Realistis Terhadap Fakta Demokras

“Tidak ada yang memperdebatkan Ayat – ayat Allah, kecuali orang yang kafir” Al Mu’min : 4

MITOS DEMOKRASI
Ada saat dimana Allah menguji kita dengan kemiskinan, atau mungkin saat di mana tidak kau dapati sekerat rotipun di rumahmu. Sering pada saat itu kita seperti melihat gemerlap dunia membuai dalam rayuan “Ayolah ambillah realitas ini, tidak ada salahnya sesekali mengalah toh kamu tetap terlabel Islam dengan atau tanpa kontain di dalam label itu”. Begitu mungkin pernyataan pernyataan mereka yang di urat nadi dan pembuluh darahnya telah ‘menghalalkan’ mitos dari bid’ah besar demokrasi dalam aqidah islam mereka.

Ya persis seperti kisah nyata dari seorang sahabat yang mencoba menasehati sahabatnya. “Sudahlah akhi, ideologis itu baik, namun realistis itu juga tidak kalah penting, demokrasi adalah keniscayaan, kita harus merebut kekuasaan agar dakwah kita menjadi kuat”

“Maaf kawan, realistis yang kamu maksud itu pragmatis, karena realistis bagi saya adalah tegar di tengah badai, karena saya sangat realistis dengan keyakinan saya jika Allah dapat memberikan makan burung – burung maka tak mungkin Ia menelantarkan orang – orang yang berpegang teguh di jalan dan tidak merendahkan SyariatNya untuk di voting sejajar dengan hukum Kafir” Jawab sahabat yang satu lagi.
“Tidakkah kau perhatikan orang – orang yang telah menukar ni’mat (perintah dan ajaran -ajaran) Allah dengan kekafiran Dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam : mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk buruknya tempat kediaman” Ibrahim : 28 – 29
Kadang mendengar gumaman retorika dari setiap halaqoh pengajian hingga perdebatan demokrasi warung kopi memang tidak ada habisnya. Bahkan tidak aneh juga di zaman ketika Syuro berarti DPR yang salah satu isinya adalah kafirun dari partai damai sejahtera, dan lusinan makhluk sosialis opportunis sejenis Budiman Sudjatmiko bisa duduk sejajar dengan ustad – ustad berlabel LC, MA dan sejenisnya untuk menggarap sebuah hukum final dibawah naungan patung baru Latta dan Uzza bernama Pancasila.
“Katakanlah: ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang – orang yang lebih buruk pembalasannya, dari (orang -orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang – orang yang di kutuki dan dimurkai Allah diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan orang – orang yang menyembah Thagut?’. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. Al Maaidah : 60
Yang bahkan hukum itu jauh lebih berharga dari Al Quran dan As Sunnah. Seberharga berbahayanya Poligami dan carut marutnya orisinalitas undang – undang anti pornografi dan pornoaksi. Seperti ‘Semengerikannya’ Dua Istri Aa Gym hingga Poligami Shaikh Puji daripada menghabisi lusinan diskotik yang menghalalkan pelacuran, sepelacur gangster Islam Liberal yang berkoalisi dengan Ahmadiyah. Menelanjangi wajah toleransi diatas nama nasionalisme yang hari ini masih eksis menjadi ‘lebih halal’ dari perlawanan Nahi Munkar Front Pembela Islam di setiap tempat kemaksiatan yang di babatnya, namun FPI selalu saja disebut biang kekerasan, organisasi rendahan, dan tetek bengeknya, yang tidak kalah menyedihkannya pendapat itu juga sering terlontar tidak sedikit dari para kader – kader partai Islam. Atas nama eleganitas, kearifan, dan retorika lainnya. Maka yakinlah :

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanya berdusta (terhadap Allah)” Al An’aam : 116
ISLAM ITU REALISTIS, TAPI REALISTIS TIDAK SELALU ISLAM
Ya hari ini kita memang tidak perlu bicara lagi tentang Ideologi, Sejak Hidayat Nur Wahid menyolati legenda Abdullah Bin Ubay Nurcolish Madjid sambil mengharamkan Golput dan duduk bersama Ruyandi Hutasoit, lalu orang sekaliber Din Syamsudinpun pernah berdoa bersama dalam sebuah perayaan natal. Maka jika demokrasi adalah kendaraan menegakkan Syariat Islam, ketahuilah tak ada Syariat Islam yang berdiri dari voting suara – suara manusia. Apalagi jika diantara manusia tersebut terdapat golongan yang tidak beriman kepada Allah Swt dan Rasulullah SAW, dan itulah Dewan Perwakilan Rakyat!
Bagaimana mungkin keridhoan dan keberkahan Allah Swt datang atas negeri jika pada hari dimana pemungutan suara dilakukaan diseantero negeri, para panitianya lebih sibuk menghitung lembaran suara pemilu daripada berangkat ke masjid tepat waktu untuk menunaikan sholat fardhu. Bayangkan berapa banyak pada hari pemungutan suara orang -orang lebih memilih duduk duduk menyaksikan proses pemilu dan mengurusnya berwaktu – waktu di TPS – TPS menjadi lebih menarik daripada menjawab suara adzan ketika waktu sholat dzuhur, ashar, maghrib bahkan Isya untuk segera ke berangkat sholat berjamaah di Masjid.
Namun ternyata di masa pemilu thagut ini, kita tidak hanya menemukan dosen yang meninggalkan mahasiswanya, melalaikan kewajiban mengajar demi kampanye, namun kita juga menemukan begitu rendahnya Syariat Allah dibandingkan sebuah pesta thagut bernama demokrasi. Ya…kalaupun ada yang menghargai Adzan ia hanya beristirahat untuk membiarkan suara adzan berkumandang lalu mengumumkan bahwa waktunya istirahat karena sudah masuk Ashar, namun itu tidak menjamin bahwa mereka menegakkan sholat tersebut, kecuali mereka hanya bersantai – santai di pos TPS tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s