‘Noordin Palsu Hancurkan Kredibilitas Polri’

INILAH.COM, Jakarta – Sejumlah analis terorisme meragukan jasad yang ditemukan usai penyerangan tim Densus 88 di Kedu, Temanggung Jawa Tengah bukanlah Noordin M Top. Jika hasil uji DNA memastikan bahwa jasad itu bukanlah Noordin, maka kredibilitas Polri dipastikan semakin anjlok.

“Iya tentunya. Apalagi ini sudah gembar-gembor, pakai disiarkan penyerangan yang begitu dramatis seperti difilmkan. Ini kan orang sudah dihadapkan pada pendapat bahwa itu pasti Noordin walaupun belum ada keterangan resmi,” kata pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar dalam perbincangan dengan INILAH.COM di Jakarta, Minggu (9/8).

Menurut Bambang, jika terbukti sosok pria yang dibawa dari Temenggung itu bukan Noordin, artinya intelijen Densus 88 dinilai lemah karena terlalu cepat memberi informasi dengan nilai validitas yang sebenarnya perlu dicek lagi. Sayangnya informasi itu dijadikan acuan untuk menyerang rumah yang diduga sebagai tempat persembunyian Noordin.

“Lalu ternyata sudah diserbu, dikatakan Noordin. Walaupun belum resmi, tapi kan sudah digembar-gemborkan, diduga-diduga dan bentuk penayangannya dramatis. Ternyata hasil DNA tidak begitu. Sudah pasti kepercayaan masyarakat akan turun. Sudah terlanjur besar-besaran, sudah diberitakan sampai ke media internasional, ternyata bukan,” urainya.

Selain berpengaruh pada kredibilitas Polri, jika ternyata yang berhasil dibawa polisi bukanlah Noordin yang selama ini diburu, maka pengarunya akan sangat besar bagi keamanan Indonesia. Selain itu, rasa aman pun akan terasa semakin mahal.

“Rasa was-was akan teror makin berkembang. Apalagi polisi selalu hanya mengincar operator lapangan, bukan perancang dan pemberi order. Yang katanya mau bikin Negara Islam atau Osama bin Laden itu juga hanya cerita doang. Ini kan membuat masyarakat kecewa. Artinya polisi hanya mengejar citra, bukan keseluruhan untuk menegakkan rasa aman di masyarakat. Orang akan menilai begitu,” jelas Bambang.

Bagi Bambang, lemahnya keamanan di dalam negeri memang sulit dipungkiri. Ini seharusnya membuat pemerintah sadar bahwa penanggulangan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan divisi antiteror atau Polri dan TNI saja.

“Tetapi juga dari unsur-unsur lembaga negara yang lain, ini harus dikoordinasikan. Memang nyatanya sistem keamanan sangat lemah dan sangat tidak sistemik sehingga sering jalan sendiri-sendiri, tidak ada koordinasi,” pungkasnya. [fiq]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s