Menarik sekali membaca dua tulisan dalam wacana publik Radar Banten (5/1) tentang demokrasi yang disampaikan oleh Kacung Marijan dan Yuanita Utami. Keterkaitan antara demokrasi dan kesejahteraan serta proses ‘pembelajaran’ masyarakat Indonesia dalam memahami dan menerapkan demokrasi memang kajian yang cukup menggelitik. Namun bagi saya, patut dikritisi.
Sudah 3 tahun ini saya belajar tentang demokrasi, menghayati dan mencoba memahami, Melihat fakta, juga melakukan beberapa riset kecil. Namun dalam proses pembelajaran tersebut, hanya satu kesimpulan saya tentang demokrasi, “demokrasi hanya ilusi”! persis seperti apa yang dituliskan Zaim Saidi dalam bukunya “Ilusi Demokrasi”. Bagi saya, kesenjangan teori dan fakta tentang demokrasi sangat jauh, juga ada ranah di mana demokrasi menjadi sesuatu yang dipaksakan dan menjadi wajib. Seolah-olah, jika ada orang yang tidak memilih demokrasi, maka orang tersebut berdosa dan tidak waras. Dan tidak harus tidak, orang tersebut harus menerima demokrasi. Contoh: Irak.
Absurditas Demokrasi
Pertama, jauh-jauh hari sebelumnya Plato (429 – 347SM) memang tidak yakin dengan konsep demokrasi yang dicetuskannya. Bahkan ia mewanti-wanti bahwa demokrasi memiliki banyak sekali sisi lemah yang cukup membahayakan. -dengan kata lain bukan sebuah sistem sempurna yang baik bila diterapkan-. Plato menyebutkan empat kelemahan demokrasi, diantaranya pemimpin biasanya dipilih dan diikuti karena faktor-faktor nonesensial seperti kepintaran pidato, kekayaan, dan latar belakang keluarga. Plato memimpikan munculnya “orang-orang paling bijak” sebagai pemimpin ideal di suatu negara. Orang-orang paling bijak dalam sesuatu akan menangani persoalan manusia dengan akal dan kearifan yang dihasilkan dari dunia gagasan yang kekal dan sempurna.
Penyair terkenal Muhammad Iqbal juga sering melontarkan kritik terhadap konsep pemerintahan yang menyerahkan keputusannya kepada massa yang berpikiran rendah. Kata Iqbal, bagaimanapun para semut tidak akan mampu melampaui kepintaran seorang Sulaiman. Ia mengajak meninggalkan metode demokrasi sebab pemikiran manusia tidak akan keluar dari 200 keledai.
Kedua, demokrasi adalah pemerintahan dengan kedaulatan rakyat (Abraham lincolin). Berbicara tentang kedaulatan rakyat, maka hari ini kita tidak akan menemukan satu negara pun yang memang ideal dalam menerapkan demokrasi atau istilah lainnya ‘nurut sama rakyat’. Amerika serikat, sebagai pengusung dan punggawa utama demokrasi apakah pernah mendengar jutaan rakyatnya menjerit agar menghentikan perang di Irak dan Afghanistan? Apakah Malaysia tetap membiarkan kelompok oposisi untuk berdemonstrasi dengan tenang dalam menolak berbagai kebijakan dalam negeri Malaysia saat ini. Apakah Indonesia pun mendengar rakyaknya menjerit menolak kenaikan BBM yang begitu fantastis pada 2005 yang lalu (semoga tidak naik lagi untuk kedepan). Apakah Inggris, Australia dan Prancis? Saya katakan tidak!
Bahkan PBB pun sebagai lembaga perdamaian dunia menerapkan aristokratik sejak awal (24 Oktober 1945) dalam lembaganya, yaitu di mana kekuasaan PBB hanya diberikan kepada beberapa buah negara yang dikenal sebagai “The Big Five” (AS, Rusia, Prancis, Inggris, Cina). Kelima negara inilah yang mendapatkan hak istimewa berupa hak ‘Veto’ (dari bahasa latin, veto’ artinya saya melarang). Lima negara ini merupakan anggota tetap dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB. Sisanya, 10 negara, dipilih setiap dua tahun oleh Majelis Umum PBB.
Ketiga, demokrasi adalah kebebasan. Seperti yang dikatakan Huntington dalam bukunya The Third Wave of Democratization, ‘jika anda menginginkan demokratisasi, maka perjuangkanlah kebebasan individu’.
Menurut guru saya, (ketika itu kami sedang kuliah dasar ilmu politik), demokrasi merupakan salah satu cabang dari dua cabang yang dihasilkan oleh liberalisme. Saudaranya dari cabangnya itu tidak lain adalah kapitalisme. Artinya, ada kaitan yang sangat erat antara kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi. Demokrasi tanpa kapitalisme adalah mustahil dan liberalisme tanpa kapitalisme juga adalah sesuatu yang tidak masuk akal begitupun sebaliknya. dan hal ini faktanya memang sedang terjadi.
