Hikmah Isra’ Mi’raj

KH. Abdul Rasyid AS (Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah)

Allah SWT berfirman:

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Isra 1).

Tafsir
Dalam Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Imam Jalalaudin As Suyuthi dan Jamaluddin al Mahally dijelaskan bahwa Allah SWT yang Maha Suci telah memperjalankan Nabi Muhammad saw. di malam hari dari masjidil Haram di kota Mekah ke Masjidil Aqsha  di Al Quds Palestina  yang sangat jauh jaraknya (sekitar 1500 km) menurut kemampuan alat tranportasi manusia yang sederhana pada 15 abad yang lalu.

Kalimat Asraa  dalam bahasa Arab maknanya adalah memperjalankan di malam hari.  Namun digunakannya zharaf zaman (kata keterangan waktu) lailan (di malam hari) adalah untuk menjelaskan betapa sedikitnya  waktu tempuh yang digunakan yang tentu ini merupakan mujizat (hal yang luar biasa).

Menurut Tafsir Jalalain juga bahwa tujuan Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad saw. pada malam tersebut adalah untuk memperlihatkan sebagian ayat-ayat Allah, yakni keajaiban-keajaiban kekuasaan Allah SWT.  Dan Allah SWT Maha Melihat lagi Maha Mendengar, artinya Maha Mengetahui ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad saw.

Maknanya adalah Allah SWT telah memberikan nikmat kepada Nabi Muhamamd saw. dengan perjalanan Isra’ tersebut yang mencakup pertemuan beliau saw. dengan para Nabi yang diutus sebelum beliau saw. sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Isa a.s., baik para Nabi dan Rasul yang telah Allah qisahkan maupun yang belum Allah kisahkan (lihat QS. An Nisa 164).

Menurut suatu catatan hadits, jumlah Nabi yang diutus oleh Allah SWT adalah 124 ribu orang, sedangkan Rasul jumlahnya 313 orang.  Tentu jumlah tersebut tidak bisa dipastikan, karena ada yang meriwayatkan bahwa jumlah Nabi yang diutus hanyalah sekitar 8 ribu Nabi, 4 ribu di antaranya adalah keturunan Bani Israil.  Dalam peristiwa Isra’ tersebut, para Nabi dan Rasul Allah itu dihidupkan hanya khusus menjadi makmum kepada Rasulullah saw. dalam sholat jamaah di Baitul Maqdis yang sangat sepesial tersebut.

Setelah itu Rasulullah saw. diperjalankan ke atas langit (Mi’raj) dan melihat berbagai keajaiban alam malaikat dan bermunajat kepada Allah SWT.  Di antara keajaiban dalam peristiwa Mi’raj adalah Rasulullah saw. kembali melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang memiliki 600 sayap.  Ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT:

Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430]. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An Najm 12-18).

Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika Mi’raj.

Oleh karena itu peristiwa Isra’ Mi’raj ini merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, yang tidak mungkin pernah bisa dilakukan oleh manusia manapun selain Nabi Muhammad saw.  Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah mujizat terbesar kedua yang dimiliki oleh baginda Rasulullah saw. setelah Al Quran.

Isyarat dalam peristiwa di Baitul Maqdis

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, tepatnya di Masjid Baitul Maqdis sebelum naik ke langit yang ketujuh, adalah memimpin sholat khusus dengan makmum para Nabi saw., termasuk Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s.  Apa isyarat dari peristiwa tersebut?

Prof. Rawwas Qal’ahjie telah menerangkan isyarat tersebut dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah : Qira`ah Siyasiyah. Menurut beliau, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, terkandung isyarat peralihan kepemimpinan dunia. Dunia yang semula di bawah kekuasaan Bani Israil, kemudian beralih di bawah kekuasaan umat Muhammad SAW.

Seperti diketahui, kepemimpinan dunia hingga terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, ada di bawah kepemimpinan Bani Israil, sebab agama-agama samawi yang masih ada –yaitu Yahudi dan Nasrani— adalah agama-agama bangsa Israil. Namun tak dapat disangkal, kepemimpinan Bani Israil ini telah cacat dan rusak. Karena agama Yahudi dan Nasrani telah mengalami penyimpangan dan tidak murni lagi.

