MEMBELA ISLAM DENGAN CARA KELIRU (Menyoal Sikap “Defensif Apologetik”)

Sering kita mendengar istilah-istilah demokrasi Islam, Islam demokratis, republik Islam, kerajaan Islam, jihad defensif atau istilah-istilah yang sejenis dan semakna lainnya. Istilah-istilah di atas semuanya merupakan jawaban atas lontaran dari kaum kafir seperti: 的slam tidak mengenal demokrasi sehingga Islam tidak demokratis,_  的slam tidak mengenal sistem pemerintahan republik_, atau 鍍idak ada model kerajaan dalam sistem pemerintahan Islam,_ atau lontaran-lontaran yang lainnya. Sikap di atas inilah yang kemudian disebut defensif apologetik.

Sikap defensif apologetik kurang-lebih adalah sikap membela diri karena merasa diri menjadi pihak tertuduh. Celakanya, sikap demikian menjadi kontraproduktif ketimbang positif, karena pembelaan diri yang dilakukan menjadi tidak proporsional. Sikap inilah yang acapkali ditunjukkan oleh sebagian tokoh Islam ketika menghadapi tuduhan—yang tentu saja keliru—yang secara bertubi-tubi dilontarkan oleh orang-orang kafir Barat. Sikap demikian muncul pada seorang Muslim biasanya karena ada semacam rasa takut dianggap berbeda dengan pihak Barat. Sikap ini seolah-olah—menurut pandangan kebanyakan orang— benar, padahal sebenarnya, kalau kita telusuri lebih dalam dengan membuka sedikit akal jernih kita dan daya kekritisan kita yang senantiasa kita landaskan pada norma dan kaidah hukum, akan ditemui sejumlah kejanggalan; kalau tidak mau dianggap kesalahan fatal. Mengapa demikian? Sebab, logika yang digunakan dalam melandasi munculnya sikap defensif apologetik sarat dengan kesalahan, yaitu logika pembelaan tanpa didasarkan pada fakta bagaimana Islam memahami sekaligus menyikapi realitas yang dituduhkan. Akibatnya, yang muncul adalah sikap mereka-reka sendiri terhadap apa yang dituduhkan—secara salah—oleh orang kafir Barat berdasarkan alam rasional sendiri yang jauh dari tuntunan syariat.

Sebagai contoh, ketika Islam dituduh sebagai tidak demokratis, kemudian ada kalangan dari kaum Muslim—terlepas niatan baik untuk membela Islam ataukah kesengajaan yang berujung pada rencana penghancuran Islam sebagai agama dan sistem hidup—yang mengatakan, idak. Islam adalah agama yang sangat demokratis._ Kata, idak,_ inilah yang menunjukkan tindakan defensif (bentuk pertahanan diri untuk menjelaskan makna sebaliknya sebagai akibat adanya serangan), Sebaliknya, ungkapan, slam adalah agama yang sangat demokratis,_ menunjukkan tindakan apologetik (membenarkan tuduhan yang dilontarkan oleh orang kafir Barat yang sebenarnya pemahaman tersebut bukan bersumber dari Islam). Masih banyak lagi contoh yang menunjukkan sikap yang sama.

Menyusuri Kemunculannya

Munculnya sikap defensif apologetik ini dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal umat Islam sendiri. Di antaranya, Pertama: Kuatnya Makar AS dan Barat untuk memperlemah sikap dan pemahaman umat terhadap Islam yang murni dan konsekuen. Konspirasi AS dan Barat dalam rangka menghancurkan Islam sebagai agama dan sistem hidup yang sempurna terus dilakukan secara bertahap dan penuh dengan perencanaan yang matang, baik dalam bentuk fisik maupun perang opini.

