Dunia Intelijen dalam Pandangan Hukum Islam

Bagaimana hukumnya aktivitas intelijen atau dinas rahasia menurut Islam? Dan bagaimana pula Islam memandang kerjasama di bidang intelijen (antar negara)?

Pertama kali harus jelas dulu apa yang disebut dengan aktivitas intelijen. Aktivitas intelijen (tajassus) merupakan aktivitas mengamat-amati atau menyelidiki keterangan/berita seseorang atau sekelompok orang1; baik berita yang diamat-amati tersebut tampak atau tersembunyi. Orang yang melakukannya disebut intelijen (jâsûs).

Hukum tajassus berbeda, tergantung pada siapa obyek yang diinteli. Jika yang menjadi obyeknya adalah kaum Muslim atau kafir dzimmî yang menjadi warga negara (Daulah Islamiyah) maka hukumnya haram. Artinya, mereka tidak boleh dimata-matai. Sebaliknya, jika obyek tajassus itu adalah negara atau orang-orang kâfir harbî, baik kafir yang benar-benar memerangi negeri Muslim dan umat Islam secara fisik (kâfir harbî fi’lan) maupun kâfir harbî yang tidak langsung memeranginya (kâfir harbî hukman), maka dibolehkan bagi kaum Muslim untuk melakukan aktivitas intelijen terhadap mereka. Bahkan, wajib hukumnya bagi negara (Khalifah) melakukannya.

Keharaman melakukan aktivitas intelijen terhadap seluruh warga negara, baik Muslim ataupun kâfir dzimmî, secara tegas dinyatakan di dalam al-Quran:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ[

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah melakukan aktivitas tajassus (mengamat-amati/mencari-cari berita kesalahan orang lain) dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kalian merasa jijik. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (TQS. al-Hujurat [49]: 12)

Dalam ayat tersebut Allah Swt melarang melakukan aktivitas intelijen (tajassus). Kata wa lâ tajassasû tidak dapat dipahami selain ‘janganlah kalian melakukan tajassus (aktivitas intelijen)’. Adanya penyamaan antara tajassus dengan memakan bangkai sesama manusia yang haram tersebut merupakan indikasi (qarînah) tentang tegasnya larangan tersebut. Artinya, larangan tersebut bukan sekadar makruh melainkan haram.

Ayat tersebut bersifat umum. Karenanya, larangan tersebut mencakup segala macam bentuk tajassus, baik yang dilakukan demi keperluan diri sendiri atau bagi orang lain, baik hal tersebut dilakukan untuk kepentingan negara, kelompok, maupun individu. Begitu pula, sama saja, baik yang melakukannya itu penguasa ataupun rakyat.

Hukum asal, yakni larangan seluruh aktivitas intelijen dicakup oleh ayat di atas, baik terhadap warga negara, baik Muslim atau kâfir dzimmî. Namun, ternyata, terdapat pengecualian tentang kebolehan melakukan aktivitas intelijen yang dilakukan oleh kaum Muslim atau kâfir dzimmî terhadap kâfir harbî, baik kâfir harbî fi’lan/haqîqatan maupun kâfir harbî hukman. Bahkan, negara wajib melakukannya terhadap kâfir harbî. Kebolehan tersebut merupakan pengecualian dari keumuman larangan yang terdapat di dalam surat al Hujurât [49] ayat 12 tadi.

Di dalam Sîrah Ibn Hisyâm diriwayatkan bahwa Rasulullah saw mengutus Abdullah ibn Jahsy beserta kelompok yang terdiri dari delapan orang dari kalangan Muhajirin. Beliau menulis surat untuknya dan memerintahkannya untuk tidak membaca isinya hingga berjalan selama dua hari. Dia diperintahkan untuk melakukan apa yang ada di dalamnya, sedangkan yang lainnya tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dia pun menuruti apa yang diperintahkan Nabi. Setelah menempuh perjalanan dua hari, dibukanyalah surat Rasul tersebut. Di sana tertulis, ‘Bila engkau membaca suratku ini maka teruslah berjalan hingga sampai pada suatu tempat antara Makkah dan Thaif. Di sana, amatilah kaum Quraisy dan carilah berita tentang mereka untuk saya’. Dalam surat tersebut Rasulullah saw memerintahkan Abdullah ibn Jahsy melakukan tajassus terhadap kaum Quraisy serta memberinya informasi tentang aktivitas kafir Quraisy. Namun, beliau memberikan pilihan kepada sahabat-sahabat lainnya untuk menyertainya atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah meminta semuanya melakukan tajassus, tetapi bagi Abdullah ibn Jahsy harus, sedangkan yang lainnya boleh memilih.

