‘Inovasi’ Beragama Bolehkah

Mujtahid yang tidak kapabel hanya akan menghasilkan keruwetan dan kehancuran pada masyarakat karena dia tidak memiliki dasar pengetahuan apapun. Atas nama pembaruan, DR Aminah Wadud menyuguhkan ‘pertunjukan’ berupa shalat berjamaah nyeleneh. Ia mengimami makmumnya, sekelompok Muslim di Amerika Serikat, yang terdiri dari pria dan wanita, dan tak wajib mengenakan tutup kepala bagi makmum wanita.

Atas nama ‘inovasi’ Muhammad Yusman Roy menyelipkan terjemahan bahasa Indonesia dalam shalatnya. Ia mengajarkan ilmunya itu pada koleganya yang berguru di Perasntren I’tikaf Ngaji Lelaku yang dipimpinnya. ”Mereka akan lebih memahami ayat-ayat yang dibaca dalam shalat,” ujarnya. Kini yang bersangkutan berurusan dengan pihak berwajib, karena dianggap menodai ajaran Islam.

Bila ditelisik, ada kemiripan dalam soal merebaknya kasus shalat berbahasa Indonesia yang ditebar Muhammad Roy dan DR Amina Wadud, yaitu masalah pemahaman agama. Sejumlah ulama menilai karena kurangnya pendalaman agama, sehingga kedua masalah tersebut menimbulkan keresahan di kalangan umat Islam.

imageAtau, karena pintu ijtihad tak lagi terbuka? Apakah yang dilakukan Roy termasuk bagian dari upaya ijtihad, sehingga apabila salah mendapat pahala satu dan bila benar dapat pahala dua? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menggelengkan kepala. ”Tidak bisa. Sebelum bicara pahala satu atau dua, yang menjadi pertanyaannya dia memenuhi persyaratan ijtihad atau tidak. Kalau orang tidak mengerti urusannya kemudian mengada-ada, itu tidak bisa dianggap ijtihad,” ujarnya.

Ijtihad menurutnya, adalah sebuah langkah ilmiah berdasarkan paradigma ilmu. Orang yang berijtihad menguasai bidangnya kemudian ada beberapa alternatif dan memilih salah satu alternatif, dan bukan langkah coba-coba.

Merujuk definisnya, Ibnu Abdus Syakur, salah satu tokoh mahzab Hanafiyah, mendefinisikan ijtihad sebagai “pengerahan kemampuan untuk menemukan kesimpulan hukum syara sampai ke tingkat zanni (dugaan keras), sehingga mereka yang beritjihad ini merasakan tidak dapat melakukan upaya melebihi dari apa yang dilakukannya itu.”

Para mujtahid bertugas menggali hukum yang dikandung Alquran dan sunah untuk menjawab berbagai permasalahan. Imam Syafi’i dalam bukunya, Ar Risalah memandang mulia pekerjaan mujtahid. Menurutnya, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berijtihad dalam upaya menimba hukum dari sumbernya. Allah menguji ketaatannya dalam berijtihad, sama halnya dengan menguji ketaatan hamba-Nya dalam hal-hal lain yang diwajibkan agama.

Senada dengan Hasyim, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menjelaskan, seseorang baru bisa dikatakan melakukan upaya ijtihad apabila menguasai ilmu atau ahliyatul ijtihad. ”Dia ahli dan memiliki kemampuan yang mengerti bahasa Arab, faham Alquran dan artinya,asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), hadis dan asbabul wurud-nya, juga dikenal sebagai ulama,” ujarnya (lihat selengkapnya di halaman 5).

Diperbolehkan untuk kasus muamalah

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) DR KH Didin Hafidhuddin MSc mengatakan, ada kaidah di dalam ibadah berbunyi “al ashlu fil ibadati al man’u illa maa dallad dalilu ‘ala wujubiha” (yang pokok dari ibadah itu dilarang kecuali ada dalil yang mewajibkannya-red). Apa pun dilarang dalam ibadah, kecuali memang yang diperintahkan.

