Hizbut Tahrir BUKAN Inspirator TERORISME

Pasca ledakan bom dan “pengakuan” Nurdin M Top di http://mediaislam-bushro.blogspot.com/  semalam ada diskusi menarik di TVOne membahas masalah itu.

Dan yang tidak kalah menarik pernyataan/tuduhan mantan Kepala BIN, Hendropriyono yang menyebut, pelaku terorisme itu adalah kelompok Wahhabi. (  sempat disebut 2 nama Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir ).

Untuk menjelaskan dan menegaskan kembali metode dakwah Hizbut Tahrir yang tanpa kekerasan sekaligus menepis beberapa logika dan tuduhan  kepada HT berkaitan dengan kekerasan, berikut kami menghadirkan wawancara singkat dengan Ustad Muhammad Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia ( yang kami kutib dari majalah Al-Waie edisi 65 – Rubrik Hiwar ).

Ustad, Hizbut Tahrir (HT) saat ini eksis di hampir 40 negara, termasuk di negeriBarat yang  yang mayoritas non-Muslim. Bisa dijelaskan kembali, apa sebetulnya visi dan misi perjuangan HT di dunia?
Hizbut Tahrir berjuang atau berdakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam (li isti’nâf al-hayâh al-islâmiyyah). Artinya, Hizbut Tahrir dengan dakwahnya itu ingin mengajak kaum Muslim di seluruh dunia ke pengamalan kembali seluruh hukum Islam; dalam masalah akidah, ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlak, dakwah, muamalat, dan ‘uqûbât dengan jalan menegakkan Khilafah Islam dan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. HT percaya, bahwa hanya melalui Khilafah sajalah syariah lslam dapat diterapkan secara utuh. Saat itulah kerahmatan Islam yang dijanjikan akan bisa dirasakan oleh seluruh manusia, Muslim atau non-Muslim. Dengan demikian, sesungguhnya apa yang diperjuangkan oleh HT adalah demi umat manusia secara keseluruhan. Bukankah kehidupan masyarakat dunia yang adil, damai, dan sejahtera itu yang mereka inginkan? Mungkinkah itu semua bisa diwujudkan tanpa Islam? Kapitalisme yang kini memimpin dunia telah nyata terbukti gagal mewujudkan tatanan masyarakat yang diidam-idamkan itu. Yang terjadi bukan keadilan dan kesejahteraan. Ketidakadilan justru terjadi dimana-mana—yang besar menindas yang kecil, dan yang kaya makin kaya, sementara yang miskin makin miskin.  Bukan pula kedamaian yang ada, melainkan konflik dan peperangan yang terus terjadi. Negeri yang semula damai bahkan sekarang hancur diacak-acak  oleh mereka.

Tahrir artinya pembebasan. Artinya, HT memiliki misi ”membebaskan”. Siapa yang dibebaskan? Apakah hanya kaum Muslim? Dibebaskan dari apa atau siapa?
HT memang ingin membebaskan manusia, bukan hanya Muslim, tetapi juga umat manusia secara keseluruhan; dari  penghambaan kepada manusia menuju pada ketundukan dan penghambaan kepada tuhannya manusia (tahrîr an-nâs min ‘ibâdah an-nâs ilâ ibâdati Rabb an-nâs). Kenyataan yang kita lihat sekarang ini, manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya, tunduk pada ideologi dan kekuatan sekular. Dalam kondisi begini, mereka tentu tidak bisa sepenuhnya melaksanakan syariat Islam sebagai wujud ketaatannya kepada Allah Swt., Zat Yang wajib disembah. Bahkan yang terjadi adalah dipaksakannya atas mereka ideologi dan aturan sekular di berbagai lapangan kehidupan, yang justru bertentangan dengan syariah. Ditambah lagi,  kekuatan imperialis memaksa pula penguasa negeri-negeri Muslim untuk tunduk melayani kepentingan ekonomi dan politik mereka. Walhasil, kita semua saat ini sesungguhnya dalam keadaan terjajah. Kita tidak merdeka. Kita terjajah. Di sinilah perlunya gerakan pembebasan. Di sini pula HT berjuang.