Kita semua bisa melihat dan merasakan bagaimana AS dan Barat memecah belah umat Islam. Politik belah bambu yang berhasil dilakukan adalah bukti nyata keberhasilan AS dan Barat memperlemah umat Islam. Sekarang telah terbentuk 50 lebih negeri-negeri Islam yang terkungkung oleh paham nasionalismenya. Mereka mengagung-agungkan kebanggaan dan keunggulan sendiri-sendiri dengan memandang remeh yang lain serta mencampakkan kesatuan Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Negeri Islam yang satu tidak merasa berkepentingan atas negeri Islam yang lainnya ketika terkena musibah. Tidak bersatunya negeri-negeri Islam dalam membungkam Israel atas tanah Palestina adalah bukti atas peristiwa diatas. Demikian juga minimnya kepedulian umat atas peristiwa yang menimpa saudara-saudaranya di Moro, Uzbekistan, Rokhinnya, Pattani, Maluku, Ambon, dll.

Belum lagi pasca Tragedi 11 September—yang sampai saat ini belum diketahui siapa dalang dibalik peristiwa yang mengerikan tersebut, AS dan Barat telah melancarkan tekanan baik dalam bentuk fisik maupun opini atas  kaum Muslim, yang tujuannya semakin memperlemah keberislaman umat. Hal ini tampak pada saat AS dan Barat menyerang dan menghancurkan Afganistan dengan bom-bom curahnya. Ribuan umat Islam di sana meninggal dunia, beribu-ribu bangunan hancur, dan miliaran aset umat Islam luluh lantak. Akan tetapi, sebagian besar umat Islam memandang bahwa musibah tersebut adalah musibah yang ‘selayaknya’ ditimpa oleh rakyat Afganistan. Kalaupun ada reaksi, itu pun hanya sebatas kecaman atau sikap menyesalkan atas tindakan tersebut; tidak merupakan reaksi pembelaan dalam bentuk yang nyata.

Ditambah pula dengan opini AS dan Barat yang mengusung istilah ‘terorisme’, yang penuh dengan muatan politis untuk menyudutkan dan menghancurkan umat Islam, yang semakin menambah tekanan terhadap umat Islam yang pada akhirnya semakin memperlemah umat. Terorisme akhirnya diidentikkan dengan umat Islam yang secara konsisten memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam segala aspek kehidupan di seluruh dunia. Opini yang didukung jaringan media cetak maupun elektronik yang menggurita di seluruh dunia semakin menancapkan opini buruk tersebut ke Dunia Islam.

Dengan dua strategi inilah, akhirnya umat Islam semakin tidak berdaya untuk melawan makar AS dan Barat. Akibatnya, sekadar untuk mengatakan, “Tidak!” terhadap seluruh makar AS dan Barat, mereka tidak mampu. Kalaupun ada sikap pembelaan terhadap Islam, yang muncul adalah sikap pembelaan yang salah sebagaimana disebut di awal pembahasan. Akibatnya, ketika AS dan Barat melancarkan opini menyudutkan Islam dengan tuduhan-tuduhan miring dalam rangka memperlemah Islam, umat tidak mampu—atau bahkan lebih dipengaruhi sikap takut—untuk membantahnya. Yang muncul adalah sikap pembelaan yang justru memperlemah Islam sebagai agama dan sistem hidup yang sempurna.

Kedua: Rendahnya tingkat berpikir umat. Faktor ini juga cukup memberikan sumbangan yang besar bagi munculnya sikap defensif apologetik ini. Bagaimana tidak? Dengan taraf berpikir yang rendah, umat akhirnya tidak mampu—kalau tidak mau dikatakan tidak bisa—mengetahui apakah suatu pemikiran berasal dari Islam ataukah tidak. Akibatnya, pada saat ada tuduhan miring yang dilontarkan oleh AS dan Barat, yang justru muncul adalah jawaban rekaan semata. Kalaupun ada jawaban yang bersandarkan pada nash al-Quran maupun Hadis Nabi saw., kemunculannya berasal dari dalil-dalil yang lemah lagi tidak argumentatif, karena sekadar untuk membela diri, bukan untuk melakukan counter opini. Inilah yang sering terjadi.

