Pergeseran Peradaban itu Realistis

Oleh : Husain Matla

Bencana finansial di AS membuat beberapa pembela kapitalisme mempertahankan diri, sebagaimana Allan Greespan dan Francis Fukuyama. Mereka mengatakan bahwa krisis yang terbesar pasca Malaise (1929) itu sama sekali bukan kesalahan kapitalisme dan pasar bebas. Mereka menyebut bahwa krisis itu lebih dikarenakan kerakusan para pebisnis yang melakukan bisnis derivatif, kecerobohan masyarakat dengan sikap yang tidak “cerdas pasar”, serta kegagalan pemerintah melakukan good governance. Tapi tampaknya banyak yang tak percaya pada bantahan yang terkesan defensif apologetik itu. Ini karena secara fakta terdapat banyak kejanggalan dari alasan kedua fundamentalis kapitalisme itu.

* Keinginan agar semua orang berpikir “cerdas pasar” tidak relevan karena orang-orang yang cerdas pasar justru akan menjadikan mayoritas orang “bodoh pasar” (Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad). Ini ditunjang oleh sistem bunga yang membuat eksploitasi itu menjadikan bisnis tak sekedar “permainan” tapi “pembantaian”. Dahlan Iskan menyatakan betapa tak adilnya orang-orang yang di sektor keuangan mendapat keuntungan 40 %, sementara orang-orang di sektor riil hanya dapat untung 20 %. Tentu saja ini sebuah eksploitasi karena orang-orang di sektor riil bekerja jauh lebih keras.

* Harapan supaya para kapitalis tidak rakus juga tidak mungkin. Ini karena selisih yang terlalu besar antara sektor keuangan dan sektor riil menjadikan eksploitasi benar-benar di depan mata. Faktanya, sistem bunga menjadikan jual beli uang jauh lebih menarik dari produksi dan jual beli barang.

* Ketika sebuah bangsa mencapai kejayaan, mereka cenderung cinta kemewahan (Ibnu Khaldun, Mukadimah). Faktanya, kecenderungan ini menjadikan mereka rakus dan tidak cerdas pasar. Tak ada strategi kapitalisme untuk mengatasi kondisi ini. Mekanisme pasar tak sanggup menghasilkan “tangan gaib”. Optimisme Adam Smith dan John Naisbitt faktanya tak pernah terbukti. Pesimisme David Ricardo terasa lebih realistis.

* Tuntutan agar pemerintah melakukan good governance tak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun, persaingan yang terjadi bukan persaingan sempurna. Tapi persaingan oligopolistis, bahkan monopolistis. Faktanya, manusia kemampuannya berbeda-beda. Tak semua mereka kuda. Sebagiannya singa dan mayoritasnya kancil. Sikap pemerintah tak akan mengubah suasana persaingan ini.

* Selama ini diharapkan para pelaku bisnis mempunyai jiwa spiritual dan sosial. Masalahnya, ini didapat dari mana? Adanya pebisnis yang dermawan seperti Bill Gates tak bisa jadi contoh karena bukan menjadi kecenderungan umum. Faktanya, tokoh-tokoh agama yang diharapkan menambal kekurangan ini terbelenggu, terkalahkan dominasi pasar. Tak pernah ada ceritanya para ulama menominasikan pengusaha yang “konsisten pada syariah”. Yang ada, para pengusaha menyeleksi ustadz yang lebih “disukai pasar”. Apalagi media dan lembaga rating selalu dikuasai pemegang modal, bukan pemegang nilai.

Semua itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada sopir dan penumpangnya. Masalahnya adalah, mobil yang bernama kapitalisme ini memang menghasilkan sopir atau penumpang yang tamak, bodoh, atau tak berdaya. Adalah wajar kalau penduduk dunia semakin tak percaya pada ideology ini.

Lalu, apakah kapitalisme akan segera hancur? Dan bagaimana prospek dunia masa depan?
Memasuki Era Stagnan