Bisa Ustad jelaskan kembali secara singkat dan gamblang tentang metode dakwah HT yang tanpa kekerasan itu?
Perjuangan HT membebaskan manusia melalui tegaknya kembali kehidupan Islam, yang di dalamnya diterapkan syariah Islam, diawali dengan menggugah kesadaran umat Islam akan jatidiri mereka sebagai seorang manusia yang diciptakan Allah untuk beribadah dan mewujudkan kerahmatan Islam di atas muka bumi. Kesadaran ini hanya mungkin dilakukan dengan metode fikriyyah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, yakni memasukkan pemikiran Islam ke dalam diri umat; bukan dengan kekerasan, karena kekerasan tidak akan menghasilkan kesadaran. Sesat pikir hanya bisa diluruskan dengan pikiran baru yang benar, bukan dengan kekerasan.

Apa yang menjadi dasar HT menetapkan metode dakwahnya tanpa kekerasan?  Apakah ini hanya taktik saja?
Ini bukan sekadar taktik. HT melakukan ini sebagai ittiba’ (mengikuti) tharîqah (metode) dakwah Rasulullah. Selama dakwahnya di Makkah, meski menghadapi banyak sekali tantangan, termasuk tantangan fisik, Rasulullah tetap fokus pada penyadaran; memanggil akal, rasa, dan nurani manusia ketika itu untuk benar-benar beriman kepada Allah. Terbukti, cara seperti itulah yang telah mengubah banyak orang ketika itu, termasuk Umar bin al-Khaththab, yang awalnya sangat menentang, menjadi pembela Islam yang terkemuka.

Sebagian orang beranggapan, tidak mungkin dalam upaya penegakan syariah dan Khilafah tidak menggunakan kekerasan dan jihad.  Bagaimana menurut Ustad?
Perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah tentu memerlukan kekuatan, yakni kekuatan politik. Kekuatan politik adalah kekuatan masyarakat didukung oleh ahl al-quwwah (orang-orang yang berpengaruh dan memiliki kekuatan—dana, sarana, politik, termasuk tentu kekuatan militer, dan yang lainnya) yang sama-sama telah memiliki kesadaran politik Islam dan menuntut perubahan kearah Islam. Jadi, kekuatan utama adalah umat yang sadar itu. Di sinilah pentingnya penyadaran umat harus terus menerus dilakukan. Umat yang tidak sadar justru akan menghalangi tegaknya syariah dan Khilafah seperti yang kita lihat sekarang. Mengapa perjuangan penegakan syariah di Indonesia demikian sulit, padahal ini adalah negeri mayoritas Muslim, dan hampir seluruh  pejabat tingginya pun Muslim? Jawabannya, ya karena banyak yang belum sadar; mereka bukannya mendukung malah menghalangi perjuangan itu. Umat yang sadar itu pula yang akan membela syariah dan Khilafah dari rongrongan pihak yang tidak suka. Mereka akan membela perjuangan ini dengan segala daya dan kekuatan.

Ada juga yang mengatakan, meski HT mengaklaim berjuangan tanpa kekerasan, suatu saat HT pasti akan menggunakan kekerasan, yaitu pada saat thalab an-nushrah (penggalangan dukungan/pertolongan) dari ahl a-quwwah demi meraih kekuasaan dari umat.

Thalab an-nushrah atau menggalang  pertolongan adalah bagian dari metode dakwah Rasulullah saw. sebagaimana terlihat ketika beliau meminta pertolongan kepada kaisar Najasyi. Pertolongan itu diperlukan bagi perlindungan terhadap keberlangsungan dakwah atau untuk meraih kekuasaan sebagaimana yang juga beliau lakukan ketika beliau meminta pertolongan kepada sejumlah kabilah yang kemudian mendukung beliau saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Bahwa sang penolong itu memiliki kekuatan fisik dan kemudian dalam menolong itu menggunakan kekerasan, itu adalah hak yang bersangkutan dalam mewujudkan kehendaknya melindungi orang yang ingin dilindungi. Thalab an-nushrah tentu masih relevan dilakukan dewasa ini. Intinya, siapapun orangnya, dengan penyadaran yang baik serta sentuhan rasa dan jiwa yang tepat, akan terdorong  untuk mendukung perjuangan ke arah kebaikan. Itulah yang terjadi pada orang-orang berpengaruh yang kemudian menolong Rasul. Itu pula yang insya Allah bakal terjadi pada HT dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khifalah dewasa ini.