Contohnya adalah munculnya istilah  demokrasi Islam. Tudingan AS dan Barat yang menyatakan bahwa Islam tidak demokratis, oleh sebagian umat Islam dijawab dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama yang demokratis. Sebab, dalam Islam setiap orang—terlepas dari agama maupun sukunya—bebas untuk mengungkapkan pendapatnya. Mereka semua bebas tanpa paksaan dan ancaman hukuman jika mengungkapkan pendapatnya. Argumen ini disandarkan pada kebolehan perbedaan pendapat dalam Islam. Dalam literatur sejarah Islam, misalnya pada masa kekhilafahan Abu Bakar, pernah terjadi perbedaan pendapat di seputar masalah memerangi kaum Muslim yang tidak membayar zakat. Abu Bakar sebagai khalifah menetapkan bahwa kaum Muslim yang tidak membayar zakat harus diperangi. Sebaliknya, menurut ‘Umar r.a., mereka tidak perlu sampai diperangi, cukup dinasihati saja. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian dijadikan dalil atas kebebasan berpendapat. Benarkah demikian?

Pendapat di atas, kalau kita teliti telah berlandaskan pada dalil yang lemah dan tidak tepat dalam penganalogian permasalahan. Perbedaan pendapat dalam Islam memang diperbolehkan, tetapi hanya dalam permasalahan-permasalahan yang bersifat cabang (furû‘) atau dari dalil yang mengandung unsur zhann (dugaan), baik dari sisi dalâlah-nya (penunjukkannya) ataupun tsubût-nya (sumbernya). Di luar itu, perbedaan pendapat tidak dibolehkan, misalnya dalam permasalahan akidah. Artinya, kita dilarang berbeda dalam masalah akidah. Selain itu, kita juga tidak diperbolehkan memberikan pendapat yang berasal dari luar hukum dan syariat Islam. Misalnya pendapat yang membolehkan adanya lokalisasi perjudian dan pelacuran. Kita tidak boleh membiarkan pendapat yang mengatakan, “lebih baik dilokalisasi daripada nanti menyebar ke seluruh lapisan masyarakat karena dengan di lokalisasi penyebarannya bisa dikontrol dan lebih terisolasi.” Pendapat yang demikian adalah pendapat yang keliru. Sebab, Allah Swt. telah menegaskan secara jelas tanpa perlu pemahaman lain bahwa kita dilarang untuk mendekati perzinaan. (Lihat: QS al-Isra’ [17]: 32).

Perbedaan pendapat antara Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar adalah perkara yang diperbolehkan. Sebab, keduanya sama-sama mengedepankan dalil yang bersumber dari Islam. Abu Bakar berpendapat bahwa kaum Muslim yang menolak membayar zakat pada hakikatnya menerima sebagian hukum Islam dan menolak pada sebagian yang lain. Sikap demikian tidak diperbolehkan oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

Apakah Engkau beriman pada sebagian kitab (al-Quran) dan kufur pada sebagian yang lain? (QS al-Baqarah [2]: 85)).

Dengan dasar inilah, Abu Bakar memerintahkan pasukannya untuk memerangi kaum Muslim yang tidak mau membayar zakat hingga tunduk dan patuh untuk membayar zakat.

Sebaliknya, ‘Umar r.a. berpendapat lain. Kaum Muslim yang tidak mau membayar zakat tidak perlu diperangi, sebab menurutnya, mereka masih Muslim dan  berjumlah sedikit sehingga tidak mempengaruhi institusi negara. Akan tetapi kemudian, pendapat Abu Bakar yang dilaksanakan karena beliau ketika itu sebagai pemilik wewenang untuk menentukan keputusan (Lihat: sikap Asy-Syaikhain tentang orang yang menolak membayar zakat dalam Fath al-Bâri, juz 17, hlm. 106; Al-‘Awâshim min al-Qawâshim, hlm. 45; Ahkâm al-Qur’ân Ibn ‘Arabi, juz 4, hlm. 1655 – 1656).

Bila kita lihat secara detail, perbedaan tersebut masih dalam kerangka masalah furû‘ (cabang) yang dibolehkan yang didasarkan pada argumentasi syar‘î. Artinya, pendapat mereka berdua masih dapat dikatakan sebagai pendapat islami. Di samping itu, keputusan yang diambil pun tetap keputusan yang telah ditetapkan oleh Abu Bakar. Hal ini menunjukkan sebenarnya yang mempunyai kewenanganlah yang bisa menyelesaikan perbedaan tersebut.