Umumnya, bangkitnya peradaban dominan yang kedua kali –berbeda dengan periode pertama– lebih dikarenakan kepahlawanan (heroism) daripada pencerahan (aufklarung). Ini dilakukan setelah terjadi friksi internal dan “perang dunia” yang melanda peradaban itu. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi setelah dilanda konflik Roma-Goth dan selanjutnya diserang Attila the Hun (452 M). Begitu pula yang terjadi pada peradaban Isalam setelah konflik Baghdad-Kairo dan selanjutnya diserbu Hulagu the Mongol. Peradaban kapitalis pun begitu. Konflik mazhab laissez faire (Inggris/Prancis) versus kapitalisme negara (Jerman) selanjutnya memicu Perang Dunia I dan II. Setelah itu, biasanya muncul “negara inti” (meminjam istilah Huntington) yang menyelamatkan dan memimpin peradaban (Bizantium, Utsmani, AS). Karenanya, pasang naik peradaban itu berikutnya lebih dilandasi kuatnya metode dan implementasi daripada ide dan formulasi. Mereka unggul dalam pengorganisasian dan militer. AS tentu saja lebih unggul daripada Kakaisaran Inggris Raya dulu, sebagaimana Utsmani lebih unggul daripada Abbasiyah.

Walau begitu, hal ini juga mempunyai imbas. Setelah peradaban itu surut, memang friksi internal (sebagaimana dalam periode pertama) tidak terlalu nampak. Namun, terjadi stagnasi. Inilah yang terjadi pada peradaban Romawi (abad VII M) dan peradaban Islam (abad XVI M) yang tampaknya besar tapi lemah dalam ide. Kecenderungan yang muncul hanyalah implementasi, bukannya internalisasi. Peradaban dilanjutkan dengan kurangnya kesadaran ideologis.

Peradaban kapitalis tampaknya sekarang juga demikian. Rusia dan China bukan negara yang “fundamentalis” pada kapitalisme. Meraka bahkan menjalankannya dengan banyak perkecualian. Eropa selalu terombang-ambing antara Keynesian versus neoklasik. Brasil dan India tipikal khas implementator. AS pun tampaknya melanjutkan kapitalisme tak seyakin sebelumnya. Keadaannya begitu mirip dengan Bizantium, Goth, dan Franka (abad VII M) atau Utsmani, Safawi, dan Moghul (abad XVI M). Peradaban berjalan multipolar, datar, dan stagnan, walaupun sepintas tampak besar.
Geliat Peradaban Baru

Namun, kondisi ini sebenarnya sangat kondusif jika di dunia muncul sebuah konsep baru peradaban. Realitanya, itulah yang terjadi saat munculnya Islam di Madinah tahun 632 M dan saat bangsa-bangsa Barat mengorganisasikan dirinya melalui konferensi Westphalia tahun 1645 M yang menjadi penyangga penyebaran sekularisme-kapitalisme di Barat.

Untuk saat ini, tak ada konsep dunia lain yang siap menggantikan kapitalisme kecuali Islam. Sosialisme Amerika Latin sebanarnya hanyalah kapitalisme Keynesian dengan beberapa catatan. Itupun lebih didorong adanya orang kuat seperti Hugo Chaves dan Castro bersaudara. Tak ada prospek Amareika Latin akan memandu perubahan peradaban di dunia.

Sedangkan Islam sebaliknya. Memang mulai abad akhir XVI M melemah. Selanjutnya negeri-negeri Islam satu per satu jatuh ke dalam cengkeraman imperialisme Barat. Tapi itu sebenarnya lebih karena stagnasi. Tak berarti konsepnya hilang. Bahkan disamping konsep itu tetap ada, banyak para pengembannya yang menyoroti dengan detail akan kesalahan dan kekeliruan kapitalisme dalam memimpin dunia. Banyak konsep-konsep hasil ijtihad bermunculan, tak hanya tentang thaharah, nikah, dan pengurusan mayat. Tapi juga menyangkut sistem pemerintahan, hukum, ekonomi, serta sosial. Dua fondasi masyarakat Islam, yaitu ekonomi syariah dan sistem khilafah kembali populer. Sebagaimana survei SEM Institute dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis, tren pro syariah di Indonesia meningkat pesat (> 80 %). Dan tren ini ternyata juga menjadi tren global dunia Islam.

Dalam tahapan stagnasi kapitalisme ini, pergeseran peradaban tempaknya sangatlah realistis. Tidakkah kita berkaca pada abad VII M dan abad XVI M?

Husain Matla, ST, MM adalah penulis produktif. Beberapa buku yang bernuansa ideologis,Direktur MATLa Institute

Referensi:

* Robert T. Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad, Gramedia 2004
* Mukadimah Ibnu Khaldun
* John Naisbitt, Mind Set, Daras 2007
* Imam Suyuthi, Tarikh Khulafa, Pustaka Al-Kautsar
* Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, bagian Khilafah
* Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, bagian Pemikiran dan Peradaban
* An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtishadiyu fil Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s