Ustad, ada yang menuduh HT menginspirasi gerakan kekerasan, benarkah demikian?
Itu fitnah. Memang, segala cara coba ditempuh untuk mendiskreditkan HT.  Dari mana mereka bisa mengatakan bahwa HT telah menginspirasi gerakan kekerasan? Bila yang dimaksud adalah seruan jihad dalam pernyataan resmi HT berkenaan dengan invasi AS di Afganistan dan Irak, maka itu adalah seruan wajar. Bahkan, memang harusnya begitu. Serangan fisik haruslah dihadapi dengan kekuatan fisik pula. Kalau kita mengatakan bahwa tindakan kekerasan adalah kejahatan, maka mestinya apa yang dilakukan AS di Afganistan dan Irak yang jelas-jelas menyerang dengan kuatan militer juga harus dinyatakan sebagai kejahatan. Kenyataannya?

Zeyno Baran, Nixon Center, berusaha keras memaksakan pengaitan HT dengan kekerasan.  Ia menuduh bahwa peran HT adalah ”memiliterisasi ranah ideologi”.  Apakah ideologi HT ideologi radikal?
Itu juga tuduhan palsu dan hanya merupakan upaya untuk meletakkan HT yang memang telah lama ingin dijadikan sebagai sasaran tembak. Istilah ‘militerisasi ranah ideologi’ adalah istilah jadi-jadian yang tidak menemukan faktanya. Bagaimana Anda tahu bahwa ideologi seseorang telah dimiliterkan? Jihad yang sering diserukan oleh HT sebagai jalan perlawanan atas penindasan dan penjajahan yang dilakukan oleh negara Barat di sejumlah negeri Muslim adalah ajaran Islam. Ia menjadi spirit utama perlawanan sejak masa Rasulullah hingga sekarang. Itu tidak bisa diartikan memiliterisasikan ajaran Islam. Apakah orang Islam tidak boleh melawan ketika ditindas? Apakah hanya mereka yang boleh melakukan kekerasan? Bagaimana kalau mereka  yang ditindas, apa yang akan mereka lakukan? Tetap menyerukan anti kekerasan?

Tapi, Ustad, ada juga tuduhan lain. Katanya, orang-orang yang keluar dari HT dan murid atau pengikut mereka ada yang setuju, mendukung, atau bahkan terlibat aksi kekerasan.  Hal itu mereka jadikan alasan bahwa HT tidak steril dari aksi kekerasan; buktinya ”lulusan” HT begitu.  Komentar Ustad?
Dalam HT tidak ada istilah ’lulusan’. Yang keluar atau dikeluarkan dari HT tidak ada lagi hubungannya dengan HT. Siapapun yang menggunakan kekerasan tidak bisa dikaitkan dengan HT. Sebab, thariqah (metode) HT sendiri sangat jelas. Dalam upaya perubahan masyarakat, HT tidak melalui jalan kekerasan (violance).

Lalu seberapa kuat keyakinan HT bahwa metode dakwah tanpa kekerasan itu akan dapat mengantarkan pada tujuan melanjutkan kembali kehidupan Islam?  Apakah HT akan terus memegang keyakinannya itu?
Rasulullah Muhammad saw.  berhasil menegakkan Daulah Islam yang pertama di Madinah melalui perjuangan tanpa kekerasan. Jihad baru dilakukan Rasul setelah beliau memegang kekuasaan di Madinah. Perang Badar terjadi setelah Rasul hijrah ke Madinah memimpin masyarakat Islam yang pertama di sana. Itulah yang menjadi dasar keyakinan HT. Insya Allah HT akan terus memegang keyakinan itu. [( yang kami kutib dari majalah Al-Waie edisi 65 – Rubrik Hiwar )]

Postingan yang sejenis :

Membantah Pengamat TERORISME

[1] Dalam dialog dengan SCTV, Al Chaidar ngoceh banyak tentang data-data pelaku terorisme di Indonesia. Dia mengatakan, pada tahun 2006 dia melakukan penelitian tentang pengikut Nurdin M. Top. Kata Al Chaidar, saat itu terungkap bahwa Nurdin sudah berhasil merekrut sebanyak 19.000 kader rekrutan. Termasuk di dalamnya kader-kader wanita.

