Demokrasi bukan pilihanku..

Menjelang pesta demokrasi alias pemilu, begitu banyak persiapan yang dilakukan para pengusungnya, dari kota sampai ke desa; berjajar partai-partai yang akan turun ke kancah politik. Mulai dari partai senior sampai partai junior, bahkan partai yang menisbahkan dirinya kepada Islam pun tidak mau ketinggalan mengambil posisi dalam memeriahkan pesta demokrasi. Tak ada satu jalan pun kecuali telah dipenuhi dengan baleho-baleho para caleg, spanduk-spanduk partai, stiker, dan atribut lainnya. Beribu-ribu ungkapan dan janji yang tertulis hampir di setiap sudut kota. Semuanya terkadang buat bingung; yang mana harus dipilih?

Adanya pesta raksasa semodel ini terkadang membuat orang lupa segalanya sehingga ia tak pernah mau tahu apakah menerapkan paham demokrasi adalah yang terbaik.

Kedudukan DEMOKRASI ini akan semakin jelas, jika kita mengetahui maknanya. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani dan tersusun dari dua kata. Kata pertama adalah “Demo” yang bermakna rakyat atau penduduk. Kata yang kedua adalah “Krasi” yang berasal dari kata “Kratia” yang berarti aturan hukum dan kekuasaan. Dua kata Yunani ini, kalau digabungkan, menjadi “Demokrasi” yang berarti pemerintahan dari rakyat.

Jadi, DEMOKRASI adalah hukum dari rakyat untuk rakyat sendiri, dalam artian suara rakyat adalah hukum dan kekuasaan tertinggi. Dalam prakteknya, demokrasi tergambar dalam suara terbanyak. Keputusan apapun yang dipilih oleh suara terbanyak, maka itulah yang harus diambil dan diterapkan.

DEMOKRASI yang merupakan produk buatan manusia yang banyak memiliki kekurangan, dan kebatilan. Diantara kebatilan-kebatilan demokrasi:

* Menentukan Hukum Berdasarkan Suara Terbanyak

Banyaknya manusia yang memilih dan menetapkan suatu perkara bukanlah menjadi tolok ukur bahwa perkara itu benar dan baik. Jika suatu perkara dikembalikan dan diukur dengan pikiran dan ide kebanyakan orang, maka yakinlah bahwa perkara-perkara itu akan banyak memiliki kekurangan dan pelanggaran; jauh dari jalan Tuhan. Jadi, manusia –bagaimanapun banyaknya- bukanlah pengambil keputusan tertinggi, dan bukan sumber hukum tertinggi.

* Menyamaratakan Manusia

Dalam ajang demokrasi semua orang posisinya sama; seorang ulama dan bertaqwa sama posisinya dengan orang yang jahil lagi dzolim. Orang yang sholeh sama posisinya dengan seorang perampok; Seorang professor sama pendapatnya dengan seorang gelandangan. Demikianlah demokrasi, adapun kemauan kita adalah bahwa semua selayaknya diposisikan secara proporsional.

* Pesta Pemborosan

Pemilu jelas menggunakan uang rakyat. Bukankah uangnya memang dianggarkan untuk dibuang? Namanya saja pesta demokrasi, uang yang dipakai untuk mengulang pesta ini akan berulang tergerus lagi.

Ada banyak kontroversi yang menyelimuti sistem demokrasi. Beberapa polemik memang tidak akan habisnya kalau dibahas.. ini senua terjadi karena sistem ini memang tidak relavan untuk memilih pemimpin.. Saya tetap menganut sistem yang elegan yang pernah kita anut dahulu yaitu “Musyawarah Mufakat”. Ini bukan berarti meniru paham yang ada di Timur tengah maupun di Cina, tetapi dengan sistem ini saya melihat bahwa kualitas pemimpin yang dihasilkan memang lebih akomodatif dan logis.

setelah sejak sekitar 90 an saya tidak pernah menggunakan hak pilih, saya mimpikan pemilu saat ini yang bener dan bersih tapinya makin dekat saat pemilu justru semakin saya ragu pada semua menu pemilu yang ada . . .
Haruskah aku golput lagi ?
meski tidak memilih berarti tidak ikut menentukan tapi apakah memilih saja sudah benar tanpa tau persis si A yang kita pilih , jangankan sifat dan kelakuanya , kenal saja lewat iklan dan selebaran serta rasanya tidak cukup waktu kampanye ini untuk menentukan pilihan .
Dosakah saya golput ?
Padahal beberapa caleg yang datang tak ada satunya yang berhasil menarik simpati saya , apakah saya harus dipaksa atau memaksa diri untuk memilih diantara mereka yang jelas tidak kita suka saat menjelaskan programnya yang tidak dapat saya mengerti/terima .

Pendapat Erwinthon P. Napitupulu :

Terus terang, saya pengusung golput. Bahkan rela dianggap sebagai
jurkam golput hehe karena sudah cukup banyak teman/saudara yang saya
sadarkan/sesatkan untuk jadi golput hehehehe. Saya golput justru
karena saya tidak apatis.

Perilaku anggota dewan dan sistem politik (eksekutif, legislatif,
yudikatif) di Indonesia sudah memuakkan. Maaf, saya nggak tahu apakah
utk menggolkan UU Arsitek, ada “dana” yg harus disiapkan? Saya dengar
sendiri dari kawan yg menjadi pengurus IKAPI (Ikatan Penerbit
Indonesia) bagaimana utk menggolkan sebuah UU, mereka perlu siapkan
uang sampai 2 milyar untuk anggota dewan.

Selain itu, saya sungguh sangat kesal melihat pemandangan kota
dihancurkan oleh spanduk2 caleg, yg biaya pembuatan dan biaya
kampanyenya nantinya akan balik modal dari setoran2 setelah jadi
anggota dewan. Pemilu dagelan! Sebagian besar dari satu setengah juta
orang sudah gila dengan mengajukan diri jadi caleg.

Tingginya angka golput akan menunjukkan seberapa besar orang yg muak
atau tidak peduli. Jika angka itu lebih besar dari jumlah angka
pemenang pemilu, setidaknya para penghuni Senayan itu berkurang
main2nya dalam penyelenggaran negara ini, karena jika tingkat kemuakan
masyarakat makin besar, maka kemungkinan yg buruk bisa saja terjadi.

Dengan menjadi golput, saya menganggap diri tidak mau ikut
melanggengkan kebusukan itu terus terjadi di sini. Sebelas tahun
belakangan memang mulut Indonesia dibiarkan terbuka, tapi tulang2 kita
dipatahkan, sehingga dari mulut yg terbuka itu sering keluar kalimat2
yg menunjukkan kesakitan. Pemiskinan dan pembodohan kepada bagian
terbesar massa rakyat terus terjadi, setidaknya itu yang saya lihat
terjadi di kampung tempat saya tinggal sekarang. Sama sekali tidak ada
kepedulian pemerintah pada petani kecil.

Sebelas tahun ini kita sudah salah melangkah, membiarkan orang2 busuk
berkuasa kembali. Ketika 1998 harusnya kita mengikuti anjuran Romo
Mangun: “Kalian bodoh semua, harusnya bukan reformasi untuk perbaiki
negeri ini tapi revolusi…bla. .bla…bla. …” sambil mencontohkan
Bung Hatta (dng contoh ini berarti revolusi berdarah harus dihindari).

Singkat saja. Analisa saya: golput relatif tidak mengubah komposisi
perolehan suara partai. Lalu, apa kepentingannya? Ya, supaya kita
semua sadar bahwa ini sudah sangat tidak benar. Sekarang kan se-olah2
jadi benar, karena mereka berhak mengklaim saya wakil dari rakyat
(dari persentase pemilih yg ikut, padahal berapa persen yg tidak
mengerti apa yg mereka pilih, berapa persen yg ketipu terus hanya bisa
misuh2 di warung kopi atau di internet, berapa persen lagi yang
memilih atas dasar serangan fajar). Kita dapat hasil yang palsu kan?
Dan kata Ompung saya, semua yang palsu/tidak benar itu tidak baik.

Ibarat kanker atau gigi busuk, ketimbang merambat ke mana2 dan
membahayakan jiwa, potong buang atau cabut.

Tenang saja, bro.
Revolusi yg saya maksudkan bukan huru-hara. Peristiwa 98 bukan
revolusi, itu adalah sebuah simpul/simpang di mana kita dihadapkan
pada pilihan: mau perbaikan cepat-total atau bertahap? sayangnya kita
ambil jalan yang salah, akhirnya ya terus sakit spt sekarang ini.

Orang sering keburu alergi dengan kata revolusi. Itu kan artinya
perubahan yang terjadi secara cepat. Revolusi juga bukan lawan kata
reformasi. Reformasi kan cuma berubah bentuk, materinya sama, spt yg
terjadi sekarang ini. Sama juga dengan banyak orang keburu alergi
dengan kata “kiri”. Padahal jantung kita kan ada di bagian kiri
(sedang perut berada di kanan, ya? hehehe).

Saya suka nonton tinju yg sportif, tapi saya benci sekali lihat
tawuran mahasiswa. Lalu mungkinkah revolusi di negara kita berlangsung
tanpa pertumpahan darah? Revolusi-nya Gandhi atau Martin Luther King
Jr bisa dijadikan inspirasi. Caranya bagaimana? Itu yang perlu
ber-sama2 orang2 muda, pemilih masa depan, pikirkan. Peristiwa
Kemerdekaan kita juga dilakukan dengan keputusan yg berani, melakukan
revolusi pada saat ada kesempatan menjelang akhir Perang Dunia II.
Pelakunya adalah orang2 muda angkatan 45 dan orang2 tua dari angkatan
28. Baca lagi deh sejarah.

Demokrasi memang masih merupakan sistem yang paling baik dalam
bernegara. Jadi biarkan yg memilih tetap memilih, yang golput tetap
golput. Keduanya tetap diperlukan utk kondisi saat ini. Biarkan juga
antarkeduanya saling mempengaruhi, saling tarik massa, dengan
pemahaman yg tepat. Selama tidak ada pemaksaan, dan manipulasi
informasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s