengidap sejenis penyakit Islamophobia, alias ketakutan terhadap Islam. Ambil contoh, ada anak puteri yang ‘cuma’ pakai kerudung ke sekolah aja dicurigai. Lucunya, banyak prasangka yang nggak-nggak di kalangan guru sendiri. Dibilangin ikut aliran ini dan itu. Kalo kebetulan kegiatan remaja masjid sekolah di sekolah umum marak, mereka mulai dimata-matai. Bahkan pihak sekolah nggak segen untuk menghentikan, dengan alasan, ini bukan sekolah agama. Konon kabarnya nggak rela kalo di sekolah umum justru yang maraknya adalah kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Walah?

Bro en Sis, apa nggak kesel bin gondok digituin? Padahal, yang kita lakuin itu adalah sebagai wujud kecintaan kita kepada Islam. Kita bangga dong bisa menjadikan Islam sebagai identitas kita. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kita remaja muslim. Teman remaja puteri rapi berkerudung dan berjilbab, justru karena ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya adalah seorang muslimah yang berusaha untuk menjalankan satu kewajiban dalam ajaran agamanya. Teman remaja putera yang aktif di kegiatan remaja masjid, pakai baju koko lengkap dengan pecinya, justru secara tidak langsung ingin menyampaikan pesan, bahwa kamilah pemuda muslim. ‘Simbol-simbol’ yang dikenakan dan perbuatan yang dilakukan muncul akibat panasnya semangat yang menggelora dalam dada. Mereka, setidaknya ingin menunjukkan; inilah kami, remaja muslim yang mencintai Islam sepenuh hati. Apa itu salah?

Kasus “Bom Bali hingga JW Marriott plus Ritz Carlton”, dengan tuduhan dialamatkan kepada para aktivis Islam sebagai pelakunya, kian memberikan stigma (noda) dan mengukuhkan semua prasangka yang telah ada. Nyaris semua orang mengarahkan telunjuknya; bahwa Islam itu kejam, bahwa kaum muslimin kalangan tertentu (khususnya yang taat beragama) itu teroris, bahwa orang yang terlibat dalam aktivitas keislaman perlu dicurigai. Celaka dua belas!

Kalo dipikir-pikir memang aneh juga. Kenapa orang musti takut dengan Islam? Kenapa orang musti gerah dengan maraknya aktivitas keislaman? Kenapa masyarakat musti curiga dengan simbol pengamalan ajaran agama (jilbab, baju koko, dan jenggot)?

Apa ada yang aneh dengan Islam? Apa ada yang salah dengan mereka yang mau mengamalkan ajaran Islam, meski cuma sebatas berkerudung dan berjilbab? Mengapa harus murka dengan maraknya aktivitas pengajian di sekolah dan di masjid? Sungguh aneh tapi nyata. Tapi itulah yang banyak terjadi. Menyedihkan banget.

Jujur saja, sikap kebanyakan masyarakat seperti ini bikin nggak nyaman buat mereka yang mau merasakan nikmatnya beragama. Pandangan miring dan curiga terhadap remaja-remaja yang bergairah (baca: militan) dalam agamanya itu adalah sikap kontraproduktif. Nggak baik untuk dipelihara.

Memang sih, nggak semua masyarakat berpandangan miring terhadap remaja militan. Tapi sayangnya, jumlah pendukungnya kalah banyak ketimbang mereka yang menjadi penentangnya. Jadinya ya, opininya kalah. Kalah abis. Akibatnya, yang banyak diekspos adalah yang menentangnya. Sehingga posisi teman remaja yang bergairah dalam mengamalkan ajaran Islam ini makin terpojok. Digempur dari sana-sini, dicurigai aktivitasnya bak sebuah aib nasional.

Hmm… beginilah hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak islami. Masyarakat yang justru meyakini permisivisme (bebas nilai) sebagai jalan hidup. Sejatinya, mereka sebetulnya nggak mau diusik dalam kebebasan gaya hidupnya oleh mereka yang ingin menyegarkan kembali pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan ini. Mereka jadi menuduh remaja militan dan orang-orang Islam yang semangat beragama sebagai musuh. Ah, mau ditolong jadi baik dengan ajaran Islam, kok nggak mau? Apakah karena mereka masih setia berselingkuh dengan sistem demokrasi-kapitalisme-sekularisme? Kamu bisa jawab sendiri deh. Yang pasti nih, please deh, bedakan antara militansi dengan terorisme. Kalo mau sepakat, kita bisa arahkan telunjuk rame-rame ke pemerintah Amerika dan Israel serta antek-anteknya yang mengamini kebiadaban mereka, karena merekalah biang aksi terorisme selama ini! Gimana? [osolihin: http://osolihin.com%5D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s