Bantahan:

Al Chaidar menyebut data, ada 19.000 pengikut Nurdin M. Top yang berhasil dia rekrut. Tetapi mengapa, ketika menjelaskan anggota kelompok Cilacap, Banten, Palembang, Wonosobo, dll. jumlah masing-masing kelompok sangat sedikit? Dari setiap kelompok itu Al Chaidar menyebut kurang dari 10 nama orang. Lho, katanya ada 19.000 kader rekrutan, kok dalam penjelasan anggota kelompok-kelompok itu sangat sedikit? Lalu sisanya yang mungkin masih 18.950 lagi kemana?

[2] Pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam dialog dengan sebuah TV (kalau tidak salah MetroTV atau IMTV). Dia ditanya tentang pelaku peledakan di JW Marriott yang masih anak remaja, usia sekitar 17 tahun. Dia menduga, dalam diri remaja itu ada unsur gen dari nenek-nenek moyangnya dulu yang mungkin pernah terlibat aksi pengeboman. Perlu diingat, dalam rangka menumpas terorisme, Wawan Purwanto ini setuju jika dihidupkan kembali UU subversif seperti dulu.

Bantahan:

Katanya, remaja pelaku peledakan di JW Marriott kemungkinan nenek-nenek moyangnya pelaku peledakan bom juga. Sekarang kita mau tanya, siapa nenek-moyang remaja itu? Nenek moyang tentu hidup di masa yang lampau, melebihi usia kakek-nenek anak itu sendiri. Apa di jaman dahulu sudah ada kasus-kasus peledakan dengan modus bom manusia seperti itu? Maaf, kalau berkomentar jangan asal njeplak. Tapi dipikir-pikir dulu. Kalau tidak logis, Anda sendiri yang akan ditertawakan!

[3] Mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne, dia mengatakan bahwa tujuan aksi-aksi terorisme itu adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah (sistem negara Islam).

Bantahan:

Mohon datangkan bukti-bukti dalam ajaran Islam, adakah ayat-ayat dalam Al Qur’an, atau adakah hadits Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan Ummat Islam mendirikan negara Islam dengan cara teror? Mohon datangkan bukti-buktinya, kalau Anda adalah orang yang benar! Kalau sekedar klaim ini itu dari sekelompok orang, itu mudah melakukannya. Semua orang bisa mengklaim. Misalnya, gerombolan teroris bayaran mengklaim hendak membebaskan manusia dari penindasan. Klaim seperti ini sangat mudah dibuat. Hanya masalahnya, apakah klaim seperti itu diakui oleh ajaran Islam, atau oleh pandangan ulama-ulama Muslim?

[4] Pandangan tendensius mantan Kepala BIN, Hendropriyono. Dia menyebut, pelaku terorisme itu adalah kelompok Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin. Dalam dialog di TVOne dengan Karni Ilyas, Hendro mempertegas pendapatnya, dengan menyebut kalangan Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin garis keras.

Bantahan:

Ucapan Hendropriyono ini bisa sangat memojokkan banyak pihak. Di mata masyarakat, terutama warga NU, akan makin besar kebencian mereka kepada kalangan yang disebut Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin. Perlu diketahui, satu-satunya negara di dunia saat ini yang resmi mengklaim sebagai penganut madzhab Wahhabi, adalah Arab Saudi. Sedangkan ulama-ulama Saudi sendiri sangat keras dalam mengingkari aksi-aksi terorisme itu. Saya memiliki referensi berupa fatwa-fatwa ulama Wahhabi yang mengingkari aksi terorisme. Malah ada fatwa khusus yang ditujukan untuk mengingatkan Usamah bin Ladin. Jadi aneh, aksi terorisme diingkari oleh ulama-ulama Wahhabi, tetapi madzhab Wahhabi malah dituding.