”Oleh karena itu dalam ibadah mahdlah, tidak ada ijtihad. Tidak boleh ada inovasi dan kreasi, karena sudah ada tuntunannya,” ujarnya. Kalau ingin khusyuk, katanya, bukan dengan mengubah tuntunan ibadahnya, tetapi dengan mempelajari makna dan kandungannya.

Sebaliknya, ujar Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini, kaidah dalam muamalah terbalik. ”Al ashlu fil muamalati al ibahatu, illa ma dallad dalilu ala tahrimiha, atau yang pokok dari muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

Karena itu, ijtihad dan kreasi umat sekarang ini harus pada masalah-masalah muamalah. Misalnya bagaimana implementasi mudlarabah dan musyarakah dalam ekonomi syariah. ”Itu yang harus diijtihadkan. Bukan mengutak-atik sesuatu yang sudah dikunci, sudah qoth’i (pasti dan baku),” jelasnya.

Didin dan Ma’ruf Amien sepakat, sekarang ini hampir tidak ada lagi ijitihad individu. ”Ijtihad sekarang tidak lagi bersifat fardy (individu) tapi bersifat ijtima’i (kolektif). ”Kita sekarang sulit menemukan orang seperti Imam Syafi’i atau Imam Hanafi yang mampu menggunakan dalil naqli dan dalil aqli secara baik dan konprehensip,” ujarnya.

Karena itu, Didin mengingatkan tidak bisa sembarang asal melakukan ijtihad. Ia lalu merujuk hadis Nabi Muhammad SAW, ”Penyakit agama itu tiga: imam yang zalim, orang yang mengerti agama tapi jahat kelakuannya, dan ketiga mujtahid yang bodoh. Mujtahid yang bodoh akan menghasilkan keruwetan dan kehancuran pada masyarakat karena memang bodoh, tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Ini yang harus diwaspadai oleh umat Islam,” tandasnya.

Jangan menghujat

Kembali ke soal Ustadz Roy yang kini menjadi tersangka kasus penodaan agama, Hasyim mengingatkan umat agar jangan bersikap reaktif. Ia menyarankan sang penebar ajaran shalat berbahasa Indonesia untuk lebih mempelajari Islam secara mendalam. ”Dia harus mendalami agama dan tak perlu dihujat, karena kelihatannya dia memang sedang belajar, bukan orang yang sudah alim agama,” ujarnya.

Kesimpulan Hasyim didasarkan pada penggunaan dalil-dalil yang digunakan Roy. ”Tidak relevan, misalnya kallimunnasaa biqodri ukulihim (ajaklah bicara manusia sesuai dengan logikanya-red) atau bilisaani qaumihi (sesuai dengan lidah mereka-red). Ungkapan ini, ditujukan kepada para rasul dalam melaksanakan dakwahnya dan bukan dalam konteks shalat,” ujar Pimpinan Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, Jawa Timur ini.

Kyai Hasyim menyebut khusus untuk shalat, adalah ibadah ghairu ma’kulatil ma’na, tidak bisa diutik-utik lagi secara pendekatan rasional baik substansi, bentuk formulasi, dan tata caranya. ”Ini sudah jadi satu paket. Lain dengan ibadah yang lain. Jadi, kalau ingin khusyuk dalam shalat, belajarnya harus di luar shalat,” tegasnya mengingatkan.

Lantas, apa yang harus dilakukan masyarakat awam menghadapi banyaknya inovasi dan kreasi baru dalam ibadah? Kyai Hasyim menyarankan agar tidak segan-segan bertanya kepada ulama yang benar-benar menguasai bidangnya. ”Kembalilah, tanya kepada ulama yang memang berkapasitas sebagai panutan. Termasuk jenis masalahnya,” ujarnya.

Kalau masalahnya seputar shalat, maka tanyalah pada ahli fikih. Kalau menyangkut masalah tarikat, tanya ulama yang ahli mursyid. ”Jadi fas’al ahladzdzikri adalah orang yang berkompeten pada bidangnya.” (RioL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s