Kitab Taurat dan Injil telah mengalami pencemaran dan perubahan (tahrif) akibat ulah pengikut-pengikutnya yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Dengan demikian, para pengemban agama Yahudi dan Nasrani pun sesungguhnya sudah tak layak lagi memimpin dunia. Karena itu, tongkat kepemimpinan dunia harus segera dipindahtangankan kepada umat lain yang lebih berhak dan lebih mampu memimpin dunia. Siapakah umat ini? Tiada lain adalah umat Muhammad SAW.

Dari peristiwa itulah, ada isyarat kepemimpinan umat Islam. Dalam peristiwa shalat jamaah tersebut telah terjadi pencabutan kepemimpinan Bani Israil yang selanjutnya diberikan kepada umat Muhammad SAW. Dengan demikian, sejak peristiwa itu, manusia menjadi tidak sah beramal dengan agama-agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang telah mengalami banyak sekali distorsi dan perubahan. Agar amal manusia sah dan diterima Allah, haruslah beralih kepada agama baru yang masih murni, yaitu Islam.

Peralihan kepemimpinan manusia ini adalah sah alias konstitusional. Mengapa? Sebab yang mengubah kiblat kepemimpinan adalah benar-benar para wakil dari seluruh umat, yakni para nabi. Siapa pun yang menentang peralihan kepemimpinan yang konstitusional ini, berarti melakukan perlawanan yang liar atau inkonstitusional.

Hal menarik lain dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah bahwa Masjidil Aqsha akan menjadi milik umat Islam. Mengapa? Karena dalam shalat jamaah yang dilakukan di suatu tempat, yang paling berhak menjadi imam adalah pemilik tempat itu. Jadi, karena yang menjadi imam adalah Rasululah SAW, berarti beliaulah yang menjadi pemilik Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).

Sejarah kepemimpinan umat ini benar-benar terbukti. Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah (622 M) dan kemudian menegakkan negara dan masyarakat Islam, kepemimpinan Islam mulai terwujud. Sebab di negara baru tersebut, umat Islam memimpin umat-umat lain.

Dalam masyarakat Islam ada warga negara kaum Yahudi sebagaimana disebut dalam Piagam Madinah (Watsiqah Al-Madinah). Tercatat, kaum Yahudi itu adalah Yahudi Bani Auf, Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Harits, Yahudi Bani Saidah, Yahudi Bani Jusyam, Yahudi Bani Aus, dan Yahudi Bani Tsa’labah. Dalam perkembangan berikutnya, kaum Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’ juga menandatangani Piagam Madinah itu.

Kepemimpinan umat Islam di masa Nabi atas kaum Nasrani juga mulai terwujud. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin berperang dengan kaum Nasrani di wilayah Syam dalam Perang Mu`tah. Memang dalam perang kali ini kaum muslimin tidak menang dan juga tidak kalah. Namun Perang Mu`tah ini menjadi jalan awal untuk penaklukan Syam (Fathu Syam) di masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab inilah, penaklukan Syam terjadi pada tahun 15 H. Dalam penaklukan Syam ini, Khalifah Umar dan para sahabat Rasulullah serta pasukan kaum muslimin memasuki kota Al-Quds dengan penuh kehormatan. Khalifah Umar menerima kunci kota Al-Quds dari kepala pemerintahaan Nasrani, yaitu Sefrounius. Setelah memasuki kota Al-Quds ini, Khalifah Umar dan kaum muslimin melakukan shalat di Masjidil Aqsha. Inilah shalat yang kedua di bawah kepemimpinan umat Islam, setelah shalat pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada malam Isra`.

Hari ini, lima belas abad pasca turunnya ayat 1 dari surat Al Isra tersebut, umat Islam menjadi makmum.  Mengikuti kaum lainnya, baik Yahudi, Nasrani, maupun kaum lainnya. Masjidil Aqsha pun dibawah telapak kaki Agresor Zionis Israel.

Oleh Karena itu dalam peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini perlu dipikirkan cara yang sistematis, untuk mengambil kembali Masjidil Aqsha dan mengambil kembali kepemimpinan atas dunia.  In Tanshurullaha yanshurkum wa yutsaabbit aqdaamakum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s