Realitas ini yang dihilangkan oleh para penggagas demokrasi. Apa yang diambil dalam nash syariat hanyalah sebagian baik dari sisi isi maupun pemahamannya. Oleh karenanya, muncullah persepsi lain yang justru bertentangan dengan Islam. Kondisi di atas bermuara pada lemahnya pemahaman umat terhadap tsaqâfah Islâmiyyah.

Ketiga: Kesalahan mengambil sikap. Sikap yang seharusnya muncul adalah menjelaskan tuduhan miring yang dialamatkan kepada Islam dengan bersandar pada pemahaman yang sesuai dengan nash syariat, bukan memberikan jawaban yang seolah-olah membela Islam namun pada hakikatnya justru menghancurkan Islam sebagai akibat dari penggunaan jawaban yang bersandarkan pada rekayasa logika yang lemah, berdasarkan nash syariat yang lemah, atau bersandarkan pada penafsiran yang keliru.

Sikap yang Harus Diambil

Langkah selanjutnya adalah menulusuri apakah sikap defensif apologetik ini murni persoalan fiqhiyyah semata ataukah sudah dimasuki unsur-unsur untuk menghancurkan Islam?

Apa yang tampak dalam tema-tema yang dilontarkan sebagai bahan bahasan seputar defensif apologetik ini tampak bahwa topik-topik bahasan yang ada seputar permasalahan yang menyangkut ruh bagi pergerakan umat Islam serta kesatuan umat dalam satu wadah kepemimpinan Daulah Khilafah. Permasalahan demokrasi Islam, jihad, kerajaan Islam, Islam republik, dan lain sebagainya adalah contohnya. Karena itu, tidaklah berlebihan jika disimpulkan bahwa AS dan Barat memang sengaja memilih tema-tema tersebut guna memperlemah dan memporakporandakan pemahaman umat Islam terhadap nash-nash syariat. Rusaknya pemahaman umat terhadap permasalahan di atas akan membawa konsekuensi logis pada lemahnya persatuan mereka yang berujung pada semakin mudahnya mereka dipecahbelah. Benarlah, jika dikatakan, ini semua merupakan salah satu strategi global dalam rangka melumpuhkan Islam sebagai agama dan sistem hidup yang sempurna.

Selain itu, munculnya sikap defensif apologetik sebagai akibat ketidaktahuan, kurangnya pendalaman terhadap nash-nash syariat, dan kesalahan dalam mengambil nash syariat sebagai hujjah juga perlu diwaspadai

Sikap yang harus diambil adalah: (1) dilakukan upaya memahamkan umat terhadap seluruh ajaran Islam. Apa yang dikehendaki Islam seluruhnya disampaikan tanpa ada sedikitpun yang disembunyikan. Hukum yang lemah lembut dikatakan lemah lembut; hukum yang keras pun dikatakan keras; bukan sebaliknya. (2) melakukan dialog secara berkesinambungan dan secara menyeluruh dengan pihak-pihak yang menggunakan dalil yang kurang tepat tersebut guna mencari dalil yang terkuat.

Khatimah

Hendaknyalah kita senantiasa waspada terhadap seluruh makar yang dilakukan oleh AS dan Barat dalam rangka menghancurkan Islam sebagai agama dan sistem hidup yang sempurna. Mereka tahu bahwa Islam mempunyai kekuatan besar untuk mengganti sistem kapitalis-sekular yang telah lama bobrok dan menyengsarakan umat.

Untuk itu, tuduhan-tuduhan miring yang dialamatkan pada Islam oleh Barat dan AS hendaknya terus kita waspadai dan kita sikapi sesuai dengan apa yang telah dituntunkan oleh syariat; bukan sebaliknya, menggunakan logika salah dan berdalil lemah yang justru akan menghancurkan Islam sendiri. Dengan demikian, bersikap defensif apologetik secara nyata akan menghancurkan Islam. []

Filed under: Arsip Al-Wa’ie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s