Demokrasi Haram !!!

Hizbut Tahrir menegaskan sikapnya tentang demokrasi dalam sebuah kitab
karya Syaikh Abdul Qadim Zallum yang menyerukan, “Demokrasi adalah sistem
kufur, haram mengambil, menerapkan, dan mempropagandakannya.” (Zallum, 1990).
Mengapa demokrasi kufur? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizb al-Tahrir
(2005) dijelaskan, demokrasi itu kufur bukan karena konsepnya bahwa rakyat
menjadi sumber kekuasaan, melainkan karena konsepnya bahwa manusia berhak
membuat hukum (kedaulatan di tangan rakyat).
Kekufuran demokrasi dari segi konsep kedaulatan tersebut sangat jelas, sebab
menurut Aqidah Islam, yang berhak membuat hukum hanya Allah SWT, bukan
manusia. Firman Allah SWT (artinya) :
“Menetapkan hukum hanyalah hak Allah.” (QS Al-An#8217;aam : 57)
Itulah titik kritis dalam demokrasi yang sungguh bertentangan secara
frontal dengan Islam. Pada titik itulah, demokrasi disebut sebagai
sistem kufur. Sebab sudah jelas, memberi hak kepada manusia untuk
membuat hukum adalah suatu kekufuran.
Firman Allah SWT (artinya) :
“Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS Al-Maa`idah : 44)
Abdul Qadim Zallum (1990) menjelaskan adanya kontradiksi-kontradiksi lain
antara demokrasi dan Islam. Antara lain :
a. Dari segi sumber : demokrasi berasal dari manusia dan merupakan produk akal
manusia. Sedang Islam, berasal dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan-
Nya kepada Rasul-Nya Muhammad SAW.
b. Dari segi asas : demokrasi asasnya adalah sekularisme (pemisahan agama
dari kehidupan). Sedang Islam asasnya Aqidah Islamiyah yang mewajibkan
menerapkan Syariah Islam dalam segala bidang kehidupan (QS 2:208).
c. Dari segi standar pengambilan pendapat : demokrasi menggunakan
standar mayoritas. Sedangkan Islam, standar yang dipakai tergantung materi
yang dibahas. Rinciannya : (1) jika materinya menyangkut status hukum
syariah, standarnya adalah dalil syariah terkuat, bukan suara mayoritas; (2) jika materinya menyangkut aspek-aspek teknis dari suatu aktivitas, standarnya suara
mayoritas; (3) jika materinya menyangkut aspek-aspek yang memerlukan
keahlian, standarnya adalah pendapat yang paling tepat, bukan suara
mayoritas.
d. Dari segi ide kebebasan : demokrasi menyerukan 4 jenis kebebasan (al-hurriyat), di mana arti kebebasan adalah tidak adanya keterikatan dengan sesuatu apa pun pada saat melakukan aktivitas (#8216;adam al-taqayyud bi syai`in #8216;inda al-qiyaam bi al-#8216;amal) (Zallum, Kaifa Hudimat al-Khilafah, 1986).
Sedang Islam, tidak mengakui kebebasan dalam pengertian Barat. Sebaliknya,
Islam mewajibkan keterikatan dengan syariah Islam, sebab pada asalnya,
perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum-hukum Syariah Islam (al-ashlu fi
al-af#8217;aal al-taqayyud bi al-hukm al-syar#8217;i).
Dengan adanya kontradiksi yang dalam antara demokrasi dan Syariah Islam
itulah, Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya al-Dimuqrathiyyah Nizham Kufr
(1990) menegaskan tanpa ragu-ragu :
“Demokrasi yang telah dijajakan Barat yang kafir ke negeri-negeri Islam,
sesungguhnya merupakan sistem kufur, tidak ada hubungannya degan Islam sama
sekali, baik secara langsung maupun tidak langsung. Demokrasi sangat
bertentangan dengan hukum-hukum Islam, baik secara garis besar maupun secara
rinci#8230;Oleh karena itu, kaum muslimin diharamkan secara mutlak untuk
mengambil, menerapkan, dan menyebarluaskan demokrasi.”
makeURL(“(Sumber: http://www.khilafah1924.org)”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”); (Sumber: http://www.khilafah1924.org)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s