SBY Muslim, Bukan Sasaran Teroris

INILAH.COM, Jakarta – Informasi rencana teroris mengebom kediaman SBY di Cikeas, Bogor Jawa Barat menyisakan tanda tanya. Sudah berubahkan orientasi perjuangan terorisme di Indonesia? Bukankah SBY seorang muslim yang tidak difatwakan menjadi target teroris.

Kapolri dalam jumpa persnya meyakinkan publik, bahwa akan ada rencana pengeboman ke kediaman pribadi SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Hal itu, merupakan fakta yuridis yang ditemukan Polri dalam penggerebekan dengan barang bukti ratusan kilogram bom.

Namun, informasi Polri diragukan banyak pihak. Salah satunya ketidakyakinan yang muncul dari pengamat terorisme Al-Chaidar yang meragukan validitas informasi kepolisian.

“Karena tidak ada satupun fatwa untuk membunuh SBY. Karena SBY orang muslim,” ujarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (9/8). Menurut dia, orientasi perjuangan kalangan terorisme masih fokus pada perlawanan kepada Amerika Serikat dan sekutunya.

Kalangan teroris beranggapan, AS dan sekutunya telah membuat penderitaan kepada umat Islam di mana-mana. “Jadi tidak ada gunanya membunuh SBY,” cetusnya. Apa yang membuat Al-Chaidar yakin dengan pendapatnya? Apakah ada perubahan orientasi perjuangan kelompok teroris di Indonesia? Berikut wawancara lengkapnya:

Kapolri menyebutkan rencana kelompok teroris di Jatiasih untuk mengebom kediaman SBY. Hal ini cukup mengejutkan, karena selama ini sasaran pengeboman adalah warga AS dan sekutunya. Apakah ini berarti orientasi teroris di Indonesia sudah berubah?

Saya tidak yakin, tidak sekadar tidak yakin, saya menilai (rencana pengeboman ke SBY) terlalu dipelintir untuk persoalan politis. Karena tidak ada satupun fatwa untuk membunuh SBY. Karena SBY orang muslim, walaupun dia muslim nominal saja, tetapi tidak ada untuk membunuh muslim. Tetapi tetap target mereka adalah AS dan sekutunya, itu yang ada fatwanya.

Mereka berpikiran AS dan sekutunya telah menjajah dan menyakiti umat Islam dimana-mana, dianggap juga selalu melakukan cara licik untuk mengambil keuntungan dari berbagai belahan dunia di manapun. Jadi itu yang membuat mereka mengeluarkan fatwa bahwa ini yang harus diserang dan ditargetkan.

Kalau SBY tidak ada gunanya untuk dibunuh. Justru, kalau SBY dibunuh maka akan membuat pemilu baru, KPU baru, semakin membuat umat Islam akan terus menerus hidup merana. Itu tidak mungkin, dan tidak masuk akal. Kalau mereka ingin menyerang SBY kenapa tidak dari dulu saja.

Informasi polisi perihal rencana mengebom SBY, memunculkan asumsi, Noordin M Top kini tak lagi memanfaatkan jaringan JI, namun melalui DII/NII/TII makanya orientasinya pada symbol negara (Presiden SBY)?

Tidak. Dari dulu sampai sekarang Noordin M Top hanya bersandar ke JI, tidak ada perubahan bagi dia untuk soal rekrutmen. Dari awal, memang JI berasal dari DI. Dulu Noordin itu bagian dari DII/NII yang ada di Malaysia di bawah asuhan Abdullah Sungkar dan Abu bakar Baassyir.

Ketika Abdullah Sungkar konflik di Malaysia, mereka terpecah, dan Abdulah Sungkar pisah dengan membuat JI, alasannya tidak cocok lagi dengan membawa nama Negara Islam Indonesia (NII), karena mereka berada di Malaysia.

Kenapa Polri cukup yakin menginformasikan ke publik bahwa rencana ke CIkeas merupakan fakta yuridis yang polri temukan dari kelompok Jatiasih?

Saya tidak mengerti, karena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik dalam negeri. Karena bagi mereka, melancarkan terorisme di Indonesia karena di negara ini ada symbol dan asset serta kekuatan budaya dan ekonomi dari Amerika, makanya mereka perang.

Tapi kalau menyerang orang Indonesia, mereka tidak berani karena tidak ada fatwanya. Kalau tidak ada fatwanya berarti mereka membunuh orang muslim sendiri. Tetapi kalau mereka targetnya orang AS, dan ketika melancarkan operasinya ada orang muslim yang mati, itu dianggap syahid juga, sama dengan pelaku bom bunuh diri.

Bagaimana dengan motivasi Noordin M Top melakukan balas dendam kepada SBY karena di bawah pemerintahan SBY, hukuman mati jatuh pada trio pelaku Bom Bali, Amrozi Cs?

Ada kemungkinan, tetapi sangat kecil. Karena gerakan jihad, tidak boleh menggunakan emosi, termasuk dendam. Jadi dendam tidak boleh, karena tidak ada di dalam syariat. Tidak ada di dalam gerakan jihad. [E1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s