Selain itu, hal ini menunjukkan wajibnya negara melakukan aktivitas intelijen terhadap kâfir harbiy. Sebab, informasi-informasi yang diperlukan oleh tentara kaum Muslim tentang negara musuh baru akan diketahui lewat aktivitas intelijen ini. Padahal, terdapat kaidah ushul yang menyatakan mâ lâ yatimmu al-wâjibu illâ bihi fa huwa wâjib (Suatu kewajiban yang tidak akan (berjalan) sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula adanya). Jadi, adanya dinas rahasia dalam tubuh tentara Muslim untuk melakukan aktivitas intelijen terhadap negara musuh hukumnya wajib.

Berdasarkan bahasan di atas, tampak bahwa siapapun, termasuk negara, tidak boleh melakukan aktivitas intelijen terhadap warga negaranya. Kalaupun dimaksudkan untuk menjaga keamanan maka tidak boleh dilakukan dengan perkara yang diharamkan, melainkan dilakukan oleh pihak yang menjaga keamanan dan ketertiban dalam negeri, yaitu polisi (syurthah). Sebaliknya, negara wajib memiliki badan intelijen yang ditujukan untuk mengawasi musuh (negara-negara kafir), baik negaranya maupun warganya yang sedang berkunjung ke dalam negeri.

Berkaitan dengan kerjasama intelijen dengan negara kafir, harus dilihat realitasnya. Pertama, kerjasama intelijen itu tidak dapat dilepaskan dengan kerjasama militer. Dengan kerjasama militer berarti musuh suatu negara merupakan musuh pula bagi sekutunya. Kerjasama seperti ini merupakan kerjasama yang bathil, diharamkan oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda:

«لَنْ نَسْتَضِيْءُ بِنَارِ الْمُشْرِكِيْنَ»

Kami tidak meminta bantuan pada api kaum musyrik. (HR Ahmad dan an-Nasa’i)

Artinya, janganlah kalian menjadikan api kaum musyrik sebagai penerang bagi kalian. Sementara itu, api merupakan kiasan bagi pertempuran dan militer. Jelaslah, tidak boleh kaum Muslim mengadakan kerjasama militer dengan negara-negara kafir. Kerjasama militer juga menjadikan kaum Muslim latihan perang dan bahkan berperang bersama mereka bukan atas nama individu melainkan antar negara. Lagi-lagi Rasulullah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Abdillah yang disandarkan kepada Abu Hamid as-Sa’adi:

«فَإِنَّنَا لاَ نَسْتَعِيْنُ بِالْمُشْرِكِيْنَ»

Kami tidak meminta bantuan kepada orang-orang musyrik. (HR. Baihaki)

Kedua, sasaran yang dijadikan sebagai obyek aktivitas intelijen itu siapa, apakah kaum Muslim ataukah kâfir harbî. Jika yang dijadikan obyek sasaran adalah warga negara Islam, baik Muslim ataupun kâfir harbî maka, jangankan melakukan kerjasama intelijen dengan negara kafir, melakukan aktivitasnya atau membentuk lembaganya saja haram, sebagaimana yang sudah dijelaskan. Sedangkan jika obyeknya adalah kâfir harbî, maka realitasnya tidak mungkin. Sebab, kerjasama yang kini tengah dijalin adalah kerjasama intelijen dalam rangka memberantas terorisme yang dimaknai oleh AS sebagai orang, kelompok orang, atau negara yang tidak berpihak kepada AS. Jadi, obyeknya bukan kâfir harbî.

Dengan demikian, melihat realitasnya, kerjasama negeri-negeri Muslim dengan negara-negara kafir di bidang intelijen dalam rangka menginteli atau mematai-amati kaum Muslim yang dicap ‘teroris’ merupakan tindakan bathil yang diharamkan, serta hanya merupakan sarana bangsa kafir untuk semakin menjajah kaum Muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s