Dan hari ini pula, atas nama demokrasi seluruh kekayaan alam di tanah air kita boleh dikeruk dan dimiliki oleh asing. Mengapa? Ya karena prasyarat demokrasi tadi tentang kebebasan; kita sangat menjunjung tinggi kebebasan seseorang dalam berkepemilikan. Seseorang atau badan boleh saja memiliki segala sesuatu yang ada di Indonesia, selagi mereka punya duit
Konteks dalam pilkada atau dalam hal lain sebagainya, saya pun sependapat bahwa rakyat semakin cerdas. Tapi selain itu, rakyat juga semakin tidak percaya dengan pemimpinnya. terbukti dengan survey dari LSI yang mengatakan bahwa 50% lebih ternyata rakyat Indonesia memilih abstain dalam pilkada. Dan juga tidak ada bukti bahwa memilih atau tidak memilihnya rakyat pada satu pilihan menjadi hukuman bagi penguasa yang tidak memiliki performance yang bagus.
Semua hal ini membuktikan kepada kita semua bahwa demokrasi merupakan hal yang semu, utopis dan hanya menjadi alat dari kapitalisme untuk mencengkramkan ideologi sedalam-dalamnya. Karena demokrasi tidak hanya berbicara sekedar transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, dsb. Demokrasi juga tidak hanya berbicara masalah pilihan rakyat. Demokrasi merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem besar di dunia yang saat ini mengintip dan mengancam kebudayaan serta sumber daya alam di Indonesia, yaitu kapitalisme.
-
Cari itu!
-
Entri Terkini
- ILUSI DEMOKRASI
- Presiden Turki Sandingkan Islam dan Demokrasi
- Catatan Lengkap Kesimpulan FKM atas Debat dengan Ulil
- Forum Ulama Muda NU: Pemikiran JIL Membatalkan Otoritas Ulama Salaf
- Maksiat Hadir Kembali di Kota Padang
- Mufti Mesir Meminta Ikhwan Beralih Menjadi Organisasi Sosial atau Partai Sekuler
- Syaikh Al-Azhar Memaksa Mahasiswi Untuk Melepas Cadarnya Dan Berencana Melarangnya di Al-Azhar
- BERHARAP PADA DPR BARU?
- Delapan Tentara AS Tewas Dalam Dua Serangan Di Sebelah Timur Afghanistan
- Penguasa Barat Menjilati Ludah Demokrasi Mereka Demi Mendukung Entitas Monster Yahudi
-
Tautan

Gempa 7,6 skala Richter ternyata tak membuat jera sebagian warga Padang untuk melanjutkan kemaksiatannya. Sepuluh hari sesudah gempa di Kota Padang, kemaksiatan terlihat kembali di pantai Padang. Muda-mudi kembali berdua-duaan di pinggir laut tersebut.
Wulan, seorang penjual jagung bakar ketika ditanya pendapatnya tentang gempa 10 hari yang lewat dia menjawab masyarakat pinggir pantai trauma akan gempa tersebut. ”Ini peringatan dari Tuhan,” katanya. Tetapi ketika ditanya apakah tidak takut akan ada gempa lagi karena membiarkan orang-orang bermaksiat di pinggir pantai, dia menjawab, ”Mungkin orang-orang tidak takut. Yang penting kan cari uang.”. Dari pantauan HTI press, walaupun azan maghrib sudah berkumandang, banyak pasangan muda-mudi yang tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Sementara di Jembatan Siti Nurbaya, tempat itu penuh dengan muda-mudi yang nongkrong menjelang malam. Kondisi ini tak berbeda keadaannya dengan sebelum terjadinya gempa tanggal 30 september yang lalu. Sepertinya gempa 7,6 skala Richter belum cukup untuk menghentikan maksiat di Kota Padang.
Mufti Republik Mesir, Dr Ali Jam’ah meminta Jamaah Ikhwanul Muslimin untuk berubah, baik menjadi organisasi sosial dengan fokus pada berbagai kegiatan sosial, atau menjadi sebuah partai politik yang tidak berdasarkan agama (sekuler). Dia menegaskan bahwa kebanyakan rakyat Mesir melihat bahwa selama ini Jamaah Ikhwanul Muslimin senantiasa mengeksploitasi dan menggunakan agama untuk mencapai parlemen dan mempengaruhi berbagai asosiasi.
MediaUmat- Grand Syaikh Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi memaksa seorang mahasiswi bercadar semester II kelas persiapan agar melepas cadarnya, sebab menurutnya “itu hanya adat (kebiasaan), bukan ibadah”. Bahkan ini menegaskan niatnya untuk mengeluarkan keputusan resmi tentang larangan masuknya para perempuan bercadar di semua institut Al-Azhar.