POTRET BURAM GENERASI DALAM DEMOKRASI

Demokrasi adalah suatu sistem yang tidak asing bagi masyarakat
Indonesia
karena berpuluh tahun kita hidup dalam
naungan demokrasi yang kufur. Bagaimana kondisi negeri ini ketika dinaungi sistem demokrasi? Bagaimana
kondisi generasi negeri ini? tentu kita
akan temukan potret yang buram, kelam bahkan seram. Bagaimana tidak, generasi
kita hari ini dibelenggu oleh narkoba, HIV/AIDS, seks bebas, tawuran,
gaya
hidup yang serba
bebas dan kebarat-baratan. Belum lagi angka kriminalitas, anak-anak yang putus
sekolah, dan anak-anak yang tidak hormat lagi kepada orang tua, dan lain-lain. Pada saat yang sama,umat
pun kehilangan kekuatan dan terancam kehilangan masa depan,dan lost generation.
Penggunaan narkoba semakin hari kian meningkat menurut catatan
WHO, jumlah pemakai narkoba di Indonesia pada tahun 2003mencapai 5 juta orang
.Tingginya pengguna narkoba ini ternyata berdampak pada meningkatnya pengidap
HIV sebagai akibat penggunaan jarum
suntik secara bergiliran di antara para junkies. Sepanjang tahun 2001-2002,
jumlah orang yang terinfeksi virus HIV di Indonesia mengalami peningkatan
hingga 900%( Januari, 2003). Kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tawuran
pelajar pun kerap terjadi. Menurut polda metrojaya di Jakarta, akibat tawuran
pelajar sepanjang tahun 1998 tercatat
korban tewas 15 orang, 34 luka berat, 642 kendaraan rusak, dan 1866 pelajar
ditahan.(catatan kriminalitas remaja polda metrojaya 1998). Kebebasan yang
diusung demokrasi menjadikan generasi
kita akrab dengan seks bebas massal yang menjadi bagian dari lifestyle bahkan prestise bagi para pelakunya. Hidup ala barat menjadi ciri
generasi kita saat ini, lihat saja bagaimana antusiasnya generasi kaum muslimin mengikuti audisi dan kompetisi
AFI, Indonesian idol, KDI, bahkan mereka menggantungkan cita-citanya di
dunia hiburan tanah air. Inilah potret buram generasi kita, generasi umat yang Allah SWT, disifati dengan predikat “khoyru ummah”, umat terbaik, namun
kondisi ini bertentangan dengan realitas generasi saat ini.
Hari ini, generasi Islam tidak
lagi hidup dengan fitrah yang Allah berikan..Mereka hidup dalam system yang
jauh dari nilai-nilai Islam yakni system demokrasi yang menTuhankan kebebasan,
bebas berprilaku, bebas beragama, bebas berpendapat, bebas memiliki. Sistem
hidup yang rusak ini penuh dengan kebathilan yakni ekonomi eksploitatif,
politik oportunitis, social budaya yang permisif dan hedonistik, pendidikan
yang sekularistik. Dan out putnya
sungguh nyata yakni kehancuran generasi dan kerusakan – kerusakan yang
membentuk lingkaran setan.
Jelaslah, bahwa kerusakan ini bersifat sistemis dan berawal dari
system! Hanya saja, bisa jadi bagi
sebagian orang, pernyataan ini dianggap terlalu “berat”, berbau politis,
su’udzan, bahkan mengada-ada. Karena tidak sedikit yang secara sempit menilai
;bahwa persoalan kerusakan generasi hanyalah menyangkut persoalan pendidikan,
ketertinggalan tekhnologi, ekonomi, moral, dan analisa-analisa lain yang
melahirkan berbagai solusi pragmatik dan tidak mengakar.
Ada
pula yang menganggap bahwa rusaknya
generasi adalah karena mereka tidak mau berkaca pada barat, tidak tunduk pada
prinsip-prinsip barat seperti nilai-nilai demokrasi yang penuh dengan kebebasan. Bahkan, ada sebagian lagi yang lebih sempit menilai,
bahwa persoalan-persoalan tadi hanyalah
merupakan persoalan sekelompok masyarakat tertentu yang muncul akibat tidak adanya kesetaraan yang dikukuhkan oleh budaya. Oleh Karena itu harus dihapus dengan mengusung dan
memperjuangkan demokratisasi yang dianggap bisa menjamin kesetaraan dan hak-hak perempuan.
Inilah bukti serangan pemikiran dan
budaya yang dilancarkan dunia barat kepada generasi Islam. Ditambah lagi dengan
serangan politik melalui penerapan sistem demokrasi secara paksa yang menguasai
kehidupan generasi kita sehingga mereka hidup dalam kondisi yang seolah-olah
tak memiliki pilihan lain, bahkan telah membuat generasi kita tak mampu lagi
menerima kenyataan bahwa demokrasi lah akar masalah yang harus dicampakkan.
Jika mereka mampu memahami, namun tidak lagi memiliki kepercayaan diri dan keberanian yang cukup untuk bisa
lepas dari jeratan demokrasi. Wallahu a’lam bi ash-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s