PILIH ISLAM ATAU DEMOKRASI?

Dua kata di atas seakan sangat menarik untuk di benturkan. Hasilnya adalah ada yang pilih Islam karena alasan macem-macem (ideology, dll); ada yang memilih demokrasi karena juga alasan yang beragam; ada juga yang mengambil jalan tengah untuk tidak menolak keduanya alias memilih untuk mengatakan “kan sama aja antara Islam dan Demokrasi gak ada yang berbeda”.
Pada tulisan ini kami akan menyoroti mereka yang menganggap antara Islam dengan Demokrasi adalah sama. Sedangkan bagi yang menolak Islam (jika mereka muslim) maka kami cukup mengatakan kepada mereka bahwa bersegerahlah untuk bertobat karena sungguh pada keadaan itu anda tidak lagi muslim.
Sepenggal cerita…..
Suatu ketika semasa kami (penulis) masih berstatus mahasiswa di salah satu Ma’had Bahasa Arab, kami bertemu dengan salah seorang teman yang telah menyelesaikan kuliahnya di sebuah universitas yang terkenal sebagai pengusung ide liberalisme. Berikut petikan pembicaraan kami dengannya dan kami potong sampai pada pembahasan ttg demokrasi:
………..
Penulis: saudara, anda tadi mengatakan Islam dan Demokrasi itu tidak ada perbedaan alias sama saja, apa yang mendasari pendapat anda demikian?
Teman: yah, saya mengatakan demikian karena saya melihat antara keduanya sama-sama menginkan kebaikan, keduanya menerima aspek musyawarah, mengakui adanya persamaan hak, dll.
Penulis: Kalau begitu, saya kurang sependapat dengan anda. Pertama, keinginan untuk hal yang baik dalam demokrasi itu adalah hal yang absurd, tidak jelas, kebaikan menurut siapa? Baik menurut orang papua adalah berpakaian koteka, orang barat, telanjang dijalan adalah bukan keburukan tapi bagi orang jawa, Makassar, bugis, apakah itu baik? Belum tentu! Sedangkan kebaikan dalam islam telah jelas di definisikan bahwa kebaikan dan keburukan itu harus ditentukan oleh Allah. Bukankah dalam al-Qur’an dan Sunnah selain muka dan telapak tangan itu tidak boleh diperlihatkan dan itulah kebaikan dalam berpakaian. Bukan koteka, baju bodoh, apalagi telanjang. Kedua, musyawarah dalam demokrasi adalah suara terbanyak dan tidak mempertimbangkan aspek benar dan tidaknya pendapat. Kalau suara terbanyaknya salah maka itulah yang benar alias menang, contoh: miras/khaomer sekrang boleh di minum, ada yang boleh di mana-mana, ada yang boleh hanya sekian radius dari tempat sholat, tapi intinya boleh. Sedangkan dalam islam musyawarah memang sangat dianjurkan tapi dengan tegas memperhatikan perkara yang dimusyawarahkan, kalau status hukumnya telah jelas maka tdk perlu lagi dimusyawarahkan. Contoh: haramnya miras, zina, riba dll tidak lagi membutuhkan pendapat apakah boleh atau tidak? Karena telah jelas larangannya. Yang dimusywarahkan di sini dalam aspek yang sifatnya ada pilihan. Contoh, pada saat perang badar, rasulullah memilih suatu tempat untuk beristirahat. Salah seorang sahabat bertanya, “yah Rasulullah, apakah ini wahyu sehingga kita harus berhenti di tempat ini?” “Bukan”, jawab baginda. “Kalau begitu kita beristirahat di daerah yang dekat dengan mata air agar menutup akses kafir quraisy ketika mereka memerlukan air”. Rasulullah kemudian memerintahkan untuk berpindah tempat. Nah, contoh di atas menunjukkan bahwa pilihan beristirahat di dua tempat berbeda adalah boleh namun diperlukan pendapat dari orang yang ahli dalam bidangnya. Demokrasi juga secara asas berbeda dengan islam. Demokrasi aturan buatan manusia dan Islam aturan buatan Pencipta yakni Allah. Pertanyaan saya, apakah anda masih melihat demokrasi dengan islam sama?
Teman: itu seh anda terlalu fundamentalis, ekstrem, tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak realistis. Sekarang kan kita sudah bukan jaman nabi lagi. Sekarang apalagi demokrasi menjadi aturan Negara kita.
Penulis: wah…apa itu tidak berlebihan? Ckckc..gini aja deh, kayaknya anda ini tidak bisa berdebat dengan menggunakan dalil qur’an dan sunnah. Anda tadi kan mengatakan demokrasi dengan islam adalah sama saja, Betul?
Teman: betul sekali, anda setuju gak?
Penulis: Tunggu dulu. Baik, kalau begitu, pertanyaan saya, apakah anda keberatan kalau saya mengatakan bahwa tinggalkan saja demokrasimu itu dan pilih sajalah Islam atau apakah anda setuju kalau islam menjadi aturan menggantikan demokrasi, kan sama saja. Gmn?
Teman: wah…tidak boleh begitu dong…
Penulis: lho kok, knp? Bukankah anda tadi mengatakan sama saja. Anda mau naik motor atau unta dari Bandung ke Jakarta kan sama aja. Sama-sama kendaraan, keduanya bisa sampai ke Jakarta. Seharusnya tidak ada keberetan kalau salah satunya dipilih, toh sama saja bukan? Tapi kalau anda menolak Islam untuk diterapkan, wah, jangan-jangan memang demokrasi dengan islam bertentangan neh…hehehe…
Diskusi kami dengan teman tadi berakhir dengan sikapnya yang salah tingkah, nggak bisa ngejawab lagi.
Kesimpulan.
Demokrasi dengan Islam adalah bertentangan secara ushul (pokok/dasar) dan furu’ (cabang). Sehingga, adalah kewajiban bagi ummat islam untuk meninggalkan aturan manusia apapun bentuknya (termasuk demokrasi) dan MEMILIH islam sebagai satu-satunya aturan hidup, pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara.
Wallahu’alam bi as showwab.

2 responses to “PILIH ISLAM ATAU DEMOKRASI?

  1. terlalu gegabah untuk menempatkan dua pilihan antara islam dan demokrasi. itu justru merendahkan islam.

    demokrasi tak sebanding untuk disejajarkan dengan islam karena didalam islam sendiri ada nilai2 demokrasi.

    bukankah islam rahmatan lil alamien???

    • [1]. Demokras
      Dalam Islam syuro tdk sama dgn demokrasi, karena hal yang dimusyawarahkan dalam Islam adalah pada perkara yang tidak ada penunjukkan dalil secara
      khusus, dan yang bermusyawarah adalah para ahlul ‘ilmi (sebagai mana yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam memperlakukan
      tawanan perang badar,saat wahyu tidak/belum turun saat itu, beliau mengajak Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma untuk ber-syuro,padahal disana terdapat juga shahabiyyun jaliil yang lain). Tetapi sekarang kita
      saksikan apa yang terbahas dalam musyawarah dalam sistem demokrasi. Mulai pajak minuman keras,berapa persen yang mau ditarik pajaknya hingga lokalisasi *******,mau ditempatkan di mana… Bukan masalah berapa persen pajak khamr,atau mau ditempatkan dimana lokasi perzinaan ! Tapi khamr dan zina nya sudah haram duluan !! (Bukankah telah shahih dan sharih dalilnya?).
      Kemudian siapa yang menjadi peserta “syuro” nya ?
      (Tak usah ana sebutkan) tapi yang paling ngeri adalah sudah miskin (kalau tak disebut TIDAK ADA) ulama sunnah, malah orang kuffar yang memusuhi Islam dan kaum muslimin !! La ilaha illallah !
      [2]. Islam Rahmatan lil ‘Alamin

      Telah jelas, Tak ada yang meragukannya,selain orang kafir… (Bahkan sebenarnya mungkin orang kafirpun mengakui dalam hatinya bhw Islam adalah rahmat bagi seluruh alam!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s