Jika Wahhabi demikian berbahaya, mengapa tidak sekalian saja Ummat Islam Indonesia DILARANG menunaikan Haji dan Umrah ke Saudi? Ya, khawatir mereka akan terpengaruh Wahhabi disana, lalu membuat bom-bom terorisme di Indonesia. Padahal sudah ada jutaan jamaah Haji dan Umrah, tetapi tidak satu pun yang kemudian melakukan aksi terorisme. Singkat kata, terorisme adalah kesesatan paham. Ia adalah faktor deviasi yang selalu muncul di paham apapun. Terorisme tidak bisa dikaitkan dengan madzhab-madzhab tertentu yang tidak bersalah.

[5] Pandangan lain dari mantan anggota Jamaah Islamiyyah, Nasir Abbas. Tokoh ini asal Malaysia, iparnya Saudara Mukhlas yang meninggal dieksekusi akibat Bom Bali I. Secara umum, pandangan Nasir Abbas, Al Chaidar, Abu Rusdan, dll. kerap kali saling bertabrakan. Masing-masing merasa benar sendiri, seolah paling mengerti masalah yang dihadapi. Ada satu ungkapan sangat kasar dari Nasir Abbas, saat dia ikut berpendapat dalam dialog TVOne dengan Hendro Priyono. Disana Nasir Abbas, bahwa kaum Thaliban itu tukang membunuhi Ummat Islam. Mereka berperang melawan Mujahidin, sementara Nasir ada di pihak Mujahidin. Dia mengklaim tidak suka dengan Thaliban.

Bantahan:

Dalam konflik Thaliban versus Mujahidin Afghanistan, harus dirunut masalahnya. Tadinya, Thaliban itu kaum santri agama di daerah perbatasan Afghan-Pakistan. Mereka tidak terlalu aktif dalam jihad, namun banyak belajar agama. Saat terjadi pertikaian antara kubu Burhanudin-Mas’ud dengan kubu Hikmaktyar yang beraliansi dengan Koalisi Utara, situasi Afghan semakin tidak menentu. Hal itu terus terjadi karena pimpinan-pimpinan Mujahidin berebut kekuasaan. Masyarakat Afghan, termasuk santri-santri Thaliban tidak suka dengan situasi tersebut. Dengan didukung Pakistan, Thaliban bangkit menundukkan semua Mujahidin, lalu membentuk pemerintahan sendiri. Hanya saja, setelah Pemerintahan Thaliban berdiri, banyak pihak yang tidak menyukai, sebab berhaluan Islam. Jadi, Thaliban itu akhirnya menunaikan tujuan awal para Mujahidin Afghan. Jika kemudian terjadi pertempuran, jangan ditafsirkan membunuhi Ummat Islam. Kalau begitu caranya, berarti konflik antara Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Muawiyah Ra, juga bisa disebut saling membunuhi Ummat Islam. Dan pengakuan Nasir Abbas, bahwa dia tidak menyukai Thaliban. Hal ini sama dengan sikap Amerika selama ini.

[6] Pandangan lain yang sudah tidak kalah popular, dari Sidney Jones, seorang pengamat asal Australia. Pandangan Si Mbok Sidney itu seringkali mewarnai media-media Indonesia. Seolah dia adalah nabi-nya teori terorisme. Dalam diskusi dengan TVOne, Sidney membantah bahwa kasus terorisme di JW Marriott dan Ritz Carlton berhubungan dengan Pilpres. Dia tetap sepakat dengan gaya lamanya, menuduh Jamaah Islamiyyah (JI) ada di balik aksi terorisme itu.

Bantahan:

Sepanjang sepak terjangnya mengamati kasus-kasus terorisme di Indonesia, pandangan Sidney Jones sangat mudah dikenali. Tuduhan dia tidak akan keluar dari 3 nama: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Al Mukmin Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo. Tiga nama ini dia ulang-ulang di berbagai kesempatan, tentu dengan penuh kebanggaan, karena dia diangap sebagai peneliti/pengamat terorisme yang mumpuni. Tapi anehnya, di semua tempat, Sidney tidak pernah bergeser dari 3 nama tersebut. Kalau tidak JI, pasti Ngruki, kalau tidak DI/TII.

Saya khawatir, di kepala Sidney itu hanya ada 3 nama tersebut. Bisa jadi suatu saat Anda akan bertanya: “Mbak dari mana? Mbak suka makanan apa? Mbak pernah kecebur sumur?” Saya khawatir, jawaban yang keluar adalah: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII. Kok ada manusia yang sedemikian fanatik dengan ketiga nama ini. Jangan-jangan Sidney sudah menjadi “penggemar berat” ketiga nama tersebut? Wallahu A’lam.

Pandangan membabi buta seperti Sidney Jones itu jelas sangat menyesatkan. Segala bentuk tindak kekerasan, pengeboman, bom bunuh diri, dll. kelak dengan serampangan bisa dikaitkan dengan Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo yang sudah tidak eksis lagi. Tentu ini adalah kezhaliman yang nyata. Itu pun kalau orang-orang kafir mengerti istilah kezhaliman. Wong di mata mereka, zhalim atau adil itu sama saja.

Tentang Jamaah Islamiyyah misalnya. Organisasi ini sangat misterius. Wujud kekuatannya tidak tampak. Tidak ada pimpinan, pengurus, simbol, anggota, cabang-cabang, dll. layaknya jamaah dakwah selama ini. Saya menduga, pengaruh pemikiran tokoh-tokoh Jamaah Islamiyyah itu ada di Indonesia. Tetapi dalam batas pengaruh pemikiran saja. Namun kalau eksistensi organisasi, saya sangat tidak yakin. Begitu juga dengan pengagum Sayyid Quthb. Di Indoneia banyak orang menjadi pengagum Sayyid Quthb. Kitab tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an sudah terkenal. Tetapi apakah para pengagum Sayyid Quthb itu merupakan anggota Ikhwanul Muslimin Mesir? Belum tentu. Bahkan Ikhwanul Muslimin Indonesia yang diklaim oleh Habib Husein Al Habsyi, belum tentu mendapat lisence dari Ikhwanul Muslimin Mesir.

Singkat kata, kalau ngomong itu jangan asal nyeplos. Dipikir-pikir dulu secara cermat, biar tidak menjadi fitnah di kalangan Ummat Islam. Andai kemudian menjadi fitnah, yaa kita maklumlah. Apa sih kerjaan orang kafir, kalau tidak menyusahkan Ummat Islam? Justru rasanya aneh, kalau tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Hua ha ha ha…(dengan nada tawa seperti Mbah Surip).

TADZKIRAH UMMAT

Ummat Islam saat ini seperti buih lautan. Banyak jumlahnya, tidak berharga nilainya. Ummat menjadi bulan-bulanan opini media massa. Mereka dalam kebingungan besar mencari-cari cahaya penerang. Banyak sudah nasehat, peringatan, ajakan, himbauan, dan sebagainya disampaikan. Tetapi Ummat ini seperti sangat sulit lepas dari penjara kelumpuhan lahir-bathin. Berbagai macam obat sudah didatangkan untuk memperbaiki Ummat ini, tetapi penyakit yang bersarang tidak kunjung sembuh-sembuh. Siapa yang salah? Obatnya, dokternya, atau pasiennya?

Mungkin inilah masanya JAMAN FITNAH. Jaman penuh cobaan, godaan, dan rongrongan iman. Memegang nilai-nilai Islam di hari ini seperti memegang bara api. Kalau dilepaskan, ia akan padam; kalau terus dipegang tangan menjadi hangus.

Namun bagaimanapun, di hati kita harus selalu ada OPTIMISME. Okelah cobaan ini memang berat, amat sangat berat. Musuh-musuh yang dihadapi Ummat memerangi dari segala penjuru. Termasuk musuh-musuh yang memakai baju Islam, memakai kopiah, sarung, gamis, fasih dengan istilah-istilah Islam, dll. Sebesar apapun problem itu, ALLAHU AKBAR. Allah lebih besar dari semua itu. Allah berjanji akan menolong orang-orang beriman dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Hanya janji Allah semata yang layak kita pegang!!!

Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang mengingkari sesembahan selain Allah, dan bertauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tidak akan pernah putus. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Wallahu A’lam bisshawaab

sumber : http://abisyakir.wordpress.com/2009/07/30/membantah-pengamat-